affanOleh: Affan Ramli*

Islam Nusantara digadang-gadang jadi perisai Indonesia menangkal arus ekstrimisme Islam yang bersumbu di dunia Arab. Nahdatul Ulama dan Menteri Agama mempromosikannya secara meluas, tetapi belum menawarkan kerangka pikir dan kerangka kerjanya dengan jelas. Segala hal yang diberitahukan kepada publik sejauh ini tentang Islam Nusantara hanyalah ekspresi luaran. Berkisar pendekatan inklusif, ramah-tamah dan kultural pembumian Islam di Indonesia. Azyumardi Azra selangkah lebih cepat, Islam Nusantara dalam pandangannya tersusun dari tiga unsur utama: teologi Asy’ariyah; fiqh Syafi’i; dan tasawuf al-Ghazali.

Rangka Islam Nusantara usulan Azra lebih jelas, namun lebih lemah dari sisi kapasitasnya mereduksi tindakan-tindakan intoleran terhadap keberagaman mazhab-mazhab Islam di Indonesia. Pertama, adanya pembatasan aliran teologi, fiqh, dan tasawuf dari Islam Nusantaranya Azra, dan kedua, tokoh yang dijadikan imam pemikiran, seperti Al-Ghazali, memiliki rekam-jejak intoleransi dalam sejarah Islam.

Islam Nusantara dapat jadi perisai takfirisme dan ekstrimisme dalam pandangan saya, jika bangunan ontologi (mabahisul wujud) dan epistemologinya (nadhariyatul makrifah) diracik ulang dengan kokoh. Di atas bangunan dasar itu disusun kerangka analisis (ushul fiqih) dan kerangka kerja (ushul tadbiq) Islam Nusantara dalam masyarakat Muslim Indonesia dan Asia Tenggara. Usaha menyusun bangunan keilmuan Islam Nusantara karenanya adalah pekerjaan menuntaskan pertanyaan mengapa Islam awal di rantau Asia Tenggara berwajah ramah pada keberagaman?

Sufisme

Beruntungnya kita, Islam datang ke Nusantara ketika konstruksi ilmu agama di dunia Islam didominasi oleh pemikiran sufisme. Ahli sejarah bersepakat Islam awal yang datang dan berkembang di nusantara adalah Islam sufisme (Amirul Hadi, 2010). Fakta ini cukup menjelaskan mengapa Islam awal di Nusantara berwajah lembut, inklusif, pluralis, dan kultural. Dalam doktrin sufisme, kebenaran tidak dapat dimonopoli, penghakiman atas pandangan berbeda bukan sikap terpuji, inti Islam pada akhlak dan akhlak dibangun di atas bangunan akal budi (akal amali) yang diasaskan pada hikmah (filsafat) dan dipupuk dengan latihan spiritual.

Sufisme menegakan Islam dengan membangun konstitusi akhlak sosial (bio-etik). Teolog dan fukaha (ahli fikih) berkeyakinan lain, Islam harus ditegakan dengan undang-undang (kanun) Syariat. Sejarah kita mengisahkan gelombang gerakan Syariatisasi di Indonesia dalam berbagai bentuk semuanya dimotori kaum fukaha (fikih minded), seperti Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Negara Islam Indonesia (NII), Majlis Mujahidin Indonesia dan organisasi sejenisnya. Mereka mengembangkan fikih dan teologi dalam variannya yang paling ekstrim dan anti-sufisme, yaitu Wahabisme. Paham ini bukan saja mempromosikan Syariatisasi negara di Indonesia, namun juga dilihat sebagai sumber pemikiran ekstrimisme Islam dunia.

Bagi saya, tumbuh suburnya ekstrimisme dan takfirisme di dunia Islam adalah buah dari struktur epistemologi ilmu agama dan terisolasinya sufisme dari panggung kebudayaan masyarakat muslim. Faktanya, di negara-negara Afrika Utara yang kebudayaannya berakar pada pemikiran sufisme lebih memiliki “kekebalan” dari serangan virus ekstrimisme dan takfirisme. Maroko dan Aljazair, untuk menyebutkan beberapa diantaranya, mereka punya perisai efektif. Mereka lebih ‘berdaya tahan’ saat berhadapan dengan gempuran kampanye Syariatisasi negara dan khilafah kelompok-kelompok ekstrimis, seperti ISIS dan Al-Qaeda. Maroko berada lebih dekat dengan sumbu ekstrimisme Islam di Timur Tengah, tetapi efek ISIS dan Al-Qaeda lebih menggema di Indonesia yang letaknya ribuan kilometer lebih jauh.

Fansurian

Oleh karena itu, perisai kosong dalam Islam Nusantara ini harus segera diisi. Kerja pertama, merumuskan ontologi dan epistemologinya. Langkah ke dua, menyusun kerangka analisis dan kerangka kerjanya. Pada tahap pertama, pandangan tasawuf-falsafi Hamzah Fansuri sebagai peletak pemikiran sufisme awal nusantara harus diriset ulang, terutama ontologi Wahdatul Wujud dan epistemologi Irfaninya. Penggalian pandangan tasawuf-falsafi Fansuri mau tidak mau akan membawa kita pada Ibnu Arabisebagai mahaguru sufi yang mempengaruhi pandangan tasawuf-falsafi nusantara pro-keberagaman. Sebagaimana dicatat Muthahari (2010), puncak pemikiran sufi di dunia Islam secara keseluruhan memang berada di tangan Ibnu Arabi, lewat magnum opus Futuhat Makiyah-nya yang diringkas dalam Fushushul Hikam.

Fansuri tersambung kepada pemikiran Ibnu Arabi melalui Al-Jili, adalah salah satu dari 12 komentator besar (pensyarah) karya-karya Ibnu Arabi. Usaha mengenali ontologi dan epistemologi Fansuri karenanya selain dengan mengkaji ulang karya-karyanya, juga dengan mendalami dua tokoh besar sufi yang telah mempengaruhinya, Ibnu Arabi dan Al-Jili. Pemikiran Fansuri juga harus dipelajari lewat syarah murid utamanya, Syamsudin Assumatrani. Langkah terakhir meneliti Fansuri dengan membaca hasil studi-stusi sarjana kontemporer tentangnya, diantara yang terkemuka adalah Syed Naquib Al-Attas.

Begitu peletakan ontologi dan epistemologinya selesai, kerangka analisis dan kerangka kerjanya dibangun. Kerangka analisis untuk menjadikannya alat baca gejala kekerasan berbasis agama, kerangka kerja sebagai pedoman negara dan masyarakat sipil mereduksi risiko kekerasan-kekerasan itu.

Pada diskusi kerangka kerjanya, patut ditegaskan Islam Nusantara adalah Islam sufisme Fansurian yang menghormati keragaman, bukan sufisme Al-Ghazali yang alergi pada filsafat. Islam yang membangun tamadun manusia dengan konstitusi akhlak sosial (bio-etik) dan akhlak personal (revolusi mental). Akhlak sosial (politik dan ekonomi) sebagaimana dipraktekkan ratusan tahun dalam sejarah Nusantara, dilembagakan dengan aturan-aturan adat progresif, bukan dengan undang-undang Syariat yang pada hakikatnya memang tidak ada. Adapun akhlak personal dilatih dan disiplinkan melalui program-program spiritual yang sangat banyak variannya, dari bentuknya yang klasik (tarikat) sampai bentuk-bentuk kontemporer (majlis zikir).

Masyarakat muslim Indonesia harus terorganisasi dan terkonsolidasi dalam komunitas-komunitas tarikat, sebagaimana hal ini pernah berhasil dipraktekan dalam masyarakat Aceh abad 16 dan 17. Komunitas-komunitas tarikat pada hakikatnya adalah komunitas perlawanan terhadap berbagai bentuk kezaliman (eksploitasi) dalam sistem sosial, ekonomi, dan politik. Termasuk perlawanan terhadap praktek-praktek intoleran dalam beragama dan berkeyakinan. Masyarakat yang terorganisir dalam komunitas tarikat dan setidaknya dalam supervisi intensif ulama sufi tidak dapat terjangkau kampanye ajaran takfirisme dan ekstrmisme agama. (LiputanIslam.com)

* Dosen Sosiologi Agama UIN Ar-Raniry

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL