kereta api donetskDonetsk, LiputanIslam.com — Sebanyak 196 mayat korban pesawat Malaysia Airlines MH-17 yang jatuh di Donetsk, Ukraina timur, diangkut dengan kereta api berpendingin ke tempat tujuan yang tidak diketahui. Demikian laporan kantor berita BBC, Minggu (20/7).

Dipastikan 298 penumpang dan awak pesawat MH-17 tewas akibat tembakan rudal yang mengakibatkan pesawat meledak di udara dan jatuh, hari Kamis lalu (17/7).

BBC melaporkan, polisi anti-huruhara kini menjaga dengan ketat lokasi kecelakaan setelah sebelumnya orang-orang yang tidak berdisiplin menguasai wilayah tersebut. Namun masih belum ada jaminan kebebasan akses bagi tim penyelidik internasional di lokasi tersebut.

BBC juga melaporkan, para pekerja sukarela lokal telah mengacak-acak lokasi dengan dalih menentukan benda-benda milik korban dan mayat-mayat atau serpihan tubuh yang diperlukan bagi petugas darurat. Namun hal ini dikhawatirkan telah merusak barang-barang bukti yang diperlukan bagi penyelidikan.

Sementara itu diperkirakan, pemberontak yang menguasai wilayah jatuhnya pesawat, lebih memikirkan aspek keamanan bagi mereka sendiri di tengah konflik dengan militer Ukraina, dibandingkan memperhatikan seruan internasional bagi diberikannya akses penuh bagi penyidik internasional.

Deputi PM Ukraina Volodymyr Groysman menyebutkan bahwa pihaknya tengah bernegosiasi dengan pemberontak untuk membiarkan kereta api meninggalkan wilayah yang dikuasai pemberontak.

Kereta pengangkut barang dengan 5 gerbong berpendingan yang digembok berisi mayat-mayat korban telah berada di stasiun Torez, 15 km dari lokasi kecelakaan.

BBC melaporkan dari tempat tersebut, ada bukti kuat berupa bau yang menyengat yang mengindikasikan adanya mayat-mayat di dalam gerbong-gerbong tersebut.

Seorang pejabat organisasi keamanan dan kerjasama Eropa (OSCE) dalam akun twitter-nya menyebutkan bahwa pihaknya mendapat informasi sebanyak 196 mayat berada di dalam gerbong-gerbong di stasiun Torez.

Sebuah tim OSCE telah diijinkan memeriksa secara terbatas keberadaan mayat-mayat itu. Namun mereka tidak mengetahui ke mana tujuan mayat-mayat itu dibawa.

Pemerintah dan pemberontak Ukraina saling menuduh sebagai pelaku penembakan rudal terhadap pesawat MH-17 yang terbang dari Amsterdam menuju Kualalumpur. Pemberontak separatis berdalih tidak memiliki rudal anti-pesawat yang bisa menembak hingga ketinggian 10 km. Namun pemerintah Ukraina dan negara-negara barat menuduh pemberontak memiliki senjata tersebut, dan kini tengah berusaha menyembunyikan senjata-senjata itu dengan mengirimnya ke Rusia.

Sementara seorang pejabat Rusia menuduh Ukraina memiliki setidaknya satu sistem rudal BUK-M1 dengan 27 peluncur di wilayah Donetsk.

Sementara itu dalam insiden terpisah media Inggris Sky News menyatakan permohonan ma’af kepada publik karena seorang reporternya melakukan tindakan ilegal berupa penggeledahan atas sebuah tas milik korban kecelakaan.

Di sisi lain pertempuran masih berkecamuk di di berbagai wilayah Donetsk dan Luhansk yang memisahkan diri.

Menlu AS John Kerry mengatakan, Minggu (20/7) bahwa pihaknya memiliki bukti kuat bahwa Rusia telah mengirimkan sebuah sistem pertahanan udara yang diyakini telah menjatuhkan pesawat MH-17.

Sementara Ukraine kembali merilis rekaman pembicaraan lain antara pemberontak dengan otoritas Rusia yang diperoleh dari penyadapan. Dalam rekaman tersebut disebutkan Rusia telah memerintahkan pemberontak separatis untuk tidak menyerahkana kotak hitam kepada penyidik internasional. Namun sejauh ini rekaman tersebut belum dibisa dijamin keasliannya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL