Teheran,LiputanIslam.com-Menlu Maroko pada Selasa kemarin (1/5) menyatakan pemutusan hubungan diplomatik negaranya dengan Iran. Meski ini bukan kali pertama, namun langkah ‘mencurigakan’ ini diambil dalam situasi khusus yang memayungi Dunia Islam, terutama berkaitan dengan ancaman terhadap Palestina.

Kendati Maroko sempat menjadi tuan rumah bagi mantan raja pelarian Iran usai Revolusi Islam, hubungan kedua negara bisa disebut harmonis, terutama di bidang budaya. Program pertukaran mahasiswa, penyelenggaraan pekan-pekan kebudayaan, dan promosi film-film adalah salah satu bukti hangatnya hubungan Rabat-Teheran.

Pemutusan hubungan Maroko-Iran terjadi 10 tahun lalu, dengan dalih tak jelas terkait krisis di Bahrain. Dalih-dalih seperti upaya Iran untuk menyebarkan paham Syiah di Bahrain kerap dilontarkan pihak-pihak yang tak menyetujui hubungan mesra Teheran-Rabat. Padahal di masa itu, keabsurdan dalih-dalih ini terlihat jelas, setidaknya bagi para politisi dan penguasa Maroko.

Hubungan kembali terjalin enam tahun setelah itu, namun tak lagi sehangat sebelumnya. Alasan paling jelas adalah ketidaksukaan sebagian negara-negara Teluk, juga Rezim Zionis, akan kehadiran Iran di utara Afrika.

Pemutusan hubungan pada Selasa kemarin diumumkan dengan sebuah dalih baru. Menlu Maroko mengklaim, Hizbullah Lebanon memberikan pelatihan militer dan rudal kepada anggota Front Polisario, dengan tujuan mengacaukan keamanan Maroko.

Sebagai pelengkap bumbu, menlu Maroko menyebut seorang pejabat di kedubes Iran sebagai koordinator antara Hizbullah dan petinggi Polisario pada dua tahun silam.

Ada sejumlah poin terkait dalih-dalih pemutusan hubungan ini:

Pertama, langkah ini diambil saat isu terpenting Dunia Islam, yaitu Palestina, sedang memanas. Kurang dari dua pekan lagi (14 Mei), AS akan memindahkan kedubesnya dari Tel Aviv ke al-Quds.

Penciptaan masalah baru ini dinilai sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian Iran (sebagai pembela utama Palestina) demi terwujudnya “Kesepakatan Abad Ini.” Bahkan, jika kita ‘berbaik sangka’ dengan tidak melihat AS dan Israel di balik pemutusan hubungan ini, kemudian kita menyebut langkah Maroko ini ‘hanya kebetulan’ diambil langsung usai ancaman yang ditebar Mike Pompeo kepada Iran dalam lawatan ke Saudi, Israel, dan Yordania, juga setelah lawakan Netanyahu pada Senin malam (30/4), mau tidak mau kita akan mengakui bahwa AS dan Israel adalah pihak yang paling diuntungkan oleh langkah Maroko ini.

Kedua, tertuduhnya Iran dan Hizbullah secara bersamaan, dalam statemen menlu Maroko, bisa menjelaskan siapa dalang kejadian ini. Selain AS dan Israel, peran Saudi, UEA, dan Bahrain terlihat kental di sini.

Tiga negara Arab ini telah menghapus masalah Palestina sebagai prioritas mereka, dan kini berlomba-lomba menormalisasi hubungan dengan Rezim Zionis. Saat satu pihak menyatakan Israel berhak tinggal di Palestina, dua negara lain membanggakan diri telah menjadi tuan rumah bagi Rezim Zionis. Mereka kompak menyuarakan sisi persamaan dengan Israel, yaitu permusuhan dengan Iran.

Dengan sudut pandang ini, jelas bahwa negara-negara kaya Teluk akan membelanjakan dolar-dolar minyak mereka untuk merusak hubungan Poros Muqawamah dengan negara-negara Muslim lain. Hal ini dibuktikan dengan respons positif kilat UEA dan Bahrain terhadap kabar pemutusan hubungan Maroko-Iran.

Ketiga, terkait alasan pemutusan hubungan dengan Iran, menlu Maroko mengaku bahwa ini tidak kaitannya dengan situasi Suriah dan Timur Tengah. Di saat topik utamanya adalah masalah keamanan Maroko, pengakuan ini menunjukkan bahwa bukan hanya masalah Suriah dan Timur Tengah saja, tapi masalah-masalah lain seperti Yaman, Bahrain, dan tekanan Saudi serta UEA merupakan faktor-faktor pemutusan hubungan ini.

Terakhir, pemerintah Iran sendiri menegaskan tidak pernah mencampuri urusan internal negara-negara lain, juga membantah telah mendukung Hizbullah untuk melatih anggota Front Polisario. Di sisi lain, tampak bahwa Maroko sangat mudah diprovokasi, sehingga hanya dalam kurun waktu relatif singkat, Rabat telah dua kali memutuskan hubungan dengan Teheran.

Namun, sebagaimana tuduhan pertama Maroko terhadap Iran memudar seiring berjalannya waktu, tuduhan terakhir ini juga akan bernasib sama dengan terungkapnya dalang-dalang di balik kejadian ini. Bagaimana pun juga, matahari tak selamanya berada di balik awan.

Penulis: Abu Reza Saleh (af/alalam)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*