robert fantinaOleh: Robert Fantina*

Dengan diterimanya Palestina sebagai anggota International Criminal Court (ICC) dan persetujuan ICC untuk menyelidiki kemungkinan kejahatan perang yang dilakukan tentara Israel dalam aksi brutal pembombardiran Jalur Gaza pada pertengahan tahun lalu, PM Israel, Benjamin Netanyahu, terlihat sangat marah. Boneka Israel, AS, juga mengecam keputusan ICC itu. Antara lain, Netanyahu membuat pernyataan ganjil ini:

“Sangat absurd bagi ICC untuk menyelidiki Israel, yang selama ini sangat mematuhi standar tertinggi hukum internasional. Aksi kami [membombardir Gaza] adalah sah menurut sistem hukum yang legal dan independen di Israel.”

“Namun keputusan ini [menyerang Gaza] bahkan lebih masuk akal mengingat bahwa Israel berhak untuk membela diri terhadap teroris Palestina yang secara rutin melakukan kejahatan perang. Mereka sengaja menembakkan ribuan roket ke warga sipil kami, sambil bersembunyi di balik warga sipil Palestina yang mereka gunakan perisai manusia. “

“[Keputusan ICC] justru membawa Israel yang merupakan pemimpin dunia dalam melawan terorisme ke pengadilan The Hague, padahal Hamas-lah yang melakukan terorisme, yang seharusnya dituntut.”

Kita pasti geleng-geleng kepala mendengar pernyataan aneh ini dan dengan segera menemukan kebohongan di dalamnya.

Israel sangat mematuhi standar tertinggi hukum internasional. Tidakkah ini absurd? Hukum internasional melarang pemindahan warga penjajah ke dalam wilayah negara terjajah. Tapi Israel telah memindahkan lebih dari 500.000 orang Israel ke dalam wilayah Palestina dan Netanyahu telah menyatakan ‘tidak satu pun dari mereka yang akan pergi dari Palestina.’ Dalam serangan brutal ke Gaza, Israel telah menyerang mobil jurnalis, sekolah, rumah sakit, masjid, rumah penduduk, dan semua itu terlarang dalam hukum internasional.

Israel berhak untuk membela diri terhadap teroris Palestina yang secara rutin melakukan kejahatan perang. Pertama, sebuah negara yang terjajah, menurut hukum internasional berhak untuk melawan penjajahnya. Kedua, jika Palestina memang benar melakukan kejahatan perang, yang dilakukan Israel seharusnya melayangkan tuntutan ke ICC (dan tentu artinya, Israel harus mau bergabung dengan ICC). Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah menyatakan pihaknya bersedia bekerja sama penuh dalam penyelidikan, sementara Netanyahu menyatakan sebaliknya.

Netanyahu menuduh Hamas sengaja menembakkan ribuan roket ke warga sipil kami, sambil bersembunyi di balik warga sipil Palestina yang mereka gunakan perisai manusia. Tidak ada bukti atas tuduhan ini. Bahkan sebaliknya, sangat banyak bukti, termasuk video, yang memperlihatkan tentara Israel menggunakan anak kecil Palestina sebagai perisai manusia.
Jadi, apa yang dimaksud Netanyahu dengan menyebut “Kami sangat mematuhi standar tertinggi hukum internasional. “?

Terakhir, Netanyahu menyebut Israel negara demokratis. Kalau demikian, Israel adalah negara demokrasi paling aneh sedunia, karena tidak ada hak-hak yang setara di Israel. Warga Israel keturunan Palestina dan Afrika mengalami diskriminasi.

Netanyahu juga mengklaim Israel sebagai pemimpin perang melawan terorisme. Pada saat yang sama, penduduk Tepi Barat setiap hari diserang, rumah mereka digeledah dan dihancurkan tentara Israel, harta mereka dirampas, anggota keluarga mereka ditahan tanpa pengadilan. Orang-orang yang sakit pun mereka halangi menerima perawatan medis; sekolah diserang dengan cairan mematikan. Jika ini bukan terorisme, lalu apa?

Terlihat jelas bahwa Netanyahu dalam kefrustasiannya menyaksikan keadilan mulai berpihak kepada Palestina, telah melakukan kebohongan besar. Pernyataannya atas keputusan ICC untuk menyelidiki kejahatan perang Israel adalah kebohongan untuk menarik simpati publik. Dia memang butuh kepercayaan publik supaya Israel bisa meneruskan genosidanya di Palestina.

Sementara AS, malah membenarkan pernyataan Netanyahu ini. AS telah menyanyikan lagu lama berjudul ‘negosiasi’ untuk mendirikan negara Palestina. Padahal PBB telah mengakui batas wilayah Palestina sesuai dengan batas pra-1967. Jadi, tidak ada yang perlu dinegosiasikan jika Israel benar-benar “mematuhi standar tertinggi hukum internasional”, seperti diklaim Netanyahu. Mengapa Israel tidak mundur dari batas wilayah yang sudah disepakati secara internasional itu?

Jawaban dari pertanyaan ini sederhana. Israel, sebuah negara apartheid, sama sekali tidak mau menegosiasikan apapun dengan Palestina. Israel hanya ingin merebut keseluruhan tanah Palestina, menghancurkan budayanya, dan membunuh warganya. Dan semua itu dibungkus dalam kebohongan besar[]
*Robert Fantina adalah penulis buku Empire, Racism and Genocide: a History of US Foreign Policy. Tulisan ini diterjemahkan dari counterpunch.com.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*