Teheran,LiputanIslam.com-Masing-masing dari Donald Trump, Muhammad bin Salman, dan Benyamin Netanyahu adalah pengidap narsisme akut dari kalangan Kristen, Muslim, dan Yahudi. Meski masing-masing menganggap lainnya sebagai alat bagi dirinya, namun mereka bisa bertemu dalam sebuah taktik gabungan.

Jika di masa depan ada orang yang meneliti karakter dan kinerja tiga figur ini, dia akan menemukan bahwa narsisme adalah sifat yang sama-sama dimiliki mereka. Dia akan mendapatkan bukti-bukti yang jauh lebih lengkap daripada yang diperoleh peneliti di masa kini, kemudian akan mengetahui apa yang bisa mengaitkan mereka satu sama lain.

Terkait dengan para pengidap narsisme, psikolog mendeskripsikan mereka sebagai “para pecinta diri sendiri yang menganggap diri mereka sebagai poros dunia, sedangkan orang-orang lain hanya sekelompok orang rendah yang mesti menunggu ide, pemikiran, dan perbuatan mereka.”

Namun, yang mungkin menjadi teka-teki psikologis adalah, bagaimana tiga figur ini bisa saling bertemu dalam periode sejarah ini, dan walaupun masing-masing mengidap narsisme “kelas dewa”, sanggup menanggung keberadaan selainnya, bahkan justru saling melengkapi satu sama lain?

Barangkali, rahasia dari teka-teki ini adalah karena masing-masing dari Trump, Bin Salman, dan Netanyahu menganggap dua orang selainnya sebagai “alat bagi dirinya untuk meraih tujuan.”

Dalam pandangan Trump, Bin Salman adalah dolar berwarna hitam dari spesies minyak; orang yang demi meraih singgasana kerajaan, bisa menjadi serdadu infanteri AS paling efisien. Trump juga memandang Netanyahu sebagai kepala pemerintah imajiner, yang keberadaannya di Timur Tengah bisa dijadikan alasan utama agar AS bisa eksis di kawasan tersebut, sehingga Paman Sam bisa meraih keuntungan maksimal dari kawasan strategis tersebut dengan cara memicu konflik regional.

Di lain pihak, Bin Salman tengah bermimpi untuk bertakhta di atas singgasana kerajaan Saudi, juga berangan-angan untuk menjadi pemimpin Dunia Islam. Di matanya, Trump adalah seorang antek yang jika disogok dengan lebih banyak uang, bisa mempercepat terwujudnya impian putra mahkota muda ini. Dengan adanya Trump dan tunduknya AS di hadapan kucuran uang, Bin Salman tak memandang Netanyahu sebagai ancaman bagi diri dan pemerintahannya. Bagi Bin Salman, Netanyahu tak lebih dari seorang pengemis, tapi pengemis yang selalu ngotot untuk mendapat uang dan menganggap dirinya layak dibantu. Sebab itu, Bin Salman menyebut orang-orang Zionis berhak untuk tinggal di Palestina. Dalam waktu dekat, putra mahkota Saudi juga diharapkan untuk menjadi penyambut utama terhadap proyek “Kesepakatan Trump.”

Masing-masing dari tiga orang ini adalah narsis yang memandang selainnya sebagai alat bagi dirinya, meski tentu mereka tidak menampakkan pandangan ini kepada yang lain. Timur Tengah menjadi titik pertemuan mereka untuk proyek terpenting, yaitu masalah Palestina.

Dalam proyek gabungan ini, AS bisa menjamin eksistensinya di kawasan di masa mendatang. AS akan menguatkan Israel, yang merupakan penjaga kepentingan regionalnya, dengan uang dan pencitraan Saudi. Sementara itu, Netanyahu melihat bahwa berlalunya tuju dekade, impian eksistensi rezimnya akan terwujud dengan dukungan Trump dan uang Saudi. Dan akhirnya, Bin Salman juga memandang bahwa singgasananya akan terjamin dengan uang rakyat Saudi serta adanya dukungan Trump dan Netanyahu.

Namun, kita harus menunggu sampai kapan taktik gabungan ini akan berlangsung, juga apakah impian-impian mereka akan terwujud. Menurut pepatah Persia, “dua raja tak bisa berkuasa di satu wilayah.” Dari sudut pandang psikologis, tiga pengidap narsisme tentu tak akan muat berada di satu kawasan dalam jangka waktu lama. (Abu Reza Saleh/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*