Andre-Vlchetk-640x360[Baca Bagian Pertama]

Begitulah. Arab Saudi menghukum Lebanon karena adanya perwakilan dari Hizbullah di dalam pemerintahan, karena menolak memberikan dukungan kepada sekutu-sekutu Barat di Liga Arab (yang memasukkan Hizbullah sebagai kelompok teroris), dan sikap Lebanon yang tetap menahan salah satu Pangeran Arab Saudi di dalam tahanan karena ia berusaha menyelundupkan 2 ton narkotika dari Bandara Internasional Rafic Hariri.

Kisah Pangeran Saudi ini benar-benar aneh dan menjadi ‘bom’. Pihak berwenang Lebanon menemukan beberapa kokain di jet pribadinya, yang kemungkinan besar digunakan secara pribadi oleh Pangeran, keluarga dan teman-temannya. Tetapi yang paling penting adalah adanya Captagon, yang kemungkinan ditujukan bagi klub malam bawah tanah di negara-negara Teluk, seperti yang telah diberitahukan oleh beberapa ahli setempat,

“Obat-obatan ini menyebabkan sifat yang brutal, yang menghancurkan semua rasa takut. Ini adalah “narkotika untuk para kombatan”, yang telah diberikan kepada anggota ISIS. Bisa jadi obat-obat ini ditujukan untuk jaringan ISIS di Irak, tetapi kemungkinan besar Pangeran Saudi membawa obat-obatan itu untuk sekutu Saudi di Yaman. Atau bisa jadi untuk keduanya.”

Di mata Arab Saudi, Lebanon telah ‘melanggar garis’. Lebanon menolak untuk bermain dalam skenario yang telah susah payah disiapkan oleh Barat dan mitranya. Dan sekarang mereka ditampar, dihukum, atau yang lebih brutal: mereka telah dikorbankan.

Tentu saja, ini adalah waktu yang sangat berbahaya bagi negara yang kecil tetapi penuh kebanggaan ini. Pasukan Suriah, dengan bantuan dari Rusia, telah membebaskan satu persatu kota Suriah dari cengkraman ISIS dan kelompok teroris lainnya yang didukung oleh Turki, Arab Saudi, Qatar dan sekutu Barat lainnya.

ISIS mencoba untuk pindah ke Irak, untuk bergabung dengan jaringannya di negara tersebut. Tetapi pemerintah Irak juga berupaya untuk melakukan perlawanan, dan telah siap untuk melawan. Mereka juga melakukan pembicaraan dengan Rusia, untuk mempelajari kesuksesan operasi Rusia di Suriah.

Untuk ISIS dan Al Nusra, pindah ke Lebanon yang lemah dan hampir bangkrut menjadi langkah yang paling logis. Barat, Arab Saudid an sekutunya, jelas menyadari hal itu.

Bahkan ISIS sudah ada, menyusup hampir ke semua kota-kota Lebanon, juga di pedesaan. Setiap kali mereka berusaha melakukan serangan yang menargetkan Syiah, militer, dan target lainnya. Hal ini dilakukan baik oleh ISIS maupun Al Nusra. Dan impian ISIS sudah dinyatakan terang-terangan: suatu kekhalifahan dengan akses ke laut (hal ini bisa dilakukan jika menguasai bagian utara Lebanon).

Ada beberapa skenario untuk menjatuhkan Hizbullah. Yang paling sederhana adalah:

Israel bisa melakukan invansi, atau bahkan sebuah “serangan kecil” ke Lebanon yang dilakukan secara berkala. Tentara Lebanon terlalu lemah untuk melakukan sesuatu guna membela negara. Hizbullah akan mengalihkan pasukannya yang saat ini berperang melawan ISIS di timur laut, ke wilayah selatan. Di selatan, mereka mungkin harus berjaga-jaga selama beberapa minggu. Dan kesempatan ini akan digunakan oleh ISIS untuk bergerak, melintasi perbatasan ke Lebanon tanpa perlawanan. Jaringan-jaringan ISIS akan segera aktif dan negara ini bisa runtuh hanya dalam beberapa hari.

Sekarang pemimpin Lebanon harus berbicara dengan Teheran dan Moskow segera. Sementara ini masih ada waktu yang tersisa untuk mencegah bencana ini terjadi. Mereka harus secara terbuka meminta bantuan. Selalu ada jalur yang terbuka lebar dengan Iran. Sementara Rusia, baru-baru ini bukan menjamu delegasi yang mencoba untuk mencegah kolapsnya Lebanon, tetapi menerima kunjungan dari Saad Hariri, mantan PM dan pemimpin “Gerakan Masa Depan” yang secara terbuka anti-Hizbullah, sebagaimana ayahnya Rafic Hariri, sekutu setia Arab Saudi, dan di atas semua itu, ia adalah seorang warga Arab Saudi.

Robert Fisk menulis dengan sinis tentang Mr. Hariri, untuk The Independent pada 3 Maret 2016:

“Gerakan Masa Depan Lebanon (yang diklaim sebagai gerakan Sunni), dengan pemimpinnya Saad Hariri seorang warga Saudi, tampaknya sekarang cukup terkejut dengan tindakan yang disengaja oleh negara yang telah diberikan loyalitasnya sebagaimana Lebanon. Gerakan Masa Depan, tampaknya tidak berusaha keras untuk mendukung kritik resmi yang dinyatakan oleh pemerintah Lebanon terhadap sikap Arab Saudi di Liga Arab, dan harus mencegah Hizbullah mendestabilisasi Yaman dan Bahrain, walaupun tidak ada bukti fisik baik Hizbullah atau Iran benar-benar terlibat dalam perang di Yaman ataupun perlawanan damai masyarakat Bahrain atas kepemiminan otoriter Rezim Al Khalifa.”

Badai Politik dan Militer

Lebanon yang kecil berada di tengah angin puyuh dan badai politik militer yang telah menelan hampir seluruh Timur Tengah dan Teluk.

Dalam dekade terakhir, Lebanon telah sangat menderita. Kali ini, jika Barat dan sekutunya tidak mengubah pandangan mereka, mungkin tidak lama lagi mereka akan lenyap tak berbekas. Untuk tetap bertahan hidup, maka Lebanon harus menempa hubungan yang lebih erat dengan Suriah, Iran, Rusia dan Tiongkok.

Apakah mereka berani melakukannya? Tidak ada front persatuan dalam kepemimpinan Lebanon. Pro-Barat dan fraksi pro-Arab akan menentang aliansi dengan negara-negara yang menentang kepentingan Barat.

Tetapi waktu terus berjalan. Baru-baru ini, kota tua Palmyra dibebaskan dari ISIS. Paradoksnya, kota-kota bersejarah di Lebanon seperti Baalbek dan Byblos mungkin akan segera jatuh.


*Andre Vltchek adalah seorang filsuf, penulis novel, pembuat film dan wartawan investigasi. Ia meliput perang dan konflik di berbagai negara. Buku terbarunya berjudul “Exposing Lies Of The Empire” dan “Fighting Against Western Imperialism”.  Diskusinya bersama Noam Chomsky diterbitkan dalam buku yang berjusul On Western Terrorism.  Artikel ini diterjemahkan dari Globalresearc.ca.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL