Andre-Vlchetk-640x360Oleh: Andre Vltchek*

Lebanon tidak bisa berdiri di atas kakinya lagi. Mereka kewalahan, ketakutan dan nyaris hancur.

Lebanon berada di garis depan. Menghadapi ISIS di timur dan utara, menghadapi Israel di selatan. Sekitar 1,5 juta jiwa pengungsi Suriah tersebar di wilayah Lebanon yang sempit. Ekonominya hancur, infrastruktur juga hancur. ISIS masih bercokol di beberapa titik di perbatasan Lebanon-Suriah, yang merupakan ancaman nyata karena secara berkala mereka bisa saja menyerang Lebanon, dan berusaha untuk membangun jaringannya di wilayah Lebanon. Hizbullah berjuang melawan kelompok ISIS, tetapi Barat dan Arab Saudi sepertinya menganggap bahwa Hizbullah, dan bukan ISIS, yang merupakan ancaman bagi kepentingan geopolitik mereka. Tentara Lebanon relatif terlatih tetapi mereka adalah tentara yang buruk dan kekurangan dana.

Hari ini di jalan-jalan Beirut, sering terdengar kalimat “hanya tinggal sedikit lagi, hanya satu hentakan lagi, maka seluruh negara akan runtuh, hilang dalam asap”.

Apakah hal ini yang benar-benar diinginkan oleh Barat dan sekutunya?

Para pejabat tinggi, satu persatu sekarang melakukan kunjungan ke Lebanon. Misalnya Sekjen PBB Ban Ki-moon, Presiden Bank Dunia Jim Young Kim dan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Federica Mogherini. Semua pengunjung ini mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terkait situasi Lebanon. Mereka mengakui bahwa perang di Suriah memiliki dampak yang sangat besar terhadap Lebanon.
Hanya saja, pemicu perang ini tidak pernah dibahas.Dan tidak banyak yang akan diselesaikan. Hanya janji-janji yang tidak pernah ditepati.

Sayangnya, masyarakat internasional menunjukkan sedikit sekali keinginan untuk menyelamatkan Lebanon dari krisis yang panjang dan berkelanjutan. Bahkan beberapa negara dan organisasi terus menuduh Lebanon sebagai negara yang melakukan pelanggaran hak asasi menusia, dan memiliki pemerintahan yang lemah dan tidak efektif.

Tampaknya yang paling menganggu mereka adalah bahwa Hizbullah (organisasi yang dimasukkan sebagai teroris oleh negara-negara Barat, Arab dan sekutunya), dalam batas tertentu diijinkan berpartisipasi dalam mengelola negara.

Tapi Hizbullah adalah satu-satunya kekuatan militer yang mampu secara efektif memerangi ISIS di bagian timur laut Lebanon, di perbatasan Suriah, dan juga wilayah lainnya. Hizbullah juga yang satu-satunya mampu menyediakan jaringan pengamanan yang diandalkan oleh ratusan ribu warga miskin Lebanon. Ketika bangsa ini terpecah dalam garis sekterian, Hizbullah mengulurkan tangannya kepada kelompok lain, menjalin koalisi dengan Muslim Sunni dan Kristen.

Mengapa begitu banyak yang sentimen atas Hizbullah?

Karena Hizbullah didominasi oleh Syiah, dan saat ini Syiah sedang dibenci dan ditargetkan oleh semua sekutu Barat di dunia Arab. Menjadi target dan kadang bahkan langsung dilikuidasi.

Hizbullah dipandang sebagai tangan kanan dari Iran, dan Iran adalah Syiah, yang berdiri melawan imperialisme Barat, bersama Rusia, Tiongkok, beberapa negera Amerika Latin – yang disebut sebagai negara setan oleh Imperium dan ‘kliennya’.

Hizbullah bersekutu erat dengan Iran dan dengan pemerintah Bashar al-Assad di Suriah. Hizbullah yang memerangi Israel setiap kali Israel menyerang Lebanon, dan menang dalam setiap kali pertempuran. Secara terbuka melalui pemimpinnya yang blak-blakan, Hizbullah menyatakan permusuhan terhadap kebijakan ekspansionis Barat, Israel dan Arab Saudi.

Angie Tibbs adalah pemilik dan editor Dissident Voice yang telah mengamati dengan seksama kejadian di Timur Tengah untuk beberapa tahun terakhir. Ia percaya bahwa perbandingan singkat antara peristiwa tahun 2005 dan hari ini penting untuk memahami situasi yang kompleks.

“Di negara yang sejak akhir perang sipil pada tahun 1990, ada topeng kesopanan yang menutupi luka lama, kesalahan lama, yang nyata dan belum dilupakan ketika Hizbullah berhasil dalam politik maupun militer dan memiliki pengaruh yang stabil. Kembali pada tahun 2005, menyusul ledakan bom yang menewaskan Perdana Menteri Rafic Hariri dan 20 orang lainnya, AS dan Israel menyatakan bahwa pelakunya adalah Suriah, tanpa menunjukkan sedikitpun barang bukti. Tentara Suriah di Lebanon dilucuti, atas permintaan pemerintah Lebanon yang diperintah AS dan Resolusi PBB 1559. Rencananya jelas. Dengan perginya tentara Suriah, dan Hizbullah tidak bersenjata, maka perbatasan Lebanon menjadi rentan. Lalu Israel bisa menerobos masuk kembali dan mengambil alih.”

Tibbs juga yakin bahwa saat ini masyarakat internasional memang diupayakan untuk mengabaikan Lebanon, dengan tujuan tertentu. “Skenario licik berlangsung hari ini. Hizbullah sibuk berperang melawan ISIS di Suriah. Tentara Lebanon, meskipun terlatih, mereka adalah tentara yang buruk. Perjanjian dengan Tentara Lebanon dibatalkan. PBB, IMF, pada kenyataannya, tidak memberikan bantuan apapun. Masyarakat Lebanon yang hidupnya sudah cukup berat, kini bertambah berat dengan adanya pengungsi Suriah. Ini adalah kesempatan yang sempurna bagi ISIS, tentara proxy Israel dan Barat, untuk bergerak menggoncang kedaulatan Lebanon.”

Beberapa pemimpin Lebanon menunjukkan kemarahannya. Menteri Luar Negeri Gebran Bassil bahkan menolak untuk bertemu Ban Ki-moon selama kunjungan dua harinya di Lembah Bekaa dan Beirut. Salah satu surat kabar utama Lebanon, Daily Star, melaporkan pada 26 Maret 2016,

Menteri Luar Negeri Gebran Bassil, beberapa jam setelah kunjungan Ban Ki-moon menuduh masyarakat internasional melakukan standar ganda dengan mendekati pengungsi Suriah. “Mereka menciptakan perang, dan kemudian meminta orang lain untuk menjadi tuan rumah bagi pengungsi karena hal itulah yang termaktub dalam perjanjian hak asasi manusia.”

Lebanon Ambruk

Lebanon ambruk. Beirut mengalami pemadaman listrik secara kontinyu, kekurangan air, sampah menumpuk. Secara ekonomi, negara ini mengalami kemerosotan yang tajam.

Dr Salim Chahine, Profesor Keuangan dari American University Beirut, biasanya cukup optimis tentang negaranya. Namun perkembangan beberapa tahun terakhir telah melunturkan optimismenya.

“Meskipun Coincident Indicatoryang dikeluarkan oleh Bank Sentral Lebanon baru-baru ini menyatakan ada peningkatan kecil dalam kegiatan ekonomi, namun beberapa pejabat mengirimkan peringatan yang jelas tentang kerusakan yang lebih lanjut. Ketegangan geopolitik regional, konflik sipil di Suriah, serta implikasi internal telah berdampak pada pariwisata, perdagangan, dan sektor real estate. Menurut HSBC, deposito dari populasi ekspatriat terbesar Lebanon – yang biasanya menyediakan likuiditas yang diperlukan untuk pinjaman pemerintah – tumbuh lebih lambat karena kondisi yang memburuk di Teluk. Sebagai negara keenam yang mengalami kemerosotan ekonomi,HSBC skeptis terhadap pemulihan jangka pendek. Defisit publik saat ini meningkat sekitar 20% per tahun, dan tingkat pertumbuhan PDB mendekati nol.”

Yayoi Segi, ahli pendidikan dan Spesialis Program Senior untuk Kantor Wilayah UNESCO Arab yang berbasis di Beirut, beraktivitas di Suriah dan Lebanon. Ia mengemukakan,

“Sektor pendidikan umum sangat kecil, hanya mencapai sekitar 35 persen dari penduduk usia sekolah. Alokasi negara untuk pendidikan kurang dari 10 persen sementara rata-rata dunia adalah 18-20 persen. Situasi ini diperparah oleh krisis saat ini yang sedang berlangsung di wilayah, dan Lebanon telah mengakomodasi masuknya pengungsi. Penyediaan pendidikan untuk publik telah diperluas dan terus berkembang. Namun, hal ini berdampak pada kualitas pendidikan itu sendiri, disamping memberikan kontribusi terhadap peningkatan siswa yang putus sekolah di Lebanon. Dan pendidikan hanya bisa diberikan bagi 50% dari anak-anak pengungsi Suriah.” (Bersambung ke bagian kedua)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL