ida ridwanOleh: Ida Surjanti Ridwan*

Jerman tidak bisa dilepaskan dari sejarah sebuah negara illegal bernama Israel. Kaum Zionis menggunakan Holocaust yang terjadi di Jerman pada tahun 1933-1945 sebagai justifikasi bagi ‘keharusan’ berdirinya sebuah negara khusus untuk mereka di atas tanah milik bangsa Palestina.

Namun, dari Jerman pula, suara penentangan terhadap Israel dan Zionisme bergema kencang. Hari Jum’at 25 Juli 2014, Berlin kembali menjadi tuan rumah peringatan Hari Al Quds di Jerman. Acara yang rutin digelar setiap tahun pada Jumat terakhir di bulan Ramadhan itu dikoordinasi oleh Organisasi Al Quds Jerman. Tahun ini, seiring dengan serangan brutal Israel di Gaza yang hingga kini telah menewaskan lebih dari 1000 warga sipil Gaza, demonstrasi Al Quds disambut dengan antusiasme luar biasa. Lebih dari 10.000 orang hadir dalam demo ini, melebihi tahun-tahun sebelumnya. Sayang, sebagian media Jerman berusaha menutupi fakta ini dengan menyebut bahwa peserta demo hanya ‘ratusan’.

Para demonstran berasal dari berbagai bangsa (Jerman asli, maupun warga pendatang), agama, dan mazhab. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, demo Al Quds kali ini dihadiri dua orang Rabbi Yahudi dari Inggris yang mewakili organisasi Naturei Karta. Mereka berada di barisan paling depan, masing-masingdengan pamflet besar “Israel bukan representasi dari bangsa Yahudi”, serta “Hilangkan Negara Zionis! Kutuklah Kebiadaban Mereka dalam Pendudukan dan Blokade Militer!”

Menjelang pukul 5 sore, para demonstran yang datang dari berbagai kota di Jerman telah berkumpul di Adenauerplatz. Mereka dikawal oleh sekitar seribu orang polisi dan puluhan mobil ambulans lengkap dengan tenaga medis dan paramedis. Aturan ‘main’ pun diumumkan dengan tegas: para demonstran tidak diperbolehkan membawa slogan-slogan yang akan membakar reaksi dari kelompok pro-Israel yang setiap tahun selalu menghadang gelombang demonstran ini. Sebelum long march dimulai, seseorang berbicara di atas mobil terbuka, “Saudara-saudaraku, tak ada ucapan anti-Semityang boleh Anda lontarkan. Tak ada ucapan yang menyerang Yahudi karena mereka juga menyembah Tuhan yang sama. Yahudi yang beriman adalahsaudara kita, tapi Zionis adalah musuh kita. Jagalah agar emosi Anda tetap lembut. Kita berada di Berlin, bukan di Gaza.”

Lautan demonstran berjalan rapi dengan plakat-plakat yang diangkat tinggi-tinggi, antara lain : “Zionisme dan Yahudi adalah dua kata yang sangatberlawanan” , “Israel adalah Pembunuh Anak-anak” , “Muslim – Yahudi – Kristen, bahu membahu melawan Zionisme” , “Antisemit : Tidak! Anti Zionisme:Ya!”

Aturan ‘main’ pun dipatuhi oleh kelompok pro-Israel yang juga berdemo menentang demo Al Quds. Mereka tahu bahwa Hari Al Quds mendapat izin dan perlindungan resmi dari pemerintah Jerman. Karenanya mereka tidak boleh bergerak menyerang kecuali “protes di tempat” alias di pinggir-pinggir jalan saja. Polisi adalah “wasit” yang harus dipatuhi oleh kedua belah pihak. Membakar bendera Palestina maupun Israel adalah sesuatu yang dilarang.

Dari atas mobil terbuka, terdengar seruan seorang pembicara, “Hallo Nyonya Kanselir! Hallo Tuan Presiden! Bukalah mata dan mata hati Anda! Israel yang membombardir bumi serta rakyat Palestina, dan pemerintah Anda bersama Amerika teman Anda yang membiayai tragedi memalukan itu. Jangan salurkan pajak yang telah kami bayar untuk senjata-senjata yang membunuh rakyat Palestina! Kami tidak rela sama sekali uang kami menjadipenyebab tragedi berdarah itu. Hentikan keterlibatan Anda! Bayangkan jika Palestina adalah negeri Anda! ”

Long march berlangsung sepanjang 20 kilometer, melintasi jalan-jalan utama kota Berlin. Di akhir long march, diadakan serangkaian acara orasi dari berbagai tokoh, termasuk kedua Rabbi Yahudi anti-Zionis itu.

Berbagai elemen masyarakat Jerman juga menyampaikan protes mereka terhadap kekejaman Israel dengan berbagai cara. Misalnya, sebuah koran lokal “Volkstimme” yang beredar di kota Magdeburg dan sekitarnya, pada Sabtu 26 Juli 2014 memuat kiriman “ucapan duka cita” dari warga masyarakat. Salah satunya, sebuah yayasan “Sahabat Palestina” di Negara Bagian Sachsen-Anhalt telah mengirimkan ke koran tersebut, “Kami turut berduka citaatas meninggalnya anak-anak muda kita di Gaza”.

“Protes Hening Bersama” (Stiller Gemeinsamer Protest) untuk korban Gaza dengan menyalakan lilin berantai dilakukan serentak di berbagai kota di Jerman pada tanggal 14 Juli 2014 lalu. Foto-foto penyalaan lilin tersebut dipajang di berbagai tempat yang ramai dikunjungi publik, seperti gereja, mesjid, sinagog,stasiun kereta api, serta kantor-kantor pemerintah. Di kota Freiburg (Negara Bagian Baden Württemberg), sebuah yayasan bernama “Cafe PalestineFreiburg” pada hari Jum’at 25 Juli lalu mengadakan acara solidaritas dan doa bersama mengenang korban Gaza.

Seminggu sebelumnya, Cafe Palestina yang dinakhodai oleh dua orang perempuan yaitu Dr. Gabriele Weber dan Annie Sauerland menggelar acara diskusi dengan para aktivis solidaritas Palestina di kota itu dengan mengangkat tema “Hentikan Pengeboman di Gaza untuk Menghentikan Eskalasi di Timur Tengah”.

Doa Perdamaian dari Anak-anak Ibrahim (foto: www.izhamburg.com)

Doa Perdamaian dari Anak-anak Ibrahim (foto: www.izhamburg.com)

Sebuah organisasi yang bernama “Komite Palestina” di Stuttgart juga menyerukan bahwa bangsa Palestina punya hak untuk melawan. Mereka memberikan pernyataan, “Hentikan pembantaian terus menerus yang dilakukan oleh Israel di Jalur Gaza serta penyerangan terhadap Palestina di seluruh negeri! Hentikan kerjasama militer dalam hal apapun dan dari pihak manapun yangbekerjasama dengan Israel! Bangsa Palestina memerlukan solidaritas internasional dari kita semua!”

Di kota Hamburg, keprihatinan yang mendalam atas peristiwa tragis di Gaza tersebut mendorong Akademi Ilmu-Ilmu Islam Jerman yang berada di lingkungan Mesjid Imam Ali mengadakan sebuah pertemuan sekaligus doa bersama dari pengikut agama-agama Ibrahimi. Acara yang mengusung tema “Friedensgebet der Kinder Abrahams” (Doa Perdamaian dari Anak-Anak Ibrahim) itu diselenggarakan pada 14 Juli lalu,bertepatan dengan tanggal 15 Ramadhan yang merupakan hari kelahiran salah seorang cucu Nabi Muhammad s.a.w yaitu Imam Hassan Al Mujtaba – seorang pahlawan spiritual dan perdamaian.

Acara ini dihadiri lebih dari seribu umat dari 3 agama Ibrahimi (Islam, Kristen, Yahudi), serta perwakilan dari organisasi-organisasi keagamaan setempat seperti Rabbi Shlomo Bistritzky (Yahudi), Pendeta Kirsten Fehr (Protestan), Pastor Ansgar Thim (Katholik), Imam Ramazan Ucar (mewakili umat Muslim Sunni), serta Ayatollah Dr. Reza Ramezani (mewakili umat Muslim Syiah). Sebagaimana di kota-kota lain, pada kesempatan ini dilakukan pula acara penyalaan lilin “duka cita dan keprihatinan”. Peristiwa yang mengesankan dari para pengikut “agama serumpun” Ibrahim ini membawa makna yang begitu dalam. Dialog, keterbukaan serta saling pengertian antar umat beragama haruslah terus dibangun. Karena kita semua, sejatinya memiliki Ayah yang sama: Nabi Ibrahim a.s.

*penulis alumnus FISIP Unpad, pernah studi sejarah di Universitas Hamburg; saat ini tinggal di Hamburg

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL