comfort-women_gettySeoul, LiputanIslam.com — Lebih dari 120 bekas pekerja seks di pangkalan militer AS di Korea Selata (Korsel) menuntut kompensasi kepada pemerintah yang dianggap telah mendorong mereka menjalani pekerjaan yang tidak terhormat itu.

Sebagaimana dilaporkan BBC News, Sabtu (29/11), wanita-wanita yang sudah lanjut usia itu menuduh pemerintah telah secara aktif memfasilitasi mereka sebagai pekerja seks, namun tidak memberikan perhatian yang cukup sehingga mereka harus menjalani  kemiskinan di usia lanjutnya.

Wanita-wanita itu menuntut kompensasi sebesar $10.000 atau sekitar Rp 120 juta per-orang. Alasan mereka, pemerintah telah mendorong mereka menjadi pelacur demi membuat para tentara AS senang.

“Kami bekerja sepanjang malam. Apa yang kami inginkan sekarang adalah bahwa pemerintah Korsel mengakui bahwa kami adalah korban dari sistem yang mereka ciptakan, dan juga kompensasi,” kata seorang dari wanita itu, yang berkumpul di sebuah pusat kegiatan warga di dekat pangkalan militer AS di kota Uijeongbu.

Menurut mereka, pemerintah telah memberikan berbagai fasilitas untuk mendukung pekerjaan mereka sebagai pekerja seks, mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga pelajaran etika barat dan bahasa Inggris.

Menurut para wanita itu, mereka terpaksa bekerja menjadi pekerja seks karena berasal dari keluarga dan negara yang miskin. Mereka melamar pekerjaan namun ternyata harus berada di bar-bar dan rumah bordil. Terjerat hutang, mereka pun terperangkap dalam dunia prostitusi.

Saat ini pemerintah belum berkomentar atas tuntutan tersebut, namun cepat atau lambat harus mempertahankan diri jika kasusnya sampai di pengadilan.

“Saya rasa kesalahan pemerintah adalah bahwa pada tahun 1970-an beberapa pejabat Korea (Selatan) membujuk wanita-wanita itu untuk bekerjasama dengan militer AS,” kata Dr Kathy Moon dari Brookings Institution, penulis buku “Sex Among Allies” tentang hubungan militer AS dengan dunia prostitusi di Korea.

“Tujuannya adalah membuat pasukan AS senang dan tetap tinggal, karena adanya ancaman bahwa pasukan AS akan menarik diri,” tambahnya.

Tentang keberadaan klinik-klinik kesehatan bagi para wanita itu, Moon mengatakan, bahwa fasilitas itu sebenarnya ditujukan untuk menjaga kesehatan pasukan AS, bukan para wanita itu. Para tenaga medis tersebut bahkan tidak peduli pada kesehatan para wanaita itu melainkan hanya pada kesehatan seksual mereka.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL