Oleh: Abdel Bari Atwan

Kawasan kita, Timteng, berada di ambang perang sehingga tidak seharusnya kita disibukkan oleh perkara kecil semisal pengunduran diri Perdana Menteri Lebanon Rafik Hariri atau penangkapan para pangeran dan mantan menteri Arab Saudi lalu mengabaikan perkembangan substansial yang sedang berproses dalam kesenyapan dan kemudian akan disusul dengan proses “pembersihan” oleh Putera Mahkota Saudi Mohammad bin Salman di front internal Saudi yang notabene lebih krusial karena merupakan pendahuluan bagi perang regional yang bisa jadi paling berbahaya dalam sejarah regional.

Apa yang terjadi dewasa ini adalah peristiwa yang sudah dipelajari dengan sangat cermat dan matang dan merupakan pendahuluan bagi perang sektarian berkedok “pan-Arabisme” dengan dukungan Amerika Serikat, Israel dan negara-negara regional yang sasaran utamanya adalah kekuatan Syiah Iran yang terus membesar dan para sekutunya yang menghebat di Yaman, Lebanon, dan Irak.

Saudi corak lama sudah berakhir, dan Wahabismepun sedang sekarat, kalau bukan sudah terkubur dalam sejarah. Negara Saudi periode keempat dengan jubah baru dan modern serta aliansi-aliansi baru sedang berproses ketika Bin Salman yang bermaksud memeloporinya menyatakan, “Tindakan Iran menyuplai rudal kepada kelompok-kelompok Yaman  merupakan agresi militer langsung yang bisa jadi meningkat pada sebentuk aksi perang.”

Hal ini dia nyatakan dalam percakapan telefon dengan Menlu Inggris Boris Johnson dan mendapat dukungan dari Kemhan AS Pentagon dan Dubes AS untuk PBB Nikki Haley. Ini menandakan adanya sebuah koalisi di Timteng di bawah komando AS.

Untuk mengetahui seberapa krusial setiap krisis atau pergerakan politik atau militer signifikan di kawasan manapun di dunia kita perlu menyorot harga bahan bakar minyak dan gas serta pergerakan pasang maupun surut bursa dan pasar uang. Inilah tolok ukur utama dan paling akurat, setidaknya di dunia investasi Barat.

Harga minyak sekarang merangkak ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir, sedangkan bursa Teluk mengalami penurunan signifikan. Saudi sendiri sekarang menderita kerugian sekira 3% harganya, dan gerak penjualan kehilangan gerak pembelian. Di sini kita masih berada di tepian dan belum mengarungi alur-alur peperangan.

Kondisi chaos merambah kawasan. Kelompok Houthi di Yaman telah membidikkan rudal balistik berpresisi tinggi miliknya ke wilayah utara Riyadh, ibu kota Saudi. Serpiahn rudal ini berserakan di Bandara Internasional King Khalid. Houthi mengaku masih akan akan menghantam kedalaman wilayah Saudi serta semua pelabuhan udara dan laut Saudi dan Uni Emirat Arab. Dari pengalaman yang sudah berjalan tiga tahun terlihat betapa mereka selalu membuktikan ancamannya, sementara mereka juga tak menderita kerugian berarti selama menjalani tiga tahun perang.

Tahap pertama adalah tahap pembersihan front internal yang dilakukan oleh Bin Salman dengan meringkus 11 pangeran, puluhan menteri dan pengusaha dengan dalih pemberantasan korupsi. Tahap ini berjalan mulus tanpa hambatan sehingga dia menguasai penuh semua sektor kunci negara, yaitu ekonomi, media, keamanan, dan militer, di samping dua lembaga keagamaan formal dan informal, masing-masing Dewan Ulama Senior dan Ulama Al-Shahwah. Dia menahan dan menyekap semua lawannya atau orang yang berani blak-blakan memrotes kebijakannya. Bukan tak mungkin penangkapan ini baru merupakan langkah awal sehingga akan ada langkah susulan yang lebih besar. Dia ibarat buldoser yang siap menggilas siapa saja yang mencoba menghadangnya.

Selanjutnya adalah tahap kedua yang lebih krusial, yaitu tahap konfrontasi militer dengan skenario kurang lebih sebagai berikut;

Pertama, dimulainya benturan militer Saudi-Iran terkait dengan blokade Yaman di mana Saudi memblokir semua jalur darat, udara, dan laut Yaman dengan dalih menutup semua celah masuknya rudal-rudal Iran kepada Houthi.

Kedua, pembentukan koalisi baru seperti halnya koalisi militer “Badai Gurun” yang dipelopori oleh Jenderal AS Norman Schwarzkopf untuk mendepak tentara Irak dari Kuwait pada tahun 1990. Negara-negara calon anggota koalisi baru ini adalah Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Mesir, Sudan, dan Maroko.

Ketiga, serangan udara terhadap Lebanon dan menghancurkan fasilitas infrastruktur dengan dalih membasmi Hizbullah. Selanjutnya Hizbullah akan bereaksi dengan menghujani Rezim Zionis Israel dengan ribuan rudal. Di sini Iran dan Suriah berpotensi campurtangan dengan skala yang lebih masif dari sebelumnya.

Keempat, invasi terhadap Qatar dengan kekuatan militer Mesir, Uni Emirat Arab, dan Saudi, mengganti rezim Qatar, dan berkonfrontasi dengan pasukan Turki di Qatar yang jumlahnya mencapai lebih dari 30,000 personil dengan segala persenjataan beratnya. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tampaknya sudah mengendus bahaya ini sehingga dia mengirim Menhannya, Noureddine Melikechi, dalam sebuah lawatan mendadak ke Doha belum lama ini. Tak ada yang dapat menghalangi invasi ini kecuali perubahan sikap Qatar secara mendadak akibat tekanan AS.

Kelima, serangan balasan AS, Israel, dan Saudi terhadap Suriah untuk menguasai berbagai kawasan yang lepas dari tangan para sekutu AS di Suriah, termasuk Aleppo, Homs, dan Deir Ezzor. Dendam AS tak mungkin reda begitu saja terhadap Rusia dan Iran. Namun, invasi AS dan Israel di Suriah akan membuat keduanya berhadapan dengan Rusia sehingga pecahlah Perang Dunia III. Belakangan ini AS telah menggagalkan dialog nasional Suriah di Sochi, Rusia, ketika Washington menyerukan kepada kubu oposisi Suriah agar memboikot pertemuan yang diprakarsai Moskow ini.

Keenam, penggerakan milisi-milisi Kurdi Irak dan Suriah dan pelibatan mereka dalam perang ini untuk kepentingan AS demi menghancurkan Iran, Turki, dan Irak serta mengacaukan tiga negara ini dengan perang saudara.

Skenario di atas menyorot apa yang berpotensi dilakukan oleh koalisi baru yang akan menggunakan nama semisal “Poros Moderat”, atau “Kubu Modernitas”, atau “anti terorisme Iran”. Namun kita tidak berbicara mengenai skenario lain yang juga tidak kecil kemungkinannya, yaitu kegagalan koalisi mencapai tujuannya, dan mengenai bagaimana Timteng nanti dalam kondisi demikian.

Di pihak lain, ada pula kemungkinan terbentuknya koalisi Iran, Suriah, Turki, dan Irak, dan Rusia di tahap awal akan bersimpati kepada koalisi ini, dan selanjutnya tak jelas apakah Rusia bahkan akan memimpin koalisi ini, sebab Rusia berhati-hati dalam menyikapi perkembangan situasi terkini, dan tampak masih menyembunyikan kartunya.

Koalisi ini memiliki kekuatan rudal yang sangat besar, dan berdasarkan perkiraan awal, rudal-rudal itu sebagian besar akan mengarah ke Saudi, Uni Emirat Arab, dan Israel yang sama-sama memiliki sistem pertahanan udara Patriot buatan AS sehingga mungkin dapat mempertahankan diri, setidaknya hingga batas tertentu.

Kami pernah bertanya tentang ini kepada salah seorang pakar militer di London. Dia mengatakan bahwa peluncuran ribuan rudal canggih Hizbullah dalam sekali waktu, demikian pula rudal-rudal dari Jalur Gaza, berpotensi melumpuhkan sistem pertahanan udara Kubah Besi milik Israel. Dia menyoal bahwa jika Hizbullah saja yang notabene perpanjangan tangan Iran memiliki 150.000 unit rudal, lantas seberapa banyak rudal yang dimiliki oleh Iran sendiri, dan apakah mungkin Patriot akan efektif menangkis puluhan ribu rudal sekaligus? Dan bagaimana pula jika rudal-rudal Suriah dan Iran turut membantu Hizbullah?

Pakar ini kemudian menyebutkan contoh bahwa Saudi perlu melepaskan enam rudal Patriot untuk mencegat satu saja rudal Burkan H-2 yang dilesatkan Houthi dengan sasaran Bandara King Khalid. Dia lantas menyoal ada berapa rudal Patriot di arsenal Saudi dan Uni Emirat Arab? Hanya saja, dia melanjutkan bahwa negara Arab Teluk ini memiliki senjata udara yang sangat besar, terutama jet tempur F-16 dan F-15 buatan AS, selain Panavia Tornado buatan Inggris dan Eurofighter Typhoon yang sangat canggih.

Perang regional yang diduga akan terjadi di masa mendatang, bahkan dalam waktu dekat ini, menurut para pakar, akan berhasil jika Iran hancur, Qatar berganti rezim, dan Hizbullah terbasmi. Tapi jika ini tak tercapai maka yang hancur adalah Saudi, Israel, dan Uni Emirat, dan Saudi akan berkeping menjadi beberapa negara.

Perang ini mungkin menjadi perang terakhir yang akan mengubah Timteng beserta berbagai negara dan perbatasan teritorialnya, dan bisa jadi juga bangsa-bangsanya.

Bangsa-bangsa Arab tentu masih akan tetap ada, sebab perang ini tidak mungkin akan membinasakan populasi mereka yang dewasa ini berjumlah 400 juta jiwa. Bangsa Iranpun akan tetap eksis. Tapi apakah Israel masih akan bertahan seperti potretnya sekarang? Ini akan terjawab pasca perang nanti, jika terjadi.

Wallahu A’lam

 

Sumber:  www.psnews.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*