palestina abdel bari atwan

Oleh: Abdel Bari Atwan*

London, LiputanIslam.com – Dua Minggu pasca tragedi ambruknya crane yang menimpa jemaah haji di kawasan al-Haram Mekkah al-Mukarramah dan menelan korban jiwa 110 orang peziarah Baitullah al-Haram, pagi hari Kamis (24/9) kita dikejutkan oleh tragedi yang korbannya jauh lebih besar, yaitu lebih dari 800 jemaah haji (hingga tulisan ini disusun) dan ratusan korban luka di dekat lokasi pelemparan jumrah di masy’ar suci.

Kita tentu percaya qadha’ dan qadar, sebagaimana kita meyakini kehendak Allah Azza wa Jalla, namun kita juga percaya bahwa terulangnya tragedi-tragedi sedemikian rupa merupakan bukti tegas ketidak cakapan pihak pengelola dalam mengatur musim haji, dari puncak piramida Saudi hingga pasukan patroli yang terkecil.

Melemparkan tanggungjawab atas tragedi ini kepada jemaah haji, sebagaimana dilakukan oleh pemerintah Saudi beserta badan keamanan dan adiministrasinya, serta pihak-pihak yang membela citra, kelemahan dan inkompetensi mereka dengan cara menuduh jemaah haji bodoh, atau tidak tertib, adalah “penghinaan” yang tak kalah berbahayanya dibanding tragedi itu sendiri. Alasan-alasan seperti itulah yang membuat tragedi seperti itu terulang setiap beberapa tahun, di tengah ketidak pedulian dan matinya hati nurani, meskipun yang wafat adalah ribuan jemaah haji yang tak berdosa.

Musim haji telah berubah menjadi beban pikiran serta biang trauma dan ketakutan bagi jemaah haji dan keluarga mereka akibat terulangnya tragedi-tragedi demikian dan tak adanya jaminan hakiki untuk kepulangan mereka atau sebagian mereka dalam kondisi sehat dan bugar ke tanah air masing-masing usai menunaikan kewajiban haji.

Tahun 2006 tragedi yang sama juga terjadi di mana sebanyak 346 jemaah haji menemui ajalnya akibat berdesakan ketika melempar jumrah. Setelah itu disebutkan bahwa problema ini sudah teratasi dengan didirikannya jembatan berlapis-lapis. Ini menunjukkan bahwa problemanya bukan mengenai ada atau tidaknya jembatan itu, melainkan buruknya pengelolaan dan tidak adanya perencanaan dan eksekusi yang matang, belum lagi soal insiden kebakaran, merebaknya wabah penyakit, dan buruknya kualitas pelayanan.

Pemerintah Saudi mengaku telah mengerahkan lebih dari 30,000 pasukan dan puluhan ribu personil pertahanan sipil untuk mengamankan musim haji dari aksi teror, tapi ternyata sekarang kita disentak oleh tragedi jatuhnya para korban akibat aksi teror yang lebih berbahaya berupa buruknya pengelolaan, penataan dan ketidak acuhan.

Beberapa pembenaran yang muncul dari mulut para pejabat atau para peminta maaf di jejaring sosial atau di layar televisi, semuanya terorientasi pada satu titik substansial yang menegaskan tidak adanya keahlian yang memadai pada kerajaan Saudi dalam “pengelolaan massa” ketika lebih dari satu juta jemaah mengalir menuju tempat-tempat masy’ar dan pelemparan jumrah di satu waktu yang sama.

Sungguh ini merupakan “penyangkalan” yang belum pernah ada sebelumnya, merupakan pembenaran yang tak dapat terima, dan tak pula meyakinkan. Jika kerajaan Saudi yang sudah lebih dari 80 tahun terlibat dalam penanganan musim haji saja ternyata tidak memiliki keahlian yang memadai dalam pengelolaan massa, lantas siapa lagi yang berkeahlian cukup? Seandainya memang demikian adanya, lantas mengapa para profesional dari kalangan umat Islam ataupun pihak asing tidak datangkan untuk menangani masalah ini, yaitu mereka yang memiliki pasukan di berbagai bidang lain? Padahal, menurut keterangan resmi, para jemaah haji dan peziarah tempat-tempat suci mendatangkan masukan tahunan pada keuangan Saudi sebesar U$ 8,5 milyar.

Di dunia secara umum, ada berbagai pertandingan olah raga, festival seni, upacara keagamaan yang diikuti oleh ratusan ribu orang. Mereka masuk ke lokasi pagelaran di satu waktu yang sama dan meninggalkan tempat di satu waktu yang sama pula, namun hampir tidak ada tragedi-tragedi seperti itu. Lantas mengapa pihak-pihak yang dapat menangani pertandingan dan festival seperti itu tidak diminta bantuannya? Mengapa tidak dikirim para insinyur dan administrator Saudi sendiri ke luar negeri untuk mempelajari disiplin ilmu ini, padahal ada ribuan pemuda Saudi yang pintar dan berkelayakan di bidang ini atau bidang-bidang lain yang lebih besar lagi, baik dari kalangan emir maupun khalayak umum secara bersamaan?

Jawabannya adalah ketidak acuhan, kecuekan, tidak adanya pengelolaan yang matang, arogansi, minimnya perhitungan dan penyelidikan yang transparan, dan pemberesan semua tragedi ini di bawah sejadah kelemahan dan penyangkalan setiap kali terjadi tragedi, karena para pejabat yang berwenang dalam soal ini umumnya adalah para emir keluarga yang berkuasa, baik langsung maupun tak langsung.

Kita bersimpati kepada semua korban serta memandang mereka sebagai syuhada di sisi Sang Maha Pencipta. Namun demikian, sebagai bangsa Arab dan sebagfai umat Islam, kita tidak boleh menutup mata, memaafkan dan menolerir pihak-pihak yang bertanggungjawab atas tragedi ini, betatapun tingginya kedudukan mereka.

Kita menuntut penyelidikan yang serius, ilmiah dan transparan untuk mengetahui semua fakta. Kami dan mayoritas umat Islam – kalau bukan seluruhnya- sudah kehilangan kesabaran, dan sudah tiba saatnya tragedi-tragedi demikian terhenti secara umum. Kini sudah saatnya musim haji dan tempat-tempat masy’arnya berubah menjadi tempat yang aman.

*Abdel Bari Atwan, jurnalis senior Arab dan pemimpin redaksi media online Rai al-Youm yang berbasis di London, Inggris. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL