Rijal MumazziqOleh: Rijal Mumazziq Z.*

Sewaktu memberi sambutan di Masjid Istiqlal, Presiden Jokowi menyinggung isu “Islam Nusantara”. Sontak hal tersebut memancing pro dan kontra. Soal definisi “Islam Nusantara” itu memang debatable. Ada versi Prof. Azyumardi Azra, versi kawan-kawan Gusdurian, versi KH Said Aqil Siraj, versi Sastrawan Radhar Panca Dahana hingga versi Mas Ahmad Baso. Saya juga mendapati versi para kritikus dan penentang istilah ini. Kritikus yang saya maksud seperti Hartono A. Jaiz, Ust Bachtiar Nasir, Dr. Fahmi Salim (tokoh muda Muhammadiyah), Habib Rizieq shihab, KH. Hasyim muzadi, Prof KH. Ali Mustofa Yaqub, Felix Y Siauw, Jonru Ginting (facebooker), Abu Fikri, Kholili Hasib, MA (alumnus Gontor) dan Dr EM. Sangadji M.Si (dosen UMM Malang).

Pengkritik yang paling vulgar adalah seorang penulis bernama Fadh Ahmad Arifan (mantan dosen STAI al-Yasini, Pasuruan). Dalam artikelnya dia menyatakan “Islam Nusantara” sebagai proyek liberalisasi alias pesanan asing, bercorak sinkretik, tidak laku di basis kaum modernis dan terlalu Jawa sentris.

Analisis para kritikus Islam Nusantara telah menghiasi di dunia maya. Silahkan saja berselancar sejenak ke situs Hidayatullah, Suara-islam, VOA-Islam, Nahimunkar (milik Hartono A. Jaiz), Jurnal Islam, Islamedia, Fimadani, Bersama Islam, Kiblat, Muslimina, Eramuslim, Kompas Islam, dan Sharia.

Ditinjau dari segi geografis, “Islam Nusantara” membentang dari Pattani, Thailand Selatan; Malaysia, Brunei, hingga Mindanao, dan tentu saja Indonesia. Secara kebudayaan, penduduk kawasan ini memiliki kesamaan-kesamaan yang identik sebagai masyarakat maritim dengan konsep kekeluargaan yang erat.

Secara ideologis, Islam Nusantara didominasi oleh Ahlussunnah wal Jamaah dengan fondasi Asy’ariyah dalam teologi, Syafi’iyah dalam fiqh, dan Ghazaliyah dalam aspek tasawuf. Aspek terakhir ini terbilang dinamis karena sempat terjadi gesekan tasawuf Sunni vs Tasawuf Falsafi di Jawa dan Aceh.

Dalam upaya menjaga sistem, berbagai inovasi dijalankan dengan cerdas dan bermartabat. Sebut saja misalnya konsep pendidikan ala pondok pesantren, inovasi melalui pembacaan khas kitab kuning dengan “makno gandul”, tradisi syair pujian menjelang dan setelah adzan, “megengan” dan “nyadran” sebelum Ramadan, halal bi halal, hingga tradisi literasi yang banyak dilakukan para ulama Nusantara sebagai pengkokoh sistem yang telah berjalan. Tradisi literasi ini cukup luar biasa karena para ulama selain menulis dalam bahasa Arab juga menulis dalam berbagai bahasa daerah. Lebih keren lagi, beberapa tafsir al-Qur’an ditulis menggunakan bahasa lokal.

Benarkah ini proyek liberalisasi? Saya jawab, “Ya”, jika yang dimaksud liberalisasi ini adalah “pembebasan” dari keterkungkungan dan sikap inferioritas yang selama ini menimpa kita sebagai umat Islam Indonesia manakala berhadapan dengan saudara-saudaranya umat Islam di kawasan lain. Umat Islam Indonesia selama ini dicap tradisionalis, padahal sesungguhnya memiliki basis keilmuan yang mengakar dengan era keemasan Islam di mana kitab-kitab klasik masih dikaji, sekaligus memiliki kepedulian terhadap harmoni sosial-budaya, dan ditunjang dengan pengetahuan dalam soal kekinian. Ini menjadi modal berharga bagi perwujudan Indonesia sebagai mercusuar peradaban Islam dunia.

Mengapa Islam Indonesia berpotensi menjadi mercusuar peradaban Islam dunia?Karena, kita sudah nyaris kehilangan harapan pada Timur Tengah yang berkonflik terus menerus. Saya prediksi dalam 15 tahun mendatang tidak akan ada ulama yang lahir dari kawasan konflik ini. Sebab, perang hanya melahirkan jagoan perang, bukan ulama. Sebaliknya, umat Islam di Indonesia memiliki karakteristik yang khas dan basis keilmuan yang kuat. Tak heran bila Serikat Ulama Afganistan sampai berguru ke PBNU soal perdamaian dan Pancasila. Mereka ingin meniru Pancasila dan politik kebangsaan NU guna mendamaikan konflik di negaranya.

Islam Nusantara AntiArab?

Apakah Islam Nusantara anti-Arab? Tidak. Bagaimana bisa Islam Nusantara menafikan aspek Arabisme ini ketika kitab-kitab yang dikaji juga masih menggunakan bahasa Arab? Kawasan Nusantara adalah kawasan dinamis yang membuka diri baik anasir Arab, India, Persia, China, hingga Barat. Kita lihat, dalam corak kuliner saja, semua unsur memiliki pengaruh,kok. Apalagi dalam berbahasa: dari Sansekerta, Arab, Melayu, Portugis, Belanda, Tiongkok, hingga Inggris punya sumbangan kosakata dalam bahasa Indonesia. 9 dari 10 kosakata dalam bahasa Indonesia adalah istilah asing, kata sastrawan Remi Sylado.

Dimata saya, Islam Nusantara ini meniscayakan sebuah aspek interaksi yang harmonis dan dinamis dengan kenyataan ke-Nusantara-an. Perangkat Ushul Fiqh saya kira telah menjadi modal dasar dalam melihat prospek ini, sehingga tidak merobohkan fondasi syariat dan tetap bisa membuka ruang dialog dengan tradisi di Nusantara ini. Bagaimana dengan urusan politik? Sebatas pengetahuan saya, selama ratusan tahun, Islam Nusantara telah memberikan fondasi elegan: menjadi mayoritas yang melindungi dan mengayomi, serta menjadi minoritas yang menjaga harmoni. Wallahu A’lam Bisshawab

*Alumnus Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL