Oleh: Husein Muhammad Alkaf*

Konflik Palestina semakin memanas akhir-akhir ini pasca pidato Presiden AS, Donald Trump, yang mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan berencana memindahkan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Di berbagai media pun muncul perdebatan. Para pengamat memberikan pendapat yang terkadang simpang siur. Kerancuan yang masih banyak terjadi dalam membahas isu ini adalah ketidakmampuan sebagian pihak dalam membedakan antara Yahudi dan Israel sehingga muncul perbedaan pendapat: siapakah yang harus kita lawan dan kita kutuk? Yahudi atau Israel?

Tulisan ini akan menjelaskannya secara ringkas mengenai kedua diksi ini dan kemudia membahas apa pilihan tepat yang perlu diambil oleh umat Islam dalam problema Paletina dan al Quds.

Terdapat pergeseran, bahkan perubahan, yang jauh dalam memaknai diksi “Yahudi” dan diksi “Israel”, sehingga menyebabkan kesalahan dalam bersikap. Untuk dewasa ini, secara umum, Yahudi adalah nama salah satu agama samawi-semitik (dua lainnya adalah Islam dan Nasrani) dan juga nama sebuah bangsa yang berasal dari Timur Tengah. Sedangkan Israel adalah sebuah negara dan rezim penguasa yang berdiri pada tahun 1948 di atas tanah Palestina.

Sebagai sebuah agama dan bangsa, maka Yahudi sebagaimana agama dan bangsa yang lain harus diakui keberadaannya, dan harus diperlakukan secara sama (equal) dengan yang lainnya. Setiap bangsa pasti mempunyai budaya dan tradisi tertentu, dan agama merupakan bagian dari budaya itu sendiri. Atas dasar itu, dan atas dasar semangat ayat Al Qur’an ( QS Al Hujuraat:13) tentang adanya bangsa-bangsa untuk ber-ta’aaruf (saling mengenal, saling berinteraksi), maka kita perlu mengenal dan memahami Yahudi sebagai sebuah bangsa dan agama. Kemudian saat melakukan ta’aaruf  dengan mereka, kita akan mendapatkan perbedaan-perbedaan antara kita (Muslim) dengan mereka.  Secara subyektif, kita akan menemukan ‘penyimpangan’ yang mereka dilakukan (dibandingkan dengan parameter Islam).

Selanjutnya, jika kita ingin melakukan pendekatan atau berdakwah kepada mereka, cara yang harus ditempuh adalah cara dialogis. Dialog yang benar harus dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) menggunakan dasar-dasar yang disepakati oleh dua belah pihak, dalam hal ini, dasar-dasar logika yang bersifat aksioma universal, dan (2) menggunakan argumen-argumen yang diyakini kebenarannya oleh oleh lawan dialog (qaidah al ilzam). Jika berdakwah dengan cara dialog mengalami kebuntuan atau penolakan dari mereka, kita tidak bisa memaksakan mereka untuk menerima ajaran dan agama Islam, apalagi membenci dan memusuhi mereka (lihat QS 2:256 dan QS 109:6).

Dialog Versus Perang

Di sisi yang lain, Islam memerintahkan umatnya untuk melawan kejahatan dan kezaliman (ketidakadilan). Bahkan sampai batas tertentu, Islam membenarkan perlawana terhadap kezaliman dengan cara perang. Kejahatan dan kezliman adalah tindakan yang merusak nilai-nilai Islam, kemanusiaan, dan tatanan sosial. Kezaliman dilakukan oleh manusia, bukan agama atau mazhab.  Siapapun dan apapun agama atau mazhabnya, ketika melakukan kejahatan dan kezaliman maka harus dilawan dengan cara yang telah diatur dalam fikih Islam dalam bab Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar.

Israel pun seharusnya dibahas dalam konteks perlawanan ini. Kita harus melawan Israel karena Israel adalah sebuah negara yang didirikan dengan mencaplok tanah yang selama ratusan tahun dihuni oleh bangsa Arab-Palestina dari berbagai agama (Islam, Nasrani, Yahudi). Sejarah mencatat bahwa kolonial Inggris yang menduduki Palestina pasca kekalahan khilafah Ottoman dalam PD I telah menjanjikan kepada komunitas Zionis Eropa bahwa Inggris akan membantu mereka untuk mendirikan negara Israel (Deklarasi Balfour 1917).

Lalu akhirnya, lewat rekayasa di PBB, disahkan Resolusi 181 tahun 1947 yang isinya membagi wilayah Palestina menjadi 2, sebagian untuk kaum Zionis, sebagian untuk warga asli Palestina. Segera setelah itu milisi-milisi Yahudi di Palestina, Irgun dan Haganah, yang mendapatkan perlindungan dari kolonial Inggris melakukan pengusiran, perampasan tanah dan rumah, serta pembunuhan terhadap warga Palestina yang berada di atas lahan yang ‘dihadiahkan’ PBB kepada Israel.

Setelah berdirinya negara Israel pada 1948, kaum Yahudi-Zionis ini lebih gencar lagi melakukan pengusiran terhadap warga Palestina dan mereka selalu mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat, baik dukungan politik maupun dana. Atas dasar itulah, kita umat Muslim dan seluruh umat manusia yang berhati nurani harus melawan rezim Israel dan Zionis, bukan ras atau agama Yahudi.

Benar, bahwa pemerintahan Israel adalah orang-orang yang mengaku beragama Yahudi. Namun perlu diketahui bahwa tidak sedikit dari orang-orang Yahudi yang menolak negara Israel dan paham Zionisme. Kita tahu ada organisasi pendeta (Rabi) Yahudi yang bernama Neturei Karta yang gigih melawan Zionisme.

Berkaca pada Sirah Nabawiyah

Untuk memperkuat argumen mengapa perlu dibedakan antara Israel dan Yahudi, kita perlu melihat sikap Nabi Muhammad SAW terhadap komunitas Yahudi di Madinah. Sejarah mencatat bahwa terdapat tiga kelompok Yahudi yang tinggal di Medinah, yaitu  Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Bani Qaynuqa’. Sesuai Piagam Medinah, mereka diberi kebebasan menjalankan ajaran-ajaran mereka dan mendapatkan hak sebagai warga Madinah selama mereka tidak melakukan permusuhan, kebencian, dan gangguan terhadap umat Islam. Namun, mereka melanggar Piagam Madinah. Mereka melakukan tindakan makar terhadap Nabi Muhammad dan mengganggu warga Muslim. Karena itulah, Nabi SAW mengusir mereka dari Madinah.

Sikap Nabi Muhammad tersebut jelas sekali mengajarkan kepada kita bahwa kita harus menjaga hubungan yang wajar dengan Yahudi. Tetapi ketika mereka melakukan kejahatan dan kezaliman, maka kita harus melawan. Inilah yang perlu kita bangkitkan lagi hari ini, mengingat sudah 70 tahun bangsa Palestina hidup dalam penjajahan rezim Zionis Israel. (LiputanIslam.com)

*Penulis adalah anggota Ikatan Alumni Jamiah Al-Mustafa (IKMAL)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL