Oleh: Dan Glazebrook*

IbAnalis DANtisam baru berusia 15 tahun, ketika kelompok teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) muncul di desanya. Waktu itu, pukul 9 pagi, suara tembakan semakin nyaring terdengar. Ia bersama keluarganya masuk ke dalam mobil dan melarikan diri. Namun karena butuh susu bayi, mereka terpaksa melintasi kota Duhok, wilayah Kurdistan Irak. Namun malang, mereka tertangkap. Para pria langsung dieksekusi, sementara Ibtisam dan kedua adik perempuannya dibawa ke kota Tal Afar.

Setelah beberapa minggu ditawan, mereka dipindahkan ke sebuah bangunan yang menampung sekitar 700 wanita, sementara adiknya– salah satu dari mereka baru berusia 5 bulan– diambil darinya secara paksa. Lantas Ibtisam dan wanita lainnya diambil oleh pria yang usianya lebih tua, dibawa ke rumah dan diperkosa.

Pagi berikutnya, ketika ia melihat rumah dalam keadaan kosong, Ibtisam pun melarikan diri ke jalanan, dan ada taksi yang berbaik hati memberikan tumpangan. Supir taksi tersebut merasa simpati atas nasibnya, dan ia pun dibiarkan menumpang di rumahnya, menyembunyikan Ibtisam sebisa mungkin. Namun karena kondisinya masih tidak aman, Ibtisam dipindahkan ke tempat lain. Sayangnya, saat ISIS mengadakan patroli dan pengecekan, ia tertangkap lagi, dan dibawa ke basement yang penuh wanita-wanita malang.

Mereka dipukuli secara berkala, sebagai wanti-wanti kepada yang lainnya – bahwa hukuman inilah yang didapat jika berani mencoba melarikan diri. Temannya, dipukuli hingga berdarah-darah, lalu ISIS membawanya ke rumah sakit untuk diobati. Namun setelah kondisinya membaik, ia kembali dibawa ke basement dan dipukuli kembali. Mereka dijual sebagai budak seks, dan diperkosa berulang-ulang selama berbulan-bulan.

Insiden ini hanyalah satu dari pengakuan-pengakuan yang memilukan yang dipublikasikan bulan ini oleh House of Lords Committee on Sexual Violence in Conflict. Ibtisam (bukan nama sebenarnya), adalah seorang Yazidi, diantara ratusan atau mungkin ribuan Yazidi lainnya yang mengalami penyiksaan serupa, yang memenuhi halaman depan media sejak musim gugur 2014.

Laporan ini menunjukkan bahwa kekerasan seksual tidak hanya terjadi di Irak, melainkan ada di 19 negara. Daftar dari laporan lainnya, yang disiapkan oleh Sekretaris Jenderal PBB untuk Dewan Keamanan PBB tahun lalu disebutkan bahwa insiden atau kekerasan seksual sebagian besar dilakukan oleh aktor non-negara, khususnya orang-orang yang menganut ideologi ekstremis di Suriah, Irak, Somalia, Mali, Libya dan Yaman.

Jika dilihat lebih lanjut, negara-negara yang berhadapan dengan konflik serupa memilki persamaan yang mendasar, yaitu adanya kebijakan luar negeri pemerintah Inggris, yang menciptakan ketidakstabilan suatu negara sehingga memicu perkembangan ekstremisme.

Contohnya adalah Yaman. Keterlibatan Inggris dalam membantu serangan Saudi pada tetangganya yang miskin ini sejak tahun lalu sama sekali tidak ditutup-tutupi, sehingga muncul dugaan ini adalah semacam perang proksi. Inggris telah menyusul AS sebagai pemasok senjata terbesar untuk Saudi, menyediakan semua jet tempur, rudal, dan bom yang diperlukan untuk melakukan serangan ke Yaman. Korban jiwa yang jatuh kurang lebih mencapai 10.000 orang, menyebabkan 90% rakyat Yaman kehilangan akses air bersih dan sanitasi, dan 14 juta penduduk lainnya menderita kelaparan. Militer Inggris juga mengirimkan enam penasehat militer untuk Angkatan Udara Saudi, dan disinyalir ada sekitar 100 tentara Inggris yang juga turut terlibat dalam batas-batas tertentu.

Laporan Sekjen PBB terkait kekerasan seksual di Yaman memang telah dikeluarkan sebelum Saudi mulai melakukan pengeboman. Namun ia mencatat bahwa akibat pertempuran Yaman, ada sekitar 148.108 pengungsi, yang mayoritas perempuan dan anak-anak, sangat potensial akan mengalami kekerasan seksual. Sudah lazim di daerah-daerah konflik, wanita dan anak-anak yang sangat dirugikan. Mereka rentan mengalami pemerkosaan atau perkawinan paksa. Apalagi dengan adanya kelompok-kelompok ekstremis yang kerap melakukan pemaksaan.

Namun kini, jumlah pengungsi terus membengkak. Awalnya sekitar 148.108 pengungsi, kini telah menjadi 2,5 juta pengungsi akibat serangan membabi buta Saudi dan koalisinya – yang disponsori Inggris. Artinya, kebijakan pemerintah Inggris merupakan salah satu pemicu meningkatnya kekerasan seksual di Yaman hingga 16 kali lipat.

Lalu di Libya. Awal tahun 2011, Inggris yang menyerukan kepada NATO untuk melakukan intervensi kemanusiaan untuk mendukung pemberontakan yang dilakukan oleh Al Qaeda cabang Libya (yang menamakan dirinya Libyan Islamic Fighting Group) terhadap pemimpin Libya, Ghadaffi. Hasil dari intervensi NATO bisa kita lihat hari ini: mereka telah mengubah negara yang paling maju dan makmur di Afrika menjadi negara gagal. Kemiskinan, penculikan, kekacauan dan kekerasan seksual terjadi nyaris tiap hari, dan hal ini telah diakui oleh PBB.

Setelah Ghadaffi jatuh, maka senjata-senjata NATO pun dikuasai oleh berbagai milisi yang bercokol di Libya, dan disalurkan ke wilayah sekitar. Sebagaimana yang dilaporkan Pusat Studi Al-Jazeera (AJCS), kelompok teroris seperti Al Qaeda in Islamic Maghreeb (AQIM), telah mengakuisisi senjata berat seperti rudal anti-pesawat dan anti-tank SAM-7, dan dibawa ke wilayah Sahel (meliputi Mali, Burkina Faso, Aljazair, Chad, Nigeria, dll). Senjata yang dikuasai AQIM ini juga ditransfer ke kelompok ekstrmis lainnya seperti Ansar Dine dan Boko Haram, yang membuka peluang lebih besar bagi mereka untuk melakukan serangan mematikan.

Perang di Mali tahun 2012, semakin beringasnya Boko Haram, adalah dampak langsung dari perang Libya yang digawangi NATO. Menurut PBB, Boko Haram yang beroperasi di Nigeria telah melakukan pernikahan paksa, perbudakan, penculikan, dan penjualan para gadis-gadis.

Adapun di Mali, pada bulan November 2014, organisasi non-pemerintah mengajukan 104 keluhan pidana terhadap kelompok-kelompok bersenjata atas insiden kekerasan seksual terhadap perempuan yang terjadi pada tahun 2012 dan 2013. Pelaku ekjahatan perang dan kemanusiaan ini dikaitkan dengan kelompok Mouvement national de libération de l’Azawad, Ansar Dine dan Movement for Unity and Jihad in West Africa. Dan semua kelompok tersebut, membesar akibat ketidakstabilan regional dan senjata cuma-cuma dari NATO.

Pemerintah Inggris, telah memainkan peran penting. Tidak hanya memicu konflik-konflik yang ditandai dengan kekerasan seksual, tetapi juga mendukung dan mempersenjatai kelompok yang melakukan kekrasan tersebut. Tak berlebihan rasanya jika Menteri Luar Negeri William Hague, yang kini mengklaim memimpin dunia dalam inisiatif “Prevent Sexual Violence in Conflict” atau pencegahan kekerasan seksual dalam konflik, disebut hanyalah sedang menciptakan lelucon belaka. Ini adalah penghinaan terhadap ribuan orang yang menjadi korban akibat kebijakan Inggris. (LiputanIslam.com)

*Penulis adalah kolumnis berbagai media seperti RT, Counterpunch, Z magazine, the Morning Star, the Guardian, the New Statesman, the Independent dan Middle East Eye. Artikel ini disarikan dari RT.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL