Baca Bagian Pertama: Pemilu Suriah dan Kegagalan Propaganda Barat

Perancis juga mengambil sikap hipokrit terkait pemilu Suriah. “Gagasan bahwa pemilu bisa dilaksanakan bukan hanya provokatif tetapi benar-benar tidak realistis. Ini akan menjadi bukti bahwa tidak ada negosiasi ataupun diskusi.” – Francois Hollande.

Menggelikan. Pernyataan ini datang dari orang yang berusaha mengamankan kesepakatan transaksi senjata senilai multi-miliar dolar dengan Qatar.

Dalam foto di samping, Hollande memberikan penghargaan yang paling bergengsi Prancis yaitu Legion D’Honneur untuk Putera Mahkota Saudi, Mohammad bin Nayef.

Bin Nayef secara pribadi bertanggung jawab atas para tahanan di penjara-penjara Saudi apakah memenuhi syarat untuk dieksekusi, tanpa adanya pengadilan yang memadai dan dengan dakwaan yang direkayasa.

Satu hal lagi yang harus dipertanyakan atas sikap Hollande. Ia menganggap cemar pemilu yang berlangsung di Suriah, sementara di sisi lain, ia memuji salah satu teroris. Ya, ia memuji teroris sembari mengaku tengah melakukan perang terhadap terorisme.

Dan penghargaan tertinggi untuk hipokrit layak diberikan kepada AS.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Mark Toner menyatakan bahwa “memandang pemilu tersebut tidak sah, dalam arti tidak mewakili kehendak rakyat Suriah”.

“Untuk mengadakan pemilu parlemen sekarang, mengingat keadaan saat ini, kami percaya bahwa pemilu tersebut terlalu prematur dan tidak mewakili kehendak rakyat Suriah.”

Sementara awal pekan sebelumnya Toner berkata, “Sebuah proses politik yang mencermintak keinginan dan kehendak rakyat Suriah adalah sesuatu yang akan memutuskan masa depan kepemimpinan dan masa depan Suriah.”

Dan inilah jawaban dari rakyat Suriah:

[Celup jari tanda berpartisipasi dalam proses politik untuk menentukan masa depan Suriah –peduli setan Barat berkata apa.]

Kesimpulan

Seperti yang saya katakan dalam pesan untuk mantan Duta Besar untuk Suriah, Robert Ford:

“Sejarah berulang terlalu sering Mr Ford, berhati-hatilah, jangan sampai Anda membiarkan rumah Anda sendiri jatuh di bawah telinga Anda. Suriah telah melawan agenda Anda, lagi dan lagi. Saya bisa menghargai betapa frustasinya pemerintah Anda – tetapi Anda telah melakukan kekeliruan, begitu juga alat propaganda Anda – karena rakyat Suriah menghendaki integritas dan persatuan.

Di hari ketika AS dan negara-negara anggota NATO bisa berkata bahwa voting harus diperpanjang karena banyak anggota telah melakukan walk out, di hari itulah Anda bisa menguliahi saya tentang apa itu “rezim” Di hari ketika pemerintah Anda mendapatkan sanksi atas kejahatan perang yang menjadi agenda/ kebijakan mereka — yang telah menyembelih dan mengorbankan banyak nyawa di negara –negara asing, maka saat itu, silahkan Anda melakukan kritik terhadap pemilu yang berlangsung di negara-negara seluruh dunia.”

Begitulah. Agenda AS, NATO, Dewan Kerjasama Teluk, dan Israel, harus berhadapan dengan tembok kokoh, yaitu integritas, persatuan, dan perlawanan rakyat Suriah. Kehendak rakyat Suriah tentu didengar oleh pemerintah Suriah.

Baik secara ideologi maupun spiritual, rakyat Suriah meyakini kemenangan politik dan militer mereka dalam melawan terorisme yang disponsori negara asing. Rakyat Suriah berkata “tidak” untuk intervensi asing.

Mereka telah berhadapan dengan sanksi ekonomi yang melumpuhkan, invansi dari teroris yang merupakan proksi dari musuh, pendudukan oleh para pembunuh massal yang dibiayai dan dipersenjatai oleh AS, NATO dan sekutunya. Namun Suriah hingga hari ini tetap bertahan dan mampu melewati semua rintangan.

Untuk mencapai tujuannya di Suriah, AS dan NATO mengandalkan para tentara bayaran, teroris, pemerkosa, dan penjahat yang tidak memiliki keinginan untuk menang, melainkan hanya untuk mempertebal kantong mereka dengan obat-obatan terlarang dan hasil jarahan minyak.

Agenda AS dan NATO di Suriah tidak memiliki basis hukum maupun idologi. Semua itu berdasar murni atas keserakahan dan kekuasaan dengan melakukan pengrusakan dan mengabaikan kemanusiaan. Agenda itu akan gagal dan Suriah akan menang, dan menjadi lebih kuat. Rakyat Suriah telah menggambar ulang peta politik dengan tangan dan kehendak mereka sendiri. Hal inilah yang harus Anda hormati, Mr. Toner, bukan yang lain.

“Rakyat Suriah telah menghadapi perang selama lima tahun, terorisme telah menumpahkan darah orang-orang tak berdosa dan menghancurkan infrastruktur, tetapi gagal mencapai tujuan utama yang ditugaskan kepada mereka, yaitu menghancurkan prinsip-struktur Suriah yang merupakan struktur sosial dari identitas nasional.” – Presiden Suriah Bashar Al Assad.

Penulis adalah seorang peneliti independen, penulis, fotografer, dan aktivis perdamaian yang menghabiskan banyak waktunya di Timur Tengah. Tulisan ini diterjemahkan dari artikel di 21WIRE

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL