Rijal Mumazziq Z*

rizalBeberapa hari silam, penulis diundang mengisi pelatihan di GP Ansor Cabang Ponorogo. Usai acara, kami berbincang mengenai banyak hal. Di antara yang kami perbincangkan ialah masjid-masjid kuno di Ponorogo.

Di kota ini, keberadaan masjid-masjid kuno yang berusia puluhan hingga ratusan tahun masih terlestarikan dengan baik. Yang paling terkenal adalah Masjid Tegalsari peninggalan KH. Muhammad Hasan Besari. Masjid ini terdapat di komplek makam keluarga “Besari”; keluarga ulama yang berpengaruh di Jawa Timur era abad XVIII-VIX. Jika pembaca melihat arsitektur Masjid Demak, maka Masjid Tegalsari tidak jauh beda.

Arsitektur masjid-masjid Nusantara memang khas: menggunakan kayu, memiliki pilar-pilar kayu besar di tengah, dan memiliki tiga struktur atap yang memiliki filosofi Islam, Iman, dan Ihsan.

Awalnya, tiga tingkatan atap ini merupakan salah satu strategi Islamisasi yang dilakukan Walisongo. Mereka dengan bijak tidak langsung membangun masjid menggunakan struktur dan corak Timur Tengah, melainkan disesuaikan dengan konsepsi “jalan keselamatan” masyarakat yang baru memeluk Islam. Tiga tingkatan atap adalah jalan keselamatan, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Kita lihat betapa lembutnya strategi mereka, bahkan arsitektur-pun menjadi media dakwah yang efektif dan membumi.

Hingga kemudian, pada babakan penyebaran Islam di era berikutnya di berbagai wilayah Nusantara, corak arsitektur semacam ini lazim dijumpai di setiap kawasan, dimana Islam masuk dan berkembang pada abad XVI-XXI. Arsitekturnya tetap, hanya saja bahan pembuatan masjid, lantai, tiang, dan atap masjid berbeda. Adapula yang memberi sentuhan unik dengan mendirikan masjid di atas tiang pancang kayu sebagaimana dijumpai di Kalimantan dan Sulawesi.

Keterlibatan kearifan lokal ini juga tampak dalam ritus pembangunan masjid, dimana para ulama di zamannya ditunjuk oleh sultan maupun penguasa daerah menjadi pimpinan proyek pembangunan masjid. Para ulama menjalani tirakat, mengontrol kualitas (quality control) bahan-bahan, hingga menentukan arah kiblat, sedangkan para tukang yang terlibat pantang melakukan Mo-Limo (berjudi, minum arak, berzina, mencuri dan membunuh). Tatkala masjid sudah selesai, ada yang membangun menara di samping masjid untuk muadzin ada pula yang meletakkan beduk sebagai alat penanda tiba waktu shalat.

Hingga kemudian, pada periodisasi perkembangan Islam dan pertumbuhan politik Islam di berbagai kawasan membuktikan, arsitektur masjid di berbagai kesultanan Nusantara juga memiliki arsitektur sama. Misalnya Masjid Kesultanan Demak, Masjid Kesultanan Tidore dan Ternate. Sedangkan masjid di berbagai alun-alun Jawa pada awalnya juga memiliki arsitektur yang sama. Fakta ini membuktikan jaringan Islam Nusantara yang kuat dengan adanya keseragaman arsitektur tempat ibadah dan filosofi di dalamnya ,baik masjid maupun surau.

Arsitektur Yang Mulai Punah?

Arsitektur bersusun tiga berbeda dengan masjid di Timur Tengah, juga berbeda dengan Masjid di kawasan Afrika Utara yang berusia ratusan tahun (sebagaimana masjid yang dibuat dari tanah liat di Mali, misalnya).

Keunikan bentuk dan nilai filosofis di dalamnya merupakan bagian dari kearifan lokal yang layak dipertahankan. Sangat disayangkan manakala melihat berbagai pembangunan dan renovasi masjid di daerah yang tidak lagi menggunakan desain unik dan khas ini.

Keberadaan masjid dengan ciri beratap tiga ini, hemat penulis, mulai “punah” akibat dominasi arsitektur modern yang berkiblat ke Turki dan Timur Tengah dengan ciri khas berkubah dan memiliki menara pendamping. Penggunaan bahan baku kayu untuk pembangunan masjid juga mulai jarang, berganti dengan dinding dari batu bata. Masjid modern juga ditandai dengan banyaknya ornamen modern lainnya: kaligrafi ayat suci dan hadis.

Mulai punahnya arsitektur khas Nusantara ini terjadi seiring dengan banyak renovasi masjid lama dan diganti desain terbaru bergaya India, Turki, bahkan dengan corak arsitektur posmodern. Masjid-masjid baru, yang tumbuh berkembang dari sisi kuantitas, lebih banyak menggunakan arsitektur modern (art-deco), minimalis (biasanya di perumahan dan perkantoran), dan desain mutakhir lainnya.

Arsitektur masjid ala posmo terlihat senafas dengan masyarakat posmodern yang gemar menampilkan lelaku agama secara ekstravagan dan disertai wujud simbol-simbol agama secara pseudomatik di wilayah publik. Mereka pun membangun masjid secara glamour, luks, tapi seolah miskin ruh spiritualitas. Sebaliknya, masyarakat zaman dulu seolah menghendaki tempat ibadah ini menjadi sesuatu yang sakral, benar-benar sebagai “rumah Tuhan”, menawarkan keheningan yang ritmis, serta ketenangan dalam ritus zikir “menuju” Allah.

Di Ponorogo pula, beberapa hari silam, saya melihat, masyarakat ogah meninggalkan arsitektur klasik yang khas ini karena kecintaan terhadap warisan leluhur. Kalaupun merenovasi, mereka mempertahankan bentuk dan bahan-bahan pembangunan masjid (jenis kayu dan lain sebagainya).

“Mengapa tidak menggunakan arsitektur modern?” tanya saya.

“Ibadah itu urusan hati. Kami lebih nyaman beribadah dalam kesederhanaan, ketenangan, dan di dalam masjid yang dibangun melalui tirakat leluhur kami, Mas.” (LiputanIslam.com)

*penulis adalah warga Nahdliyin, Direktur Penerbit Imtiyaz Surabaya

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL