demo burkina fasoOuagadougou, LiputanIslam.com — Situasi di Burkina Faso semakin memanas setelah terjadinya kudeta oleh pasukan pengawal presiden. Sejumlah laporan menyebut lebih dari 10 orang tewas tertembak dalam aksi demonstrasi menentang kudeta di ibukota Ouagadougou.

Setelah menahan Presiden Michel Kafando dan Perdana Menteri Isaac Zida, serta  sejumlah pejabat tinggi di istana kepresidenan, pasukan pengawal presiden kemudian menunjuk seorang pendukung mantan presiden Blaise Compaore sebagai pemimpin sementara. Sementara itu pemerintah AS, Perancis dan Uni Afrika mengutuk keras aksi kudeta di negara bekas koloni Perancis itu.

Mengutip keterangan kelompok HAM setempat, Balai Citoyen, BBC News melaporkan Kamis petang (17/9) bahwa demonstran yang tewas mengalami luka tembakan yang dilakukan oleh pasukan pengawal presiden. Sebuah sumber di rumah sakit utama di ibukota menyebutkan tiga orang meninggal. Sementara itu sejumlah orang juga telah ditahan pelaku kudeta.

Kantor berita AFP melaporkan pemimpin kudeta telah memerintahkan jam malam di seluruh negeri dan penutupan perbatasan. Dalam perkembangan lainnya markas partai Congress for Democracy and Progress (CDP) pimpinan Compaore di Ouagadougou telah dijarah massa penentang kudeta.

Uni Afrika dan Ecowas (organisasi kerjasama ekonomi Afrika Barat) menyerukan pembebasan presiden dan para pejabat yang ditahan sejak hari Rabu lalu. Presiden Michel Kafando memimpin Burkina Faso paska tumbangnya Blaise Compaore oleh aksi massa tahun lalu, setelah berkuasa selama 27 tahun. Ia tengah mempersiapkan pemilu demokratis bulan depan yang tidak boleh diikuti oleh Compaore dan partai pendukungnya, CDP.

Compaore sendiri tinggal dalam persembunyian, namun ia masih berpengaruh besar di kalangan militer terutama pasukan pengawal kepresidenan.

Dalam pernyataan setelah kudeta, pemimpin pasukan pengawal kepresidenan mengumumkan pembentukan pemerintahan sementara yang dipimpin oleh Jendral Gilbert Diendere, seorang pendukung setia Compaore. Kepada sebuah media Jendral Gilbert mengatakan dirinya tidak memiliki kontak lagi dengan Campaore dan ia akan melakukan apapun untuk ‘menghindari kekerasan yang bisa mengantarkan negara ke kekacauan’.

Di sisi lain Ketua Parlemen Cheriff Sy menyerukan kepada rakyat untuk bangkit melawan kudeta dan mendeklarasikan diri sebagai pemimpin sementara.

Pasukan pengawal presiden, RSP, merupakan satuan militer paling solid dan profesional di Burkina Faso meski jumlahnya relatif kecil kurang dari 1.500 personil. Dilatih oleh pasukan Amerika, pasukan ini memiliki kedekatan dengan mantan diktator Compaore. Pasukan ini kerap melakukan aksi-aksi yang dianggap menghambat proses transisi politik di Burkina Faso sehingga pada awal minggu ini Komisi Rekonsiliasi mengeluarkan rekomendasi pembubaran RSP.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL