Celeb Maupin[Baca bagian pertama: Omar Mateen: Produk Wahabi dan Kebijakan Luar Negeri AS]

Sebagaimana Partai Rakyat Demokratik di Afghanistan, Partai Ba’th yang berkuasa di Suriah memiliki karakteristik anti-kapitalis dan telah berhasil menciptakan kemandirian ekonomi yang kuat. Sebagaimana Afghanistan, Suriah juga membangun aliansi dengan pemerintah Rusia. Lalu sebagaimana Afghabistan, Suriah pun kemudian harus dilemahkan melalui perang saudara. Amerika Serikat secara terbuka mendestabilisasi negara, berharap untuk menggulingkan pemerintah yang diakui secara internasional, dengan alasan demi hak asasi manusia. Akibat kebijakan AS ini, lebih dari 400.000 penduduk Suriah telah tewas dan jutaan lainnya telah menjadi pengungsi.

Tidak jelas apakah Omar Mateen bekerjasama dengan Wahabis lainnya di Irak, Suriah, dan Afghanistan dalam merencanakan pembunuhan massal di Orlando. Namun terlepas dari apakah ia bertindak sendirian, terinspirasi oleh ISIS dan latar belakang ayahnya yang seorang Wahabi fanatik, namun yang pasti, tindakannya ini adalah hasil dari kebijakan luar negeri AS.

Menariknya lagi, Omar Mateen nampaknya banyak memposting foto-fotonya di media sosial dengan mengenakan logo Departemen Kepolisian Kota New York (NYPD). Sementara NYPD sendiri memiliki rekor paling getol dalam memata-matai Muslim Amerika. NYPD juga memiliki reputasi bullying hingga pembunuhan terbuka bagi orang-orang kulit berwarna seperti Ramarley Graham dan Sean Bell.

Pelaku penembakan massal cenderung memiliki psikologi yang mengagumi kekejaman. Sebagaimana Mateen, nampaknya ia mengagumi NYPD yang terkenal brutal. Dengan alasan yang sama, ia juga mengagumi ISIS yang melakukan penyiksaan yang kejam.

Mendukung Terrorisme, Menciptakan Teroris

Jika para pemimpin AS membiarkan rakyat Afghanistan diperintah oleh Partai Rakyat Demokratik dan menjalin aliansi dengan Uni Sovyet, mungkin nama Osama bin Laden seorang pewaris dari keluarga kaya di Arab Saudi hanya akan bisa ditemukan dalam catatan kaki. Namun untuk menggulingkan pemerintahan yang pro Uni Sovyet, AS memilih untuk membentuk jaringan terrorisme global.

Seandainya saja AS membiarkan Suriah tetap mempertahankan kemandirian ekonomi dan aliansinya dengan Rusia, mungkin kata ISIS tetap merupakan nama Dewa Mesir kuno, bukan nama kelompok teroris yang memempertontonkan pemenggalan dan pembantaian warga sipil. Alih-alih menoleransi pemerintah nasionalis Suriah, AS malah mendanai dan memfasilitasi perang saudara yang telah menewaskan lebih dari 400.000 orang dan menciptakan krisis pengungsi massal.

Wahabi teroris, yang disebut sebagai ‘Islamic Extremism’ dan ‘Islamic Terrorism’ oleh media AS, sebenarnya secara langsung difasilitasi dan dipromosikan oleh para pemimpin AS. Rekam jejak ayah Omar Mateen adalah fakta yang nyata adanya. Tidak hanya di Afghanistan, melainkan di seluruh dunia, AS telah mempersenjatai Wahabi esktremis sebagai kelompok teroris yang menggoyang pemerintahan.

Banyak pasukan di Libya yang mengklaim sebagai pejuang revolusi untuk menggulingkan Ghadafi, yang didukung NATO dan Barat, adalah ekstremis Wahabi. Dan kelompok-kelompok ini kemudian menyatakan janji setia kepada ISIS.

Di Yaman, Amerika Serikat mendukung Arab Saudi yang melakukan invansi untuk menghancurkan kekuatan revolusioner, dengan tujuan mengembalikan kekuasaan diktator Hadi. AS memberikan dukungan untuk militer Saudi, Pentagon menyediakan instruktur untuk melakukan pengeboman terhadap Yaman.

AS juga mempersenjatai Turki. Namun senjata-senjata ini kemudian mengalir ke tangan ISIS. Di lain pihak, Turki juga terus melakukan serangan terhadap pasukan Kurdi yang gigih melawan ISIS. Jadi, meskipun Obama mengkritik serangan Turki atas Kurdi, namun AS tetap memasok Turki dengan rudal jelajah.

Sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua, AS menyediakan pelatihan untuk para militan Chechnya untuk memerangi Uni Sovyet, dan kini berlanjut dengan memerangi Rusia. Militan ini juga mengadopsi ideologi Wahabi sejak tahun 1980, ketika Arab Saudi memberikan pasokan senjata untuk mendukung pelatihan militan.

Republik Islam Iran saat ini menghadapi teroris Jundullah, kelompok Wahabi yang beroperasi di perbatasan Afghanistan-Iran. Jundullah menyelundupkan heroin dan melakukan pengeboman terhadap rakyat sipil. Anggota Port Authority Police AS yang berhasil menyusup ke dalam organisasi Jundullah, menolak untuk memberikan peringatan tentang rencana serangan Jundullah kepada pemerintah Iran. Hal ini menimbulkan dugaan luas bahwa AS dan Arab Saudi mendanai dan mendukung Jundullah, karena militan ini melakukan upaya untuk mengguncang Republik Islam Iran. Mujahidin E-Khalq, kelompok teroris anti-Iran yang lain, telah secara terbuka bekerja sama dengan AS dan intelijen Israel. Sebuah email dari Hillary Clinton yang bocor ke publik baru-baru ini menyatakan bahwa perang ‘Sunni-Syiah’ di Timur Tengah bukanlah hal yang buruk bagi Israel dan sekutu-sekutunya.

Menteri Luar Negeri Ashton Carter mengatakan bahwa Rusia dan Tiongkok adalah ‘ancaman yang lebih besar’ dari ISIS. Namun kita tahu bahwa AS dan sekutunya terus melakukan aliansi pasif dengan ISIS dan ekstremis Wahabi lainnya, sementara pada saat yang sama mengklaim bahwa mereka bekerja untuk memusnahkan organisasi teroris.

Pemerintah Rusia dan Tiongkok tidak pernah menyerang AS. Republik Islam Iran tidak pernah menyerang AS. Pemerintah Bolivia, Nikaragua, Kuba, dan Venezuela tidak pernah menyerang AS. Republik Arab Suriah juga tidak pernah menyerang AS, begitu pula dengan kaum revolusioner di Yaman.

Namun karena mereka adalah pemerintahan yang sosialis, nasionalis, ataupun revolusioner, maka mereka menjadi target untuk untuk dijatuhi hukuman seperti ‘perubahan rezim’ dan destabilisasi oleh AS. Setiap AS menargetkan suatu pemerintahan yang independen, maka dibentuklah ekstremis Wahabi dengan menggandeng negara-negara sekutunya seperti Arab Saudi dan Turki.

Kebijakan luar negeri seperti itu akhirnya akan menghasilkan lebih banyak serangan. Mendukung terorisme akan melahirkan lebih banyak teroris seperti Omar Mateen. (LiputanIslam.com)

——–
*Caleb Maupin adalah seorang jurnalis terkemuka dan analis politik yang berbasis di New York. Artikel ini diterjemahkan dari New Eastern Outlook

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL