Fahmi Salsabila, M.Si*

fahmi-Ukraina bergolak. Sudah pasti, Amerika memiliki peran besar di sini. Indikasinya sangat jelas, pernyataan pejabat Amerika sendiri. Asisten Menteri Luar Negeri Amerika, Victoria Nuland dalam pertemuan Nasional Press Club bulan Desember 2013 lalu, mengatakan bahwa Amerika telah menginvestasikan $5 milyar untuk “mengorganisir jaringan guna memuluskan tujuan Amerika di Ukraina” selain untuk memberikan “masa depan yang layak bagi Ukraina.”  Yang dimaksud Nuland dengan “masa depan yang layak bagi Ukraina” adalah masuknya negara itu bawah kekuasaan Uni Eropa, agar dapat dijarah seperti yang telah mereka lakukan terhadap Latvia dan Yunani, serta untuk menjadikan Ukraina sebagai tempat pangkalan rudal AS melawan Rusia (LiputanIslam.com, 21/2).

Salah satu sikap politik internasional Amerika yang terlihat gamblang adalah, ia tak akan membiarkan kekuatan baru muncul menjadi kekuatan penyaingnya. Yang dimaksud kekuatan baru itu meliputi semua aspek, baik militer, sistem, budaya ataupun ekonomi. Jika ada benih kekuatan baru muncul yang sekiranya berpotensi mengancam, apalagi mengungguli sistem Amerika maka ia akan berusaha dengan segala cara untuk menghancurkan kekuatan baru tersebut. Ada banyak kasus yang bisa diangkat sebagai bukti dari pernyataan ini.

Uni Soviet dengan komunisnya dihantam, China ditekan terus-menerus dengan alasan HAM. Iran, yang bertahan membangun teknologi nuklirnya, habis-habisan ditekan dan diembargo. Sebab jika Iran dibiarkan muncul dengan kekuatan nuklirnya, negara ini berpotensi untuk menjadi kekuatan baru di Timur Tengah dan dunia. Jelas itu sangat merugikan imej Amerika sebagai kekuatan adidaya dunia. Apalagi, Iran tak mau tunduk pada dominasi Amerika. Lain halnya dengan Israel, India, Pakistan. Amerika justru mendukung dan memberikan berbagai justifikasi atas proyek nuklir mereka.

Lihat juga Turki, ketika sanggup menggabungkan sekulerisme dengan Islam dan berpotensi memunculkan model alternatif kepada dunia muslim: moderat namun tetap mengakar kepada Islam, negara ini pun mulai digoyang. Demonstrasi demi demonstrasi bermunculan. Media Barat memperlihatkan seolah akan terjadi arus Arab Spring di Turki. Ketika Turki mampu menghadapi gelombang gangguan ini, AS mem-backing kekuatan oposisi Turki, Erdogan pun digoyang dengan berbagai tuduhan korupsi.

Lihatlah juga Mesir. Munculnya Mursi memberikan semangat baru bagi dunia Muslim,  karena gaya pemerintahan Islami ternyata mampu memimpin sebuah negara Muslim besar seperti Mesir. Sosok Mursi sebagai presiden agamis, penghafal Quran, dan sederhana, telah memunculkan idola baru di Dunia Muslim. Tak pelak, Amerika khawatir Mursi akan memunculkan sistem alternatif melawan sistem demokrasi liberal ala Amerika. Namun untuk Mesir, prinsip demokrasi liberal pun tak dihargai Amerika. Terbukti dengan diamnya Amerika saat Mursi dikudeta oleh militer, sebuah peristiwa yang jelas-jelas melanggar demokrasi yang didukungnya selama ini.

Standar ganda Amerika di Mesir, berlaku pula pada kasus Myanmar. Bila selama ini  Amerika menekan China supaya memperhatikan HAM, namun di Myanmar Amerika diam saja menyaksikan junta militer Myanmar membunuhi muslim Rohingya. Hal serupa terjadi di Indonesia. Ketika ada tiga warga Amerika yang terbunuh di Freeport, Washington langsung turun tangan. Sebaliknya, selama puluhan tahun rakyat pribumi Papua tertindas dan terpinggirkan oleh eksploitasi tanpa batas Freeport, tak ada suara pro-HAM dari Amerika.

Sampai kapankah situasi ini akan terus berlanjut? Akankah Amerika terus menjajah dunia? Penulis Amerika, Morris Berman, dalam buku Dark Ages America: The Final Phase of Empire telah menganalisis mulai membusuknya bangunan budaya dan ekonomi Amerika. Berman menulis, “Kita (bangsa Amerika) telah memasuki zaman kegelapan. Kita hanya mengejar hal-hal yang hanya akan mempercepat keruntuhan kita… Yang kita lihat hari ini adalah karakteristik Barat setelah runtuhnya imperium Roma: menguatnya dogma agama di atas logika, mandeknya pendidikan dan pemikiran kritis, berintegrasinya dogma agama, negara, dan aparat penyiksaan.. serta marginalisasi politik dan ekonomi dari budaya kita.”

Kita ingat, segera setelah peledakan WTC 9 September 2001, Bush menggunakan kata ‘Perang Salib’ untuk meluncurkan Perang Melawan Teror. Kaum muslim dijadikan bulan-bulanan, dicitrakan sebagai teroris oleh media Barat. Akibatnya, sejak saat itu, dunia dilanda konflik berkepanjangan. Perang diluncurkan Amerika ke berbagai negara muslim, semua atas alasan membasmi terorisme. Antara 2004-2013, ada lebih 3000 warga sipil di Pakistan yang tewas akibat serangan bom pesawat tak berawak (drone). Alasannya hanya karena mereka dicurigai teroris.

Perang besar Amerika ini ternyata merugikan dirinya sendiri. Ekonomi Amerika tengah kolaps. Untuk membiayai berbagai perang, keuangan dalam negeri defisit. Subsidi kesejahteraan rakyat dikurangi. Tak heran bila ada beberapa negara bagian yang bangkrut. Secara budaya, Amerika pun bobrok. Bangunan keluarga runtuh, tingkat perceraian tinggi,  aborsi remaja meningkat, pecandu narkoba merebak. Inilah yang dikatakan oleh Berman, bahwa Amerika memang sedang menanti keruntuhannya sendiri.

Apalagi, dunia pun semakin muak dengan demokrasi liberal yang ditawarkan dan dipaksakan oleh Amerika, yang hanya terbukti mendatangkan konflik. Dunia kini tengah menanti sistem baru yang akan menciptakan perdamaian, ketentraman bagi semua penduduk bumi, dan keadilan. Sejarah pun membuktikan bahwa peradaban memang muncul silih berganti. Dahulu ada peradaban Romawi, Persia, China, dan kini yang tengah mendominasi adalah peradaban ala Amerika. Peradaban berikutnya pasti akan muncul. Bisa saja itu peradaban kita, peradaban Melayu; atau peradaban dari Timur Tengah yang dipimpin Imam Mahdi, atau apapun alternatif lainnya. Tak ada yang abadi. Amerika telah memasuki masa senja dominasinya, dan segera tutup usia.

*pengamat Politik Internasional, Sekjen ISMES (Indonesian Society for Middle East Studies)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL