Tom SaptaatmajaOleh: Tom Saptaatmaja*

Hingga menjelang tutup tahun 2014, kekerasan masih menjadi epidemi global.Bahkan kekerasan yang dilakukan oleh kaum takfiris dan teroris sungguh membuat kita yang masih punya nurani, mengelus dada dan miris. Betapa tidak, korban terorisme terbanyak justru masyarakat sipil, termasuk anak sekolah.

Simak, sebanyak 141 orang, termasuk 132 siswa dan sembilan anggota staf, tewas dan 133 orang lagi cedera dalam serangan teror terhadap satu sekolah umum yang dikelola militer di Kota Peshawar, Pakistan, Selasa (16/12).

Bahkan kaum takfiri pemuja kekerasan juga tega menyerbu orang yang tengah sholat. Hingga kini publik dunia masih bertanya, agama apa sesungguhnya yang dianut oleh mereka yang melakukan serangan bom yang menyasar Masjid Emir Kano di Nigeria Utara, yang menewaskan 120 orang? Pasalnya, serangan itu dilakukan ketika sedang berlangsung sholat Jumat (28/11).

Tudingan mengarah ke Boko Haram, yang sudah menewaskan 10.000 orang di Nigeria. Pasalnya, masjid yang diserang itu merupakan tempat pemimpin muslim berpengaruh Imam Besar Kano, Muhammad Sanusi II yang lantang mengecam cara-cara kekerasan yang dilakukan Boko Haram.

Boko Haram memang keterlaluan. Mei lalu, Boko Haram menggemparkan dunia dengan menyandra 223 anak perempuan . Mereka juga membabi buta menebar bom dan teror di tempat tempat umum seperti pasar, asrama, sekolah dan tempat ibadah. Negeri yang kaya minyak itu kini seolah tercekam oleh aksi bom bunuh diri yang bisa meledak di manapun.

Benar kata pemikir posmo, Jean Beaudrillard, terorisme ‘edan’ kini menyelinap dalam setiap ruang hidup kita entah di Nigeria, Suriah, Pakistan, atau bahkan Indonesia. Banyak orang tua cemas, anak-anak mereka yang pergi dari rumah untuk sekolah atau kuliah, atau sholat ke masjid, lalu tak pernah pulang lagi.

Banyak analis yang mencoba membahas akar terorisme. Ribuan makalah akademik telah ditulis untuk menjabarkannya. Namun, seperti ditulis Dipak Gupta (2004), profesor politik dari San Diego University, dari sekian banyak makalah itu, bahkan definisi terorisme pun tidak dijumpai kesepakatan. Teori yang mengaitkan terorisme dengan kondisi sosial-ekonomi, kemiskinan, dan sejenisnya, adalah teori yang lemah. Juga, tak ada ‘profil tunggal’ dari terorisme. Apakah terorisme pasti Islam? Pasti Kristen fanatik? Tentu tidak. Bahkan, data yang diungkap Gupta tentang aksi bom bunuh diri antara 1980-2002, persentase terbanyak justru dilakukan oleh gerilyawan Tamil Srilanka, yaitu 36%. Artinya, tidak bisa dilakukan generalisasi profil terorisme.

Karena motivasi kelompok teroris berbeda-beda, Gupta pun membagi 5 jenis teroris. Jenis pertama adalah teroris ideologis, yang melakukan aksi terorismenya berlandaskan semangat ideologi (Gupta mencontohkan Hamas masuk dalam kelompok ini), ekstrimisme agama (contohnya Al Qaida), dan kharisma personal pemimpin (seperti Tamil Elam). Dari kategori ini pun bisa muncul perdebatan. Apakah Hamas yang tengah memperjuangkan tanah airnya yang diduduki Israel sejak 1948 bisa disebut teroris?

Lalu, jenis kedua, kelompok terorisme yang didasarkan profesionalitas (kemampuan khusus melakukan pengeboman), antara lain IRA (Irlandia). Ketiga, kelompok teroris yang bertujuan mencari keuntungan finansial, seperti FARC di Kolombia. Kelompok keempat adalah teroris “Hooligan”, kelompok yang tidak solid, semata-mata hanya ingin berbuat kerusuhan. Kelompok kelima adalah semacam ‘geng’, yang diistilahkan vigilante terrorism.

Karena itu, tanpa bermaksud menggeneralisasi, penulis ingin memfokuskan pembahasan kepada terorisme yang dilandasi oleh relijiusme ekstrim. Karena, sayang sekali, fakta yang kita hadapi hari ini di Indonesia terkait dengan terorisme jenis ini. Sudah ratusan warga Indonesia yang berangkat ke Suriah, untuk menjadi relawan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria).  Baru-baru ini, sekitar 12 WNI ditangkap di Malaysia karena diduga akan bergabung dengan ISIS, di antaranya termasuk sepasang suami istri dokter dari Jawa Timur.  Bila kita melihat media-media online, ujaran-ujaran kebencian (hate speech) atas nama agama sedemikian bebas diumbar di negeri ini. Semua ini memupuk bahan bakar konflik yang mengerikan.

Penulis teringat pengalaman mendiang Munir yang diracun 7 September 2004. Pria kelahiran Batu 1965 itu mengungkapkan, selama lima tahun(1984-1989)semasa menjadi mahasiswa di Malang, dia mengikuti jalur beragama yang ekstrem.Ektrimitas, kata Munir, memandang pihak lain sebagai musuh dan layak masuk neraka, sehingga sah untuk menjadi sasaran kebencian. Syukurlah Munir akhirnya gelisah dengan pandangan ekstrim itu (Jawa Pos 6/10/2004, wawancara dilakukan ketika Munir masih hidup).

Kesadaran Munir untuk meninggalkan ekstrimitas itu di antaranya didorong oleh ajaran inkluisif Gus Dur. Menurut Presiden RI keempat ini, Tuhan tak perlu dibela. Yang berpaham Tuhan masih perlu dibela, lanjut Gus Dur,  malah menurunkan derajat Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa.

Pandangan inklusif ini jelas harus terus-menerus kita hidupkan dan sebarkan guna melawan ekstrimitas agar negeri kita tak menjadi seperti Pakistan, Nigeria, atau Suriah. Kaum moderat dari semua agama harus bersinergi menyebarkan paham persatuan, kasih sayang sesama umat, dan penentangan terhadap terorisme. Semoga kekerasan akan berkurang di tahun 2015 mendatang. Teriring pula doa, agar kasus Munir segera terungkap tuntas karena pembunuhan atas dirinya sesungguhnya juga sebuah bentuk terorisme. (LiputanIslam.com)

*penulis adalah satu satu kontributor dalam buku ”Munir, Sebuah Kitab Melawan Lupa” (Mizan,2004).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL