Oleh: Husein Alwi Shahab

Hiruk pikuk panggung sosial-politik di Indonesia semakin hari semakin menggelitik seperti drama komedi reality show. Segala isu bisa menjadi komoditas politik, termasuk isu agama dan kemanusiaan semisal isu penindasan muslim Rohingya, Myanmar.  Akibatnya, hakikat masalahnya menjadi kabur.

Sejatinya, Rohingnya memang isu yang menarik untuk diamati. Ada isu ethnic cleansing, yang dilatari oleh sejarah kelam dan seringnya terjadi konflik antar etnis dalam kurun waktu lebih dari satu milenium. Menurut sumber Rakhine Rajawan, Rakhine adalah nama lain untuk sebuah kawasan kuno Arakan yang awalnya dihuni oleh kelompok Negrito yang disebut Rakhasas atau Bilus (buas).

Di sisi lain, secara geografis, Rakhine juga memiliki letak strategis dengan pesisir panjang yang berbatasan dengan Bangladesh. Letak strategis ini menjadi incaran beberapa negara, ditambah dengan adanya penemuan titik-titik sumber daya alam yang sangat besar.

Catatan Mohamed Ashraf Alam dalam Historical Background of Arakan menarik untuk disimak. Ia menyebutkan bahwa dari abad pertama Masehi hingga sebelum penjajahan Inggris pada abad ke-18, Arakan itu menjadi saksi silih bergantinya kekuasaan dari Mongolia, Budhis, hingga Islam. Khusus terkait dengan berkuasanya Islam di kawasan ini, sejarah menunjukkan bahwa Arakan sudah bersentuhan dengan Islam sejak masa keemasan Islam pada abad ke-7 yang menyebar ke Eropa Timur, Asia Tenggara dan Timur di bawah kekuasaan Khalifah Bani Abbasiah.

Masalah persentuhan kawasan Arakan dengan Islam di zaman Abbasiah ini menjadi menarik untuk dikaji. Sejarah mencatat bahwa salah satu ciri Khilafah Abbasiah adalah wataknya yang otoriter, kasar, ekspansionis, serta –tentu saja– teguh terhadap pendiriannya. Watak inilah yang disinyalir mempengaruhi corak dakwah Islam di Burma, yang ternyata sangat jauh berbeda dengan corak dakwah Islam di Nusantara. Islam di kawasan ini disebarkan oleh para pendakwah (dari Gujarat, Persia, atau habaib Hadramaut) yang bisa melebur dengan budaya setempat sehingga mereka lebih diterima.

Sejak awal, para pendakwah Bani Abbasiah Islam mencoba membangun kerajaan di Arakan. Namun, kedatangan Islam di tempat itu ditolak oleh kerajaan Pagan (849-1287) yang beragama Buddha dan mengundang terjadinya konflik.

Berikutnya, di masa kolonialisme, ketika Inggris mulai menjajah India, kesultanan Bengal, dan kekaisaran Burma, sudah ditemukan jejak awal mula peran kapitalis dan imperialis yang bermain di daerah tersebut. Inggris membawa Muslim Bengal (yang menjadi cikal bakal etnis Rohingya) untuk diperbudak mengelola tanah pertanian di Arakan. Populasi mereka menguat dan menyebabkan kebencian karena menguasai lahan pertanian di sana. Aye Chan, seorang Rakhine Budha yang kembali ke Arakan, mulai menyebarkan kebencian terhadap Muslim di kalangan orang Rakhine.

Kebencian Rakhine Budha terhadap Muslim pun dimulai, dan terus membesar. Puncaknya terjadi tahun 1942. Jepang datang bersama pemberontak Burma untuk mengusir Inggris dan pasukan sekutu di Arakan. Tidak jauh berbeda penjajahan Jepang di Indonesia, mereka juga membangun pemerintahan administratif  di Burma.

Pengaruh Jepang di kawasan itu mulai goyah saat Hiroshima dan Nagasaki dibom. Rakhine Budha memanfaatkan keadaan tersebut untuk menyerang Muslim Rohingya. Maka, pembantaian tak terhindarkan. Dendam akibat pembantaian etnis Rohingya saat itu terus melekat dan seakan tak pernah usai. Pada awal tahun kemerdekaan Myanmar di periode 1948-1962, muncul gerakan separatis mujahiddin. Para mujahiddin tersebut melakukan serangan terhadap pemerintah dan menginginkan Arakan lepas dari Negara Myanmar.

Pemerintah Myanmar merespon serangan itu sebagai bentuk pemberontakan. Militer melancarkan serangan terhadap perkampungan, persembunyian dan tempat-tempat para pemberontak dan berhasil meredam gerakan tersebut. Namun dendam terhadap pembantaian itu menorehkan luka sejarah pada anak-anak mereka. Sering kali sebuah konflik kecil bisa menjadi pemantik kerusuhan besar. Muslim Rohingya sudah membangun pasukan militan secara tersembunyi jauh sebelum Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) –yang berafiliasi dengan Al-Qaeda– dibentuk.

Seorang aktivis aktivis kemanusiaan warga muslim Myanmar yang bernama Kyaw San Oo menuturkan pandangan kaum Muslimin di Myanmar (bukan etnis Rohingya) terkait dengan keadaan Myanmar. Menurutnya, kaum Muslimin dan kalangan dalam negeri di Myanmar umumnya melihat Muslim Rohingya di Rakhine sebagai orang Bangladesh yang mengungsi ke Myanmar, serta sering melakukan tindak onar, pencurian, dan suka berbohong.

Menurutnya pula, masalah konflik etnis di Burma sudah ada sejak berabad-abad yang lalu. Konflik ini bukan konflik agama. Hubungan komunitas Muslim, Hindu, Budha, dan Kristen sejak lama berjalan dengan harmonis karena dijamin oleh konstitusi. Tidak ada konflik antar agama maupun etnis di Myanmar. Justru sisa-sisa etnis Rohingya yang mengalami pembantaian pada periode abad ke-7 sampai 18 sudah menjadi warga negara sejak awal kemerdekaan.

Begitulah potret tragedi Rohingya dalam konteks sejarah. Ada dendam politik di mana etnis yang kebetulan beragama Islam menjadi pelaku sekaligus korbannya. Di samping itu, etnis yang terlibat konflik merupakan pendatang.

Apapun juga, saat ini memang terjadi tragedi kemanusiaan yang sangat mengenaskan. Siapapun mereka, kita harus menunjukkan simpati dan memberikan pertolongan. Sebagaimana yang dikatakan Imam Ali Ibn Abi Thalib, saudara yang bukan seiman adalah saudara dalam kemanusiaan.

Namun, sekali lagi, adalah keliru jika fokus perhatian kita malah melulu tertuju kepada hal-hal yang tidak substantif, sambil membingkai isu ini melulu sebagai komoditas politik. Hiruk pikuk yang terjadi di Kuil Shwedagon sama sekali tidak ada kaitannya dengan Candi Borobudur, karena ummat Budha di sana berbeda dengan kaum Budha di Nusantara; karena corak dan cara beragama Islam di sana juga berbeda dengan corak Islam di Nusantara. Sejarah masuknya Islam di antara kedua kawasan ini juga betul-betul berbeda.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL