teror tunisiaTunis, LiputanIslam.com — 17 wisatawan dari Polandia, Italia, Jerman dan Spanyol tewas dalam serangan sekelompok pria bersenjata di sebuah museum di ibu kota negara Tunisia, Tunis, hari Rabu (18/3).

Perdana Menteri Habib Essid mengatakan kepada wartawan bahwa ke-17 wisatawan itu merupakan bagian dari total 19 korban tewas dalam serangan teroris. Televisi pemerintah mengatakan dua pelaku dan seorang polisi juga tewas dalam peristiwa tersebut. Selain itu lebih dari 40 orang terluka dalam peristiwa itu.

Aksi teror tersebut telah berhenti, namun aparat keamanan masih mencari sisa pelaku serangan yang masih belum tertangkap.

Terkait dengan peristiwa itu Presiden Beji Caid Essebsi  menyerukan perang melawan terorisme

“Kelompok minoritas yang berbahaya itu tidak bisa menakut-nakuti kita. Kita akan melawan mereka tanpa ampun hingga mereka benar-benar lenyap,” kata Essebsi seperti dilansir BBC, Rabu petang (18/3).

“Demokrasi akan menang dan hidup,” tambahnya.

Sementara Habib Essid mengatakan: “Ini adalah masa kitis dalam sejarah kita, dan peristiwa yang menentukan masa depan kita.”

Pada saat terjadinya serangan itu parlemen negara itu tengah bersidang tentang undang-undang anti-terorisme. Karena peristiwa itu para anggota parlemen pun  dievakuasi, namun malam harinya kembali bersidang.

Pada tahun 2002, 19 orang termasuk 11 turis Jerman tewas dalam serangan bom di sebuah sinagog (rumah ibadah yahudi) di resort Djerba. Al-Qaeda mengaku sebagai pelaku serangan.

BBC menyebut serangan ini menjadi pukulan telak bagi pariwisata dan pemerintahan Tunisia yang tengah menjalani masa transisi paska “Arab Spring” yang menjungkalkan kekuasaan diktator Ben Ali tahun 2010. Kelompok-kelompok militan berusaha menggagalkan proses demokrasi.

Sedangkan pariwisata merupakan sektor strategis bagi Tunisia yang mengandalkan sektor ini bagi pendapatan nasionalnya.

Di sisi lain, keamanan menjadi isu krusial di negara itu di tengah-tengah perkembangan politik kawasan yang tidak stabil dimana Libya, negara tetangga terdekat, masih terlibat konflik bersenjata intensif, dan para mantan “mujahidin” Suriah kembali ke negara itu membawa faham radikal.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*