-Brussels, LiputanIslam.com — Sebanyak 118 wartawan dan awak media tewas dalam tugas di seluruh dunia sepanjang tahun 2014 lalu, dengan Pakistan dan Suriah menjadi negara paling mematikan bagi para wartawan. Demikian keterangan Federasi Wartawan Internasional (IFJ) di Brussels, Rabu (31/12).

IFJ menyatakan jumlah wartawan yang tewas itu lebih banyak dibandingkan tahun 2013 yang berjumlah 105 orang. Sebagian besar dari mereka tewas karena pekerjaan atau terperangkap dalam bakutembak, sementara 17 lagi tewas dalam kecelakaan atau bencana saat bertugas. Badan itu kembali menyerukan kepada para pemerintah untuk mengutamakan perlindungan wartawan.

Wartawan yang menjadi sasaran, bukan hanya untuk membatasi aliran bebas informasi, tapi semakin sebagai alat untuk mendapatkan tebusan besar dan konsesi politik melalui kekerasan, kata ketua IFJ Jim Boumelha kepada wartawan.

Wartawan Australia Peter Greste dan dua rekannya dari jaringan televisi Al-Jazeera Mohamed Fahmy (warga Kanada keturunan Mesir) dan warga Mesir Baher Mohamed dihukum penjara tujuh tahun pada Juni karena dituduh mencemarkan nama baik Mesir dan membantu kelompok militan terlarang.

Ia menyatakan beberapa lembaga media sekarang waspada dalam mengirim wartawan ke daerah perang atau bahkan menggunakan bahan dari petugas lepas di sana, memperingatkan bahwa liputan perang akan kian miskin karena kurang saksi mandiri, kecuali keselamatan media ditingkatkan.

Pakistan adalah negara paling mematikan dengan 14 wartawan tewas, diikuti 12 tewas di Suriah dan masing-masing sembilan di Afghanistan dan Palestina. Di antara yang tewas pada tahun ini adalah wartawan AFP Sardar Ahmad, 40, yang ditembak mati pada Maret ketika pejuang Taliban menyerbu hotel di ibukota Afghanistan, Kabul. Ia meninggal bersama istrinya dan dua dari tiga anaknya.

Masing-masing delapan wartawan tewas di Irak dan Ukraina, sementara enam tewas di Honduras dan lima di Meksiko.

IFJ menyatakan pengayauan wartawan di depan umum, termasuk petugas lepas Amerika Serikat James Foley dan Steven Sotloff, oleh kelompok keras Negara Islam adalah “perubahan permainan dalam sikap pemerintah untuk proyeksi media”.

Angka IFJ itu, yang meliputi penyaji dan petugas lain, seperti, sopir media tersebut, jauh lebih tinggi daripada yang diberikan Panitia Perlindungan Wartawan, yang sepekan lalu menyatakan 60 wartawan tewas pada tahun ini.

Pengamat lain dari kelompok Wartawan Tanpa Perbatasan pada 16 Desember menyatakan 66 wartawan tewas pada 2014, demikian AFP.(ca/ant)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*