GarikaiOleh: Garikai Chengu

Jumat lalu seorang atlet berkulit hitam yang paling hebat dan paling dicintai dalam sejarah, yaitu Muhammad Ali, menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Tidak ada olahraga yang mengeksplotitasi atlet, khususnya atlet berkulit hitam, sebagaimana halnya tinju. Petinju pertama di Amerika yang merupakan budak asal Afrika. Pemilik budak yang berkulit memaksa budak ke dalam ring ‘kematian’, sebagai ajang hiburan. Bahkan setelah perbudakan dihapuskan, tinju merupakan olahraga pertama yang dibaurkan sehingga promotor tinju berkulit putih bisa terus mengeksploitasi orang-orang kulit hitam—dan mereka menciptakan uang dengan hal itu.

Eugenika digunakan sebagai pembenaran perbudakan, dan ilmu yang semu seolah-olah membuktikan bahwa orang kulit hitam tidak hanya memiliki mental yang inferior, namun secara fisik juga kalah dibandingkan dengan kulit putih.

Ironisnya, promotor awal tinju tidak menyadari bahwa mereka telah menciptakan ruang yang mana petinju kulit hitam bisa menghancurkan gagasan supremasi kulit putih dari masyarakat dan hirarki rasial.

Kemenangan Jack Johnson melawan ‘The Great White Hope’ pada tahun 1910 memicu salah satu kerusuhan ras nasional terbesar dalam sejarah Amerika. Karena malu mendapati pria berkulit hitam menang melawan pria berkulit putih, Kongres mengesahkan undang-undang yang melarang film tinju.

Dengan melihat sejarah tinju, sangat jelas terbukti bahwa ras dan budaya yang paling menderita dalam beberapa waktu tertentu cenderung menghasilkan juara yang terhebat.

Tinju memiliki kecenderungan baik untuk menarik ataupun sebagai harapan dari masyarakat minoritas yang kurang mampu. Melalui tinju, seseorang dapat membaca grafik langsung dari penduduk kurang mampu di Amerika.

Anda akan melihat gelombang petinju dari Yahudi yang kurang mampu, begitu juga dengan petinju Irlandia, petinju Italia-Amerika, petinju Afrika-Amerika, dan sekarang petinju Hispanik.

Dalam masyarakat yang kadangkala begitu rasis, tinju menjadi pelarian bagi kemarahan rakyat. Tinju melambangkan manifestasi impian orang-orang Amerika, bahwa kaum minoritas harus berjuang untuk keluar dari kemiskinan.

Citra modern dari Muhammad Ali, digambarkan sebagai seorang pria berkulit hitam yang berjaya di atas ring dan berteriak “akulah yang terhebat”. Gambarnya itu sekarang digunakan untuk menjual bermacam-macam produk, dari minuman ringan hingga mobil mewah.

Sejarah menunjukkan bahwa Muhammad Ali adalah seorang pria berkulit hitam yang nasionalis, berteman baik dengan Malcolm X, dan merupakan anggota kelompok Black Power, The Nation of Islam. Ali tidak diragukan lagi petinju terbaik dalam sejarah, bukan hanya karena prestasinya di atas ring, tetapi karena berperang melawan rasisme dan perang dalam olahraga profesional.

Muhammad Ali dibesarkan di tahun 1950-an dan 1960-an. Lahir di Louisville dengan nama Cassius Clay, Ali tenggelam di alam rasis Amerika sedari lahir. Setelah memenangkan medali emas Olimpiade pada usia 18, Ali begitu bangga atas medali yang diraihnya dan ia mengalungkan di lehernya hampir sepanjang waktu. W. Rudolph mengatakan, “Dia tidur dengan medali, ia pergi ke kantin dengan medalinya. Dia tidak pernah melepasnya.”

Setelah kembali dari Olimpiade, Ali hendak makan di restoran dengan medali berayun di lehernya, namun dia ditolak oleh pemilik restoran kulit putih. Ali kemudian melemparkan medali emas itu ke sungai Ohio.

Ali menemukan jawaban atas rasisme Amerika dari Malcolm X dan Nation of Islam. “X dan Ali adalah satu dan sama,” tulis jurnalis J. Tinsley. “Keduanya muda, tampan, cerdas, pria Amerika-Afrika yang vokal, yang khawatir tentang omong kosong dari orang kulit putih Amerika selama kurun waktu tersebut bahwa ketegangan rasial adalah hal yang biasa.”

Dengan Nation of Islam, Ali menolak nama yang diberikan padanya, “Cassius Clay adalah nama yang diberikan oleh tuan budak. Sekarang saya bebas, saya bukan milik siapapun, saya bukan budak lagi, dan saya kembalikan nama tersebut dan memilih nama Afrika yang indah.”

Pada saat sebagian besar orang-orang mendukung perang Vietnam, Ali bertanya, “Mengapa mereka meminta saya untuk mengenakan seragam dan meninggalkan rumah sejauh 10.000 mil, lalu menjatuhkan bom dan peluru kepada orang-orang berkulit cokelat di Vietnam sementara orang-orang yang disebut Negro di Louisville diperlakukan seperti anjing tanpa peduli hak asasi manusia? Jadi saya akan masuk penjara? Kami sudah di penjara selama 400 tahun!”

Hukuman atas penolakan pergi berperang adalah 18 bulan, tetapi juri yang semuanya berkulit putih menjatuhi Ali hukuman selama 60 bulan atau selama lima tahun. Ia dihukum karena berdiri menentang rasisme yang paling kejam baik di Amerika maupun di luar negeri.

Mungkin warisan terbesar Ali adalah ‘suaranya’. ‘Suara Ali’ adalah suara yang tanpa kompromi, menolak perangkap kekayaan dan ketenaran. Suara Ali tidak meminta agar ia diterima, namun menuntut agar ia didengar.

Pers Amerika awalnya memandang ‘suara Ali’ sebagai suatu atmosfer perubahan yang menyegarkan. Namun pada tahun 1964 ketika ia mengumumkan keislamannya, ia lantas disebut sebagai seorang seorang pemarah yang rasis. The New York Times terus mencetak nama Ali dengan menggunakan nama budaknya Cassius Clay selama bertahun-tahun. Media itu menyebutnya sebagai orang yang memuakkan, kekanak-kanakan, dan pembual. Tentu saja, para penulis kolom olahraga kulit putih menyukai atlet Negro yang tangguh, namun tenang dan jinak.

Pers kulit putih Amerika membenci ‘suara Ali’ dan berusaha membungkamnya. Pemerintah Amerika juga setali tiga uang. Namun pada akhirnya mereka hanya berhasil memungkam Ali ketika ia sudah tidak mampu lagi berbicara karena menderita penyakit Parkinson.

Tinju mengubah sejarah Amerika. Olahraga tinju sangat berkaitan erat dengan kemajuan gerakan hak-hak sipil dibandingkan olahraga lainnya, mulai dari Jack Johnson ke Joe Lewis hingga Muhammad Ali.

Sejarah tidak pernah menghasilkan atlet lebih dianiaya oleh pemerintah Amerika, lebih difitnah oleh media Amerika, atau lebih dihormati oleh dunia internasional sebagaimana Muhammad Ali. (LiputanIslam.com)

——-

Penulis adalah lulusan Harvard University, CEO of Chengu Gold Mining Pvt. Ltd. Tulisan ini diterjemahkan dari Globalresearch.ca.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL