Wael NawaraOleh: Wael Namara*

Mantan panglima militer Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, meraih kemenangan besar pada pemilihan presiden (pilpres) pendahuluan di kalangan ekspatriat Mesir. Komisi Pemilihan Umum mengumumkan bahwa 318.033 orang Mesir memilih di kedutaan dan konsulat Mesir di seluruh dunia. Angka ini sekitar setengah dari jumlah warga ekspatriat yang memiliki hak memilih. Jumlah ini lebih tinggi dari pemilu 2012, di mana hanya 306.000 yang datang memilih. Sisi meraih 296.628 suara atau 94,5% dari suara sah, sedangkan 17.207 suara diraih Hamdeen Sabahi, capres lainnya.

Kampanye Sabahi mengatakan bahwa pilpres di dalam negeri akan menjadi faktor penentu dalam hasil pemilu . Namun, banyak warga Mesir yang sudah merayakan kemenangan Sisi di pilpres ekspatriat.

Untuk memahami mengapa hal ini terjadi , kita harus menggali ke dalam pikiran kolektif Mesir yang melihat bahwa negara akan stabil jika ada presiden yang populer dan kuat. Saya diwawancarai televisi nasional Mesir dua kali minggu ini, dan dalam kedua acara itu, pembawa acara mengerutkan kening pada saya saat saya memberikan analisis bahwa Mesir telah memutuskan dan bahwa pemilu di dalam negeri hanya akan memberi stempel akhir.

Salah satu program TV itu bertema ” Mesir memutuskan” dan saya mengatakan bahwa tampaknya bahwa Mesir “telah memutuskan”. Dan pernyataan saya ini sepertinya tidak menyenangkan pembawa acara. Tampaknya bahwa media milik nasional mencoba untuk menunjukkan netralitas , terutama karena banyak analis sudah meragukan integritas proses pemilu .

Kenyataannya adalah, ini adalah cara Mesir melakukan sesuatu. Mesir adalah negara konsensus. Memang benar bahwa ada sebagian dari pemilih yang mendukung, atau pernah mendukung, Ikhwanul Muslimin (IM). Tapi blok ini tampaknya menyusut, setidaknya untuk saat ini. Apalagi, IM berencana memboikot pemilu. Padahal IM biasanya meraih keberhasilan dengan kemampuan memobilisasi warga besar-besaran selama pemilu. Namun kini, kelompok ini ditetapkan sebagai organisasi teroris dan ribuan pemimpinnya dipenjara. Struktur komando, pendanaan, dan kapasitas logistiknya sedang sangat lemah.

Tanggal 22/5 lalu, pengadilan menjatuhkan hukuman kepada Hosni Mubarak, yaitu tiga tahun penjara dan anak-anaknya dihukum masing-masing empat tahun hukuman atas tuduhan penggelapan terkait istana presiden. Setidaknya untuk saat ini, rumor dan spekulasi bahwa rezim Mubarak akan kembali bangkit dapat ditepis.

Mubarak telah muncul dalam berita dalam beberapa minggu terakhir dan para pendukungnya bahkan merayakan ulang tahunnya pada tanggal 4 Mei. Aktivis melihat ini sebagai tanda kembalinya masa lalu yang buruk. Apalagi, para aktivis revolusioner justru menerima hukuman penjara yang kejam akibat diberlakukannya hukum anti-demonstrasi yang keras. Aktivis yang baru-baru ini dikirim ke penjara adalah Mahinour El Masry, aktivis terkenal dari Alexandria. Pengadilan atasnya dilaksanakan di Alexandria dan diikuti oleh gelombang protes di kalangan aktivis .

Jadi, dengan berita kemenangan telak Sisi di luar negeri, apa yang tersisa dari Revolusi 25 Januari ? Kita cenderung melupakan sifat alami revolusi, di mana perubahan tidak pernah mengikuti garis lurus. Butuh waktu lebih dari 70 tahun bagi revolusi Perancis untuk berhasil mendirikan Republik Ketiga. Revolusi Amerika butuh hampir 90 tahun dan perang saudara skala penuh sebelum warga keturunan Afrika-Amerika memperoleh hak pilih. Revolusi Januari telah mengubah Mesir selamanya. Revolusi Mesir yang baru tiga tahun berlalu membawa dampak bahwa tidak akan ada lagi presiden Mesir atau pemerintah yang akan berkuasa sangat lama.

Berita kudeta di Thailand dan pemberontakan bersenjata Jenderal Khalifa Hifter di Libya, muncul candaan di tengah warga Mesir bahwa gara-gara Mesir-lah kudeta menyebar. Mereka membandingkannya dengan tahun 2011, ketika majalah TIME menyebut para demonstran sebagai “Person of the Year”, yang merupakan pengakuan bahwa gerakan protes yang menyebar di Timur Tengah adalah berkat Mesir (dan Tunisia).

Lalu, apakah IM dapat melakukan sesuatu untuk menggagalkan pemilu mendatang? Kementerian Dalam Negeri di Mesir mengumumkan, pihaknya telah mengungkap beberapa “sel ” milik IM yang diduga merencanakan upaya penggagalan pemilu mendatang di Behira dan Assiut . Tapi dengan 13.888 posko pemilu dan lebih dari 50.000 kotak suara, sangat sulit untuk melakukan sesuatu pada skala yang cukup luas yang secara efektif dapat mengganggu proses pemungutan suara .

Sebuah kelompok teroris bahkan mungkin menargetkan Sisi. Sisi pun dalam sebuah wawancara televisi mengatakan bahwa ada dua upaya pembunuhan atas dirinya. Tapi Sisi hanya akan mengikuti pilihan rakyat. Jika dia menghilang dengan alasan apapun, rakyat Mesir cenderung akan memilih orang lain yang akan berjalan dengan mereka dalam arah yang sama, tidak lagi akan memilih tokoh IM. Hasil pilpres di kalangan ekspatriat Mesir menunjukkan tekad itu, sehingga pilpres mendatang hanya akan memberikan pengesahan penuh atas hasil itu. Tidak akan ada kejutan lain yang akan muncul.

*Wael Nawara adalah penulis dan aktivis Mesir. Tulisan ini diterjemahkan dari artikel  “the Spoiler of Egypt’s Election” di Al-Monitor Egypt Pulse. Dia juga co-founder dari Partai Al Dostor, Asosiasi Nasional untuk Perubahan, dan Partai El Ghad. 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL