husein alkafOleh: Husein Muhammad Alkaf*

Akhir-akhir ini perbincangan seputar radikalisme agama menjadi topik yang paling hangat menyusul terjadinya berbagai kekerasan, ujaran kebencian (hate speech), pembantaian dan penyembelihan manusia yang dilakukan oleh atas nama agama. Sekelompok orang,sambil membawa simbol-simbol agama, melakukan berbagai aksi antikemanusiaandi beberapa belahan dunia, termasuk di Tanah Air. Dan yang sangat disayangkan dan menyedihkan, karena kebanyakan pelakunya adalah muslim, saat publik membicarakan tentang radikalisme agama, hampir pasti yang dimaksud adalah radikalisme Islam.

Padahal, di sisi lain, banyak pihak berusaha meyakinkan kepada publik bahwa ajaran Islam sesungguhnya jauh dari segala bentuk radikalisme. Kalimat-kalimat seperti “Islam adalah agama kasih sayang (rahmatan lil alamin)” atau “kehadiran Nabi Muhammad saw. merupakan anugerah kasih sayang (alRahmah alMuhdâh)” sering diulang-ulang oleh para ulama. Namun, realitas menunjukkan bahwa sebagian kelompok Islam justru pelaku utama kekerasan di muka bumi, sehingga akibatnya, Islam diidentikkan dengan kekerasan, ujaran kebencian, pembunuhan dan peperangan. Apakah gerangan penyebab kesenjangan ini?

Berbagai analisis bisa dikemukakan. Sebagian penulis akan mengajak pembaca untuk melacak akar radikalisme dalam Islam ke sejarah masa lalu. Namun dalam kesempatan ini, penulis mencoba untuk mengaplikasikan sebuah teori psikologi,the theory of multiple intelligencesuntuk melacak sebab munculnya radikalisme agama. Teori yang digagas oleh pakar psikologi Amerika, Dr. Howard Gardner ini banyak diaplikasikan di berbagai pusat-pusat pendidikan di Tanah Air.

Sebelumnya, perlu kami tegaskan bahwa yang dimaksud dengan radikalisme dalam Islam adalah tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sebagian muslim atas nama ajaran Islam; bukan kekerasan yang dilakukan karena faktor ekonomi, politik, dan masalah sosial lainnya, meskipun sebagian pelakunya muslim.

Dalam buku fenomenalnya Frame of Mind (1983) dan Intellegence Reframed (2000),Dr. Howard Gardner menyebutkan delapan intelegensi (kecerdasan) yang dimiliki manusia, yaitu kecerdasan logis-matematis, visual-spasial, musikal, gerak-badan/kinestik, interpersonal, intrapersonal, naturalis dan eksistensial. Dia berasumsi jika kecerdasan-kecerdasan ini mendapatkan perhatian yang layak sehingga berkembang dengan baik, anak didik akan menjadi manusia yang bisa dikatakan “ sempurna”.

Penulis meyakini, didasarkan pada sumber-sumber Islam, Nabi Muhammad saw. adalah sosok yang dalam dirinya telah berkembang delapan kecerdasan ini secara sempurna sehingga beliau menjadi sosok yang sempurna (insan kamil) sehingga harus menjadi teladan tertinggi umat manusia (uswatun hasanah). Dan konsekuensinya, ajaran yang dibawanya didekasikan untuk menciptakan manusia-manusia yang sempurna. Oleh karena itulah agama Islam disebut sebagai agama fitrah.

Yang menjadi persoalan kemudian adalah adanya reduksi dan degradasi dalam pengajaran dan pengamalan agama Islam yang fitrah itu. Agama Islam yang sejatinya dapat mengembangkan semua kecerdasan itu justru tidak berkembang pada sebagian para pengikutnya. Masih banyak kecerdasan-kecerdasan yang belum berkembang di tengah umat Islam.

Misalnya saja, dalam kecerdasan musikal, yaitu kecerdasan yang mampu mengungkapkan emosi cinta lewat lagu, puisi, sastra dan musik. Melalui kecerdasan ini manusia dapat mengeluarkan kesenangan dan kesedihan yang menimpa dirinya, dan pada gilirannya dia akan merasakan ketenangan dan kedamaian. Syair-syair, kata-kata puitis dan kasidah-kasidah pujian yang digubah oleh para Sufi dalam mengungkapkan isi hati mereka telah menciptakan ketenangan dan kedamaian hati; ayat-ayat Qur’an yang dibacakan dengan nada dan lagu yang indah dan merdu oleh para Qori’ Mesir dapat menciptakan kenikmatan dan ekstase bagi para pendengarnya; dan senandung duka dan derita (ma’tam) atas kesyahidan Ahlul Bait telah meluluhkan hati dan menderaikan air mata para pengikutnya. Semua itu merupakan jalur-jalur kecerdasan musikal, dan melepaskan mereka dari jiwa yang sesak dan marah.

Namun, jalan untuk mencapai kecerdasan musikal ini justru diharamkan oleh sekelompok umat Islam yang menganut paham Wahabiyah. Berbeda dengan kaum Sufi dan Syiah, para pengikut Wahhabiyah mengharamkan segala bentuk kesenian dan menganggap bid’ah pujian dan ma’tam. Karena itu, kecerdasan musikal di tengah mereka tidak berkembang. Mereka tidak terbiasa mendengar lantunan syair-syair pujian dan senandung-senandung duka. Bahkan mereka mengharamkan pembacaan Qur’an ala Qori Mesir. Jalur-jalur kecerdasan ini telah ditutup rapat. Karena itu emosi mereka meledak-ledak. Dada mereka telah sesak dengan kebencian. Tidak kuat dengan itu, maka yang keluar dari mereka adalah ujaran kebencian dan sikap permusuhan. Semua yang pernah berziarah ke Mekkah dan Medinah tentu telah menyaksikan betapa dua tempat suci itu jauh dari suasana yang tenang. Yang ada adalah teriakan para muthawwi’ yang berbunyi, “Haram! Bid’ah! Musyrik!”

Andai dua tempat suci itu dikuasai para ulama al-Azhar dan Syiah, bisa dipastikan yang akan terdengar di Haramain adalah ayat-ayat dengan suara merdu Abdul Basith dan Qori lainnya, dan ruangan-ruangannya akan dipenuhi dengan halaqah-halaqah zikir, kasidah pujian, serta senandang duka.

Kecerdasan-kecerdasan lain, juga bisa dianalisis dari sudut pandang ini. Misalnya kecerdasan interpersonal yang dihambat oleh paham Wahabi menyebabkan maraknya intoleran dan kekerasan terhadap orang-orang di luar Wahabi. Kecerdasan bahasa, juga sangat berperan. Kita tahu kaum Wahabi selalu berpegang pada teks dan menafikan pemaknaan yang melampaui teks. Hal ini mengakibatkan munculnya generasi yang bersumbu pendek, langsung marah saat melihat ada perbedaan penafsiran. Dan lain sebagainya.

Penelitian lebih lanjut tentang hal ini sangat penting untuk dilakukan, untuk kemudian diaplikasikan dalam pendidikan di Tanah Air, demi menjaga agar NKRI tidak runtuh akibat dihambatnya kecerdasan anak-anak bangsa oleh paham Wahabi. Wallahu a’lam.

*penulis adalah alumnus Hauzah Ilmiyah Qom dan magister UIN Sunan Gunung Jati Bandung

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL