Tom SaptaatmajaTom Saptaatmaja*

Hasil quick count pilpres rupanya belum membuat bangsa ini bisa bernafas legas. Setelah lebih dari tiga pekan melewati suasana panas masa kampanye, konflik sepertinya masih akan berlarut. Sejak tumbangnya rejim Soeharto pada 1998, sudah tiga kali Indonesia menggelar tiga kali Pemilihan Presiden (Pilpres) secara langsung, yakni tahun 2004, 2009 dan 2014. Namun dibanding dua pilpres sebelumnya, Pilpres 2014 inilah yang terpanas.

Karena hanya diikuti dua kandidat presiden dan wakilnya, kompetisi dalam Pilpres kali ini menjadi sangat sengit dan ketat. Meski sudah ada aturan main dalam demokrasi dan etika politik yang seharusnya diutamakan, namun politik sebagai seni dari segala kemungkinan untuk meraih kekuasaan, akhirnya jatuh ke dalam pragmatisme yang menghalalkan segala cara yang tidak sportif. Belum pernah sebelumnya terjadi di negeri ini, kampanye hitam yang menyebar fitnah dan kebencian bernuansa SARA (Suku, Ras, Agama dan Antargolongan) sedemikian marak, seperti dalam kampanye Pilpres tahun ini.Memprihatinkan, Indonesia yang merupakan negeri yang sangat beragam ini, coba dipecahbelah dengan kampanye hitam yang mengatasnamakan SARA.

Media, yang seharusnya menjadi pilar keempat demokrasi, justru (sebagiannya) berkolaborasi dengan kekuatan-kekuatan pencari kekuasaan. Mereka menjadi media partisanserta mengabaikan prinsip obyektivitas dan keberimbangan. Media sosialyang seharusnya dimanfaatkan sebagai media silaturahim antar sesama, justru dimanfaatkan sebagai medan laga untuk memfitnah, mengumpat, dan akhirnya berujung pada putusnya persaudaraan (unfriend).

Di-blow up-nya isu SARA itu membuat orang lupa pada tujuan mulia dari politik, yakni terwujudnya bonum commune,kesejahteraan bersama atau kebaikan kolektif. Yang ada malah malum commune atau keburukan kolektif. Maka ketika memasuki tempat pemungutan suara, pasti banyak orang yang masih terluka dan marah akibat disinggungnya sentimen SARA.Agama yang seharusnya menjadi sarana penyejuk lewat ajaran-ajaran baiknya, tiba-tiba bisa diperalat oleh penebar fitnah sebagai alat kebencian.

Sejatinya perilaku seperti itu justru telah menodai keagungan ajaran agama yang membawa kasih sayang.Mereka juga sudah menghina Tuhan karena mendegradasi agama dan martabat manusia.Mereka bahkan seolah memosisikan Tuhan atau Nabi ikut mencoblos dalam Pilpres.

Maraknya kampanye hitam yang menebar fitnah sebenarnya menjadi bukti kita masih belum mampu menoleransi perbedaan.Yang berbeda atau yang dianggap lain, dipersepsi sebagai sebuah aib. Pantas dan sah untuk dilenyapkan. Simak saja,etnis tertentu, agama tertentu, atau mazhab tertentu yang jumlahnya minor, kerap dijadikan bahan kampanye hitam untuk menjatuhkan kredibilitas seseorang. Jelas ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap cita-cita para pendiri bangsa. Bapak Bangsa kita yang dulu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pastilah mendambakan  Indonesia yang bisa menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi semua orang dari semua suku, agama, ras, dan golongan.Karena bukankah suku atau ras adalah suratan takdir? Bagaimana mungkin kita menyalahkan seseorang hanya karena suku dan rasnya berbeda dari kita? Bukankah tidak ada paksaan dalam agama? Mengapa kita merasa lebih berhak daripada Tuhan untuk menyalahkan orang lain hanya gara-gara agamanya berbeda dari kita?

Segala bentuk kampanye hitam yang mengumbar fitnah bernuansa SARA sesungguhnya merupakan kekerasan verbal. Kekerasan akan menimbulkan luka. Kekerasan senjata akan menyebabkan luka fisik. Sedang kekerasan verbal, akan melukai hati sesama. Bila luka fisik biasanya mudah disembuhkan oleh obat, luka hati jauh lebih sukar untuk sembuh. Seorang manusia harus memiliki kelapangan hati dan kesabaran luar biasa untuk menyembuhkan luka hatinya. Tak heran bila agama sampai menyatakan bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Pembunuhan hanya akan menyebabkan seseorang sakit sebentar lalu menemui Tuhannya. Fitnah akan membuat si korban fitnah menanggung rasa pedih hingga akhir hayatnya.

Dan ketika kampanye hitam yang berisi fitnah dan kebohongan dipercaya publik, berarti ada kematian akal sehat. Maka mari kita belajar menghidupkan lagi akal sehat itu; kita cintai kebenaran. Cara-cara tidak sportif untuk meraih kekuasaan dan menghalalkan segala cara, seperti kampanye hitam, money politics, atau kecurangan dalam penghitungan suara, jelas menodai kebenaran dan demokrasi yang hendak kita bangun.

Pilpres telah usai. Semoga, siapapun presiden yang disahkan oleh KPU kita terima dengan lapang dada. Mari kita cukupkandi sini segala fitnah dan sumpah serapah, dan tidak kita ulangi pada proses demokrasi selanjutnya. Mari kita sama-sama saling menyembuhkan luka yang telah tertoreh akibat perang kata-kata selama proses pilpres ini.

*Kolumnis dan Aktivis Lintas Agama, twitter@tom_saptaatmaja

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL