turis eropa di nepalKathmandu, LiputanIslam.com — Sekitar 1.000 orang warga negara-negara Uni Eropa dinyatakan masih belum diketahui nasibnya paska terjadinya gempa bumi yang terjadi akhir pekan lalu. Sementara itu jumlah korban yang tewas akibat bencana itu telah melampaui angka 6.000 orang.

Seorang pejabat Uni Eropa, seperti dilansir BBC News, Sabtu (2/4), mengatakan bahwa kemungkinan besar warga Eropa yang hilang itu berada di sekitar jalur pendakian Gunung Everest atau berada di wilayah Langtang yang terpencil. Sebagian di antara mereka diperkirakan masih hidup, namun terisolir dari bantuan.

Nasib ribuan warga Nepal di wilayah-wilayah terpencil juga masih belum diketahui pasti.

Menteri Informasi Minendra Rijal mengatakan kepada BBC bahwa yang dibutuhkan sekarang adalah aksi nyata, bukan sekedar seminar dan workshop.

“Seminar dan workshop mungkin tidak lagi berguna dalam menangani krisis ini,” katanya.

Di Lapangan Durbar yang terkenal di Kathmandu, tentara, relawan hingga turis asing yang tengah berada di sana membentuk barisan untuk menyingkirkan reruntuhan batu bata gedung-gedung bersejarah, satu demi satu. Batu-batu bata itu akan dipergunakan lagi dalam perbaikan gedung-gedung itu.

Sampai saat ini jumlah korban yang tewas telah mencapai 6.000 jiwa, namun pemerintah Nepal mengatakan korban sebenarnya kemungkinan akan mencapai 10.000 orang, setelah kondisi di wilayah-wilayah terpencil diketahui.

Sementara itu hampir 14.000 orang terluka musibah ini, sementara mereka yang selamat masih harus mendapatkan bantuan kemanusiaan.

Sejauh ini sudah 14 warga Uni Eropa yang tengah mendaki gunung Everest tewas akibat salju longsor yang terpicu oleh gempa bumi. Namun sekitar 1.000 warga Uni Eropa lainnya masih belum diketahui nasibnya.

“Mereka hilang dan kami tidak mengetahui nasibnya saat ini,” kata pejabat utusan Uni Eropa di Nepal kepada BBC News. Namun pejabat Uni Eropa lainnya di Nepal lain memperkirakan sebagian besar dari mereka dalam kondisi selamat.

Gempa bumi 7,8 skala Richter hari Sabtu (25/4) ini terjadi pada musim pendakian pegunungan Himalaya dimana ribuan pendaki gunung dari berbagai negara berkumpul di sekitar Gunung Everest dan beberapa gunung lainnya. Namun sebagian besar dari para pendaki tersebut tidak mendaftarkan dirinya di kedubes negara mereka masing-masing.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL