Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Chips! Bocah-bocah itu sudah dua tahun tidak merasakan kripik kentang. Ketika seseorang berteriak menawarkan camilan itu, mereka sontak berlari mendekat. Beberapa orang milisi bersenjata memotret mereka, yang berpose dengan senyum riang. Tak ada yang menyangka bahwa itulah senyuman terakhir mereka. Lalu mereka kembali mengerumuni mobil yang menyediakan camilan. Beberapa menit kemudian, duarrr!! Terdengar ledakan yang amat dahsyat. Ratusan orang, termasuk anak-anak itu, tewas tercabik-cabik, darah memuncrat ke berbagai arah. Suasana begitu mengerikan.

***

Kafarya dan Foua adalah dua desa berpenduduk mayoritas Syiah, terletak sekitar  10 km di timur laut  provinsi Idlib, atau 80 km dari pinggir provinsi Hama. Sejak awal konflik Suriah, Idlib menjadi salah satu pusat pertempuran: milisi bersenjata yang berafiliasi dengan Al Qaida (Al Nusra, Ahrar Al Sham, Jaysh al-Fattah, dll) berusaha menguasai Idlib, sementara tentara Suriah berupaya mempertahankannya. Namun akhirnya, pada Maret 2015, tentara Suriah terpaksa angkat kaki dari Idlib dan kawasan itu secara penuh dikuasai oleh teroris. Kafarya dan Foua pun terisolasi, dikepung oleh teroris sementara pemerintah tak mampu melindungi.

Sejak 2012 penduduk di dua desa berpopulasi 40.000 jiwa itu sudah melakukan perlawanan terhadap kelompok-kelompok teroris yang ingin merebut desa mereka. Saat masih ada tentara Suriah, akses keluar-masuk desa masih terbuka sehingga mereka masih bisa mendapatkan suplai pangan dan kebutuhan pokok lainnya. Namun, sejak tentara Suriah pergi, mereka benar-benar sendirian. Teroris memutus aliran air, listrik, jaringan komunikasi, dan menutup akses masuk pangan dan obat-obatan. Di saat yang sama, hampir setiap hari mereka secara brutal menghujani kedua desa itu dengan roket.

Sekolah-sekolah hancur akibat bom dan anak-anak harus belajar di lapangan. Rumah sakit kekurangan suplai obat-obatan sehingga perawatan terhadap korban bom dan orang-orang yang sakit sangat minim. Operasi bahkan dilakukan tanpa ada cadangan oksigen. Suplai pangan hanya bisa dilakukan sesekali oleh pemerintah Suriah melalui udara, dengan resiko pesawat yang membawanya akan ditembak teroris.

Bulan Sabit Merah melaporkan, pada bulan Agustus  2015, pasukan teroris mendapatkan suplai roket seberat 500 kilogram dari Barat, Saudi, dan Turki lalu menembakkannya ke arah dua desa itu. Ratusan orang tewas dan terluka. Namun warga Kafarya dan Foua tetap bertahan menjaga desa mereka.

***

screen-shot video, anak-anak berebut makanan yang diberi oleh teroris

 

pose terakhir sebelum ledakan bom

 

foto dan video dapat dilihat di sini

***

Sementara itu, milisi bersenjata juga dalam keadaan terkepung di Madaya dan Zabadani, kota kecil di dekat Damaskus. Tentara Suriah memblokade mereka, memaksa mereka untuk mengembalikan kontrol atas kota tersebut. Di kedua kota itu, ada puluhan ribu warga Suriah yang terjebak; sebagaimana warga di Kafarya dan Foua. Namun sikap dunia berbeda. Media mainstream dan media-media pro-teroris dengan sangat gencar memberitakan adanya ‘tragedi kemanusiaan’ di Madaya. Di Indonesia, kejadian ini langsung dikapitalisasi oleh ormas-ormas spesialis pencari dana. Foto-foto palsu disebarkan, anak-anak yang kurus kering kelaparan, konon karena suplai pangan dilarang masuk ke Madaya oleh pasukan Assad. Dengan segera terbukti, itu adalah foto-foto palsu. (Baca: Foto Palsu Aljazeera tentang Madaya)

Cerita yang sebenarnya, suplai pangan bisa masuk, namun dikontrol oleh teroris. Ada sekitar 600 teroris yang menguasai Madaya (60% Ashar al-Sham, 30% Jabhat al-Nusra, dan 10% FSA). Mereka memanfaatkan suplai pangan sebagai alat untuk menekan warga. Warga Madaya tidak bisa keluar menyelamatkan diri karena ditahan oleh teroris. (baca: Teroris Rampas Makanan di Madaya / Apa yang Terjadi di Madaya? Ini Jawaban PCNU Suriah)

Teroris menjadikan Kafarya dan Foua sebagai alat tawar-menawar dengan pemerintah Suriah. Sejak Oktober 2015, sebenarnya sudah ada kesepakatan antara pemerintah dengan milisi teroris: teroris di Madaya dan Zabadani dipersilahkan pergi, sementara warga Kafarya dan Foua juga dibebaskan. Namun, ada banyak faksi teroris yang terlibat dan di antara mereka ada perselisihan, sehingga perjanjian itu tidak terlaksana. Pada Desember 2016, dalam kesepakatan evakuasi Aleppo timur, para teroris diantar dengan bus ke Idlib, dan bus akan kembali ke Aleppo dengan membawa warga sipil dari Kafarya dan Foua. Namun yang terjadi, para teroris membakar bus-bus itu setibanya mereka di Idlib.

Sepekan yang lalu, kesepakatan kembali terjalin dan dimulailah proses evakuasi di kedua kubu. Warga Kafarya dan Foua pun menaiki bus-bus untuk menuju Aleppo; sementara dari arah Madaya dan Zabadani, milisi teroris bersama keluarga mereka bergerak menuju Idlib. Bus-bus dari Kafarya dan Foua sebagian besarnya diisi oleh perempuan dan anak-anak. Sampai di kawasan Rashidin di dekat Aleppo, mereka ditahan oleh milisi bersenjata. Pada hari Sabtu, 15 April 2017, terjadilah tragedi bom itu.

Selain ratusan orang yang tewas seketika saat kejadian, diberitakan ada 200 anak-anak yang hilang hingga kini. Mereka yang terluka pun sebagian dibawa oleh “tim penyelamat” teroris (White Helmets) ke Turki dan Idlib, padahal posisi mereka lebih dekat ke rumah sakit di Aleppo. Kemungkinan besar, skenario lama akan terulang. Pada bulan Agustus 2013, para “jihadis” menculik warga di pinggiran Latakia, lalu 2 pekan kemudian muncul video ‘serangan gas sarin’ di mana korbannya adalah orang dan anak-anak yang diculik itu. Lalu, sepekan sebelum kejadian “serangan senjata kimia” di Idlib tanggal 4 April, ada penculikan terhadap 250 orang di kawasan Majdal dan Khattab oleh “jihadis” dan menurut saksi mata, sebagian korban tewas di Idlib yang terlihat di foto dan video adalah orang-orang dari Majdal dan Khattab.

***

Media-media mainstream, seperti biasa berusaha menyamarkan kebrutalan tanpa batas yang dilakukan teroris yang mereka sebut “moderate rebels” (pemberontak moderat) dengan cara menyebut penduduk Kafarya dan Foua sebagai “warga pro-rezim”, atau “belum jelas siapa pelakunya”, atau dengan mewawancarai White Helmets dan teroris sebagai narasumber berita. Dan publik pun diam. Tidak ada seruan Save Kafarya dan Foua sebagaimana dulu mereka berteriak Save Madaya.  Kemunafikan ini masih akan terus berlanjut, selama media mainstream dan media pro-mujahidin terus-menerus melakukan manipulasi informasi atas konflik ini. Dan kebrutalan para teroris tidak akan berhenti selama negara-negara sponsor perang terus menyuplai dana dan senjata kepada mereka.[]

*Pengamat Timur Tengah, Direktur Indonesia Center for Middle East Studies (ICMES)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL