Oleh: Dr. Vacy Vlazna

Perempuan Palestina selalu bersama ayah, saudara, dan suami mereka, bersama-sama melawan penjajahan Zionis, untuk memperjuangkan kebebasan dan hak legal mereka.

Mereka adalah yang pertama turun ke jalan untuk memprotes kebrutalan pendudukan militer Israel, yang pertama mengatur aksi duduk dan pawai menuntut pembebasan anak-anak mereka, saudara dan ayah dari penjara-penjara Israel. Mereka adalah pelindung, pendukung, tetapi yang paling utama, mereka adalah pejuang kemerdekaan Palestina. (Reham Al Helsi)

Sementara dunia melihat ke arah lain selama 70 tahun sejak Nakba, yaitu dimulainya bencana terorisme Zionis yang mendirikan negara illegal Israel, seluruh wanita Palestina mengalami kesedihan, teror, dan trauma karena semua keluarga Palestina telah terkoyak-koyak. Anggota keluarga mereka dibunuh, dipenjara, atau tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan bantuan medis. Rumah keluarga dihancurkan, kesulitan keuangan karena kaum laki-laki terpaksa jadi penganggur, pohon-pohon zaitun yang memberi kehidupan ditebangi, dan kebun-kebun dibuldoser, dan desa-desa diblokade oleh Tembok Pembatas Israel.

Anda, yang dengan santai menghidupkan atau mematikan keran dan lampu, cobalah membayangkan betapa stresnya jika semua itu tidak Anda nikmati. Perempuan Palestina sehari-hari kesulitan air karena perusahaan air Mekorot Israel membatasi penyaluran air; dan perusahaan listrik memadamkan listrik semena-mena. Bayangkan itu terjadi di musim dingin yang ekstrim. Ini tak lain genosida perlahan-lahan.

Tanyakan pada diri Anda, bagaimana seorang ibu di Gaza bisa menjaga kesehatan anak-anaknya ketika Israel dengan sengaja, sebagai bentuk ‘hukuman kolektif’, menghitung asupan kalori minimum yang diperlukan warga Palestina demi menghindari kekurangan gizi, sehingga Israel bisa membatasi jumlah bahan makanan yang masuk ke Gaza tanpa menyebabkan kelaparan.

Setiap ibu Palestina tahu bahwa setiap kali anak-anaknya meninggalkan rumah, tidak ada jaminan mereka akan kembali dengan selamat. Seorang anak kecil yang melempar batu kepada tentara atau ke arah jeep dan tank dari sebuah kekuatan militer terbesar ke-4 di dunia, mungkin akan terkubur di sore harinya dengan peluru di  punggungnya, atau dibiarkan mati kehabisan darah di jalan karena ambulans dilarang mendekat untuk memberikan pertolongan.

Atau, anak itu dihukum 15 tahun penjara hanya karena melempar batu, sementara seorang tentara pembunuh, seperti Elor Azaria, yang membunuh membabi buta seorang pemuda Palestina yang terluka dan tergeletak tak bersenjata di jalan, hanya diberi hukuman 18 bulan. Satu-satunya kepastian bagi seorang ibu Palestina adalah para pembunuh pasti akan datang merenggut anaknya.

Berikut ini saya akan menceritakan tentang tiga perempuan pejuang kemerdekaan Palestina, yaitu Hanin Zoabi, Ahed Tamimi, dan Samah Sabawi.

Hanin Zoabi

Hanin Zoabi lahir di Nazareth dan pada tahun 2009 menjadi perempuan Palestina pertama yang menjadi anggota parlemen Israel (via Partai Balad Arab). Hanin menggunakan posisinya untuk mengecam Israel secara terbuka. Antara lain ia menyebut pemerintah Zionis sama dengan ISIS. Alasannya, keduanya sama-sama melakukan kekerasan dalam mencapai tujuan-tujuan politiknya. Hanin juga menyebut tentara Israel sebagai pembunuh karena menembaki para relawan kemanusiaan di kapal yang membawa bantuan untuk Palestina, Mavi Marmara.

Hanin juga mengecam Israel yang hipokrit. “Dulu, ribuan pebisnis Yahudi dan sinagog dibakar, orang Jerman diam saja. Kini, rumah-rumah Palestina, gereja, dan orang-orang Palestina dibakar, mayoritas orang Israel diam saja.”

Atas segala perjuangannya mengembalikan hak-hak bangsa Palestina, Hanin dirisak habis-habisan oleh orang-orang Israel, bahkan dikeluarkan dari Parlemen. Namun ia terus berjuang, termasuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan Palestina.

Ahed Tamimi

Ahed baru berusia 15 tahun, namun sangat gagah berani melawan tentara Israel yang menyerbu desanya. Desa bernama Nabi Saleh itu dihuni 500 orang dan para imigran Yahudi berusaha merampas tanah mereka. Warga Nabi Saleh pun melakukan aksi-aksi protes pada 2009, dan tentara Israel menghadapi aksi protes damai ini dengan kekerasan. Mereka dipukuli dan 13% dari warga dipenjara.

Di lain waktu, Ahed dengan berani melawan tentara-tentara yang akan menangkap adiknya, Mohammed, yang berusia 12 tahun. Ahed sedemikian ‘galak’ sehingga tentara Israel pun melepaskan Mohammed.

Samah Sabawi

Samah Sabawi adalah seorang penyair, editor, pelajar S3, seorang orator yang hebat, dan menjadi juru bicara bagi perjuangan kemerdekaan Palestina. Dia lahir di Gaza dan kini tinggal di Australia. Syair-syairnya selalu menyuarakan kerinduan kepada tanah airnya dan seruan kemerdekaan. Dalam berbagai forum, dia mengalami intimidasi, misalnya saat dia menjadi pembicara seminar Palestina, pembicara lain memboikotnya dan menuduhnya ‘anti-Semit’.

Tulisan ini ditutup dengan kata-kata Reham al Helsi: “Di Palestina, ibu adalah suci. Masing-masing kami memiliki beberapa ibu: ibu yang melahirkan kami, pohon zaitun, tanah air, dan ibu pertiwi ‘Palestina’.” (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL