palestina abdel bari atwan

Oleh Abdel Bari Atwan*

LiputanIslam.com – Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi saat menyambut para penulis, insan media dan pemikir yang menjadi tamu Festival Jenadriyah, Minggu (8/2), mengatakan, “Kerajaan Arab Saudi tidak akan mencampuri urusan negara lain, Arab Saudi berhak membela diri, dan kami meminta pihak lain supaya tidak mencampuri urusan kami.”

Pernyataan Raja Saudi ini mengemuka bersamaan dengan kesiapan negaranya mengirim 150,000 pasukan ke Suriah, melakukan latihan perang dengan beberapa negara lain, termasuk Mesir dan Sudan, sebagai persiapan untuk intervensi tersebut dengan sandi “Halilintar Utara” (Ra’ad al-Syumal), dan terlibat dalam perang di Yaman. Ada kemungkinan Turki akan menjadi pintu bagi masuknya pasukan Saudi itu ke wilayah Suriah.

Tujuan yang diumumkan untuk intervensi itu ialah menumpas kelompok ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), tapi tujuan yang sebenarnya tentu tidak umumkan, yaitu menguatkan dan menyokong kelompok-kelompok pemberontak bersenjata Suriah dalam perang untuk menggulingkan pemerintahan di Damaskus, mengubah keseimbangan kekuatan di darat menyusul kemajuan besar Pasukan Arab Suriah (SAA) di bagian utara dan timur Rif Aleppo serta bagian selatan provinsi Daraa dengan dukungan pasukan udara Rusia.

Dewasa ini Arab Saudi sedang terjangkit obsesi pada dua taraf. Pertama, menghindari kekalahan politik dan mental di Suriah dan mencegah aksi balas dendam pemerintah Suriah setelah Saudi terlanjur berinvestasi milyaran USD serta melakukan sepak terjang politik dan militer untuk menggulingkan pemerintah Suriah. Kedua, membentuk aliansi-aliansi politik dan militer “Sunni” untuk menghadapi “poros Iran” di mana Suriah merupakan salah satu sendi utamanya, dan mengerahkan seluruh kekuatan militer dan dananya dalam rangka ini, dengan resiko apapun, baik secara materi maupun jiwa.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang membiarkan daratan, pelabuhan udara dan pelabuhan lautnya menjadi pintu masuk bagi para kombatan yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk bergabung dengan ISIS, Jabhah al-Nusra, Pasukan Kebebasan Suriah (FSA), dan berbagai kelompok pemberontak lain, kini juga menyambut baik masuknya pasukan Saudi ke Suriah. Dengan kata lain, Turki yang semula memperkenankan masuknya ISIS beserta perbekalan senjata dan dananya, kini memperkenankan masuknya pasukan yang akan “menumpas” kelompok ini. Ini jelas nyeleneh dan tidak mungkin terjadi kecuali di Turki dan negara-negara Arab sekutunya.

Ekspedisi militer Saudi, Turki dan negara-negara Arab Teluk ke Suriah erat kaitannya dengan agenda kuat Amerika Serikat (AS) yang telah diumumkan oleh Senator Lindsey Graham dalam jumpa pers September 2015. Saat itu dia mengatakan sedang terjadi proses persiapan untuk masuknya 100,000 personil pasukan ke Suriah untuk memerangi ISIS, 90,000 di antaranya berasal dari negara-negara Arab, sedangkan 10,000 sisanya dari AS dan Barat. Saat itu juga ada bocoran pernyataan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) bahwa negaranya menyambut baik rencana pengiriman pasukan ke Suriah apabila menerima permintaan dari koalisi internasional.

Sumber-sumber Saudi memperkirakan bahwa intervensi militer itu akan dimulai bulan depan, dan tak kecil kemungkinan Yordania menjadi salah satu pintu masuknya sebagaimana Turki, mengingat jarak Yordania dengan Damaskus, ibu kota Suriah, tidak lebih dari 90 km.
Hal yang menarik dari semua ini ialah pernyataan Raja Saudi bahwa negaranya tidak mencampuri urusan negara lain dan meminta negara lain supaya tidak mencampuri urusan internal Saudi. Saudi sekarang sudah hampir melancarkan intervensi militer, sudah lima tahun memberikan dukungan militer dan dana kepada oposisi bersenjata Suriah, memperkenan oposisi itu bermarkas di Riyadh, dan terlibat dalam Perang Yaman yang telah menewaskan ribuan penduduk. Jika semua ini tidak dianggap sebagai campur tangan, lantas apa arti dan pengertian campur tangan itu sendiri? Tolong jelaskan.

Dalam tinjauan militer sederhana, kita tidak tahu apa hikmah keterlibatan dalam dua perang di waktu yang sama, satu di Yaman yang tak kunjung menghasilkan kemenangan, dan yang lain di Suriah, sebagaimana dilakukan Saudi. Apakah pasukan Saudi dan sekutunya akan menang, sebagaimana didengungkan oleh para “pakar”-nya bahwa akan terjadi serbuan ke Sanaa, ibu kota Yaman, pada akhir bulan ini, bahwa pasukan “aliansi al-Houthi – Salihi” akan kalah? Kemudian, kalaupun menang, apakah juga akan dapat mengendalikan keadaan, memulihkan keamanan dan menyudahi perang? Dengan bekal apa pasukan Saudi dan jet-jet tempur “Badai Mematikan” akan menghabiskan waktunya untuk melawan front tangguh di Suriah?

Terlalu dini untuk menjawabnya, karena masih jeda waktu 23 hari untuk mencapai akhir bulan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa air akan mengukur kejujuran klaim kemampuan menyelam, dan kita bertanya-tanya apakah Saudi sudah menjelma menjadi negara raksasa yang ketiga sementara kita tidak mengetahuinya? Kemudian, mana semangat perang seperti ini dalam kurun waktu 60 tahun sejak peristiwa perang Arab melawan rezim pendudukan Israel?

Belum pernah Saudi mengalami kondisi nekat dan penuh resiko seperti sekarang, terutama resiko terjerumus dalam perang yang mengurungnya. Saudi terlibat dalam perang melawan Yaman, sebuah negara miskin yang tak memiliki angkatan bersenjata, pesawat tempur, artileri mutakhir, dan pertahanan udara. Perang ini sudah memasuki bulan ke-11, tapi kemenangan dan apa yang disebut “mematikan” itu tak kunjung tiba. Lantas apa jadinya jika pasukan Saudi itu berhadapan dengan jet-jet tempur mutakhir Rusia, dan dengan tentara Suriah yang sudah terlatih dengan perang gerilya maupun perang konvensional selama lebih dari lima tahun, memiliki senjata mutakhir buatan Rusia, dan mendapat dukungan dari Iran, Rusia dan Hizbullah?

Memerangi ISIS sendiri bahkan juga bisa jadi kejutan yang mengerikan bagi para petinggi militer Saudi, sebab akidah pasukan Saudi (Wahabisme) adalah akidah yang juga dianut oleh ISIS dan para pimpinannya. Lantas siapakah yang akan berperang; tentara Saudi sendiri atau anak-anak mudanya? Kemudian, bagaimana seandainya sebagian pasukan Saudi memilih desersi dan malah bergabung dengan ISIS?
Jurnalis AS Thomas Friedman dua bulan lalu berkunjung ke Saudi dan lebih dari lima jam mengadakan pertemuan dengan Putera Mahkota Pangeran Mohammad bin Nayef, Wakil Putera Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman yang juga menteri pertahanan dan penguasa Saudi sekarang.

Dalam wawancara bergambar yang dimuat dalam situs New York Times sesudah pulang dari Riyadh, Friedman mengatakan, “Hal yang paling dikuatirkan oleh para pejabat Saudi yang telah saya temui ialah serangan ISIS terhadap Israel karena ini tak ubahnya dengan kehancuran aliansi Sunni yang mereka galang dan buyarnya strategi mereka.”

Dia menambahkan, “Para pejabat yang saya jumpai (Mohammad bin Nayef dan Mohammad bin Salman) tidak menyebutkan kata konflik Arab-Israel barang satu kali, dan mereka berbicara mengenai adanya 200,000 penerima biasiswa Saudi di universitas-universitas AS dan Eropa yang 20,000 di antaranya pulang setiap tahunnya. Ini bisa menjadi bahaya tersendiri.”

Apa yang dapat kita simpulkan dari pernyataan penulis AS Thomas Friedman yang memandang Saudi lebih berbahaya daripada Iran karena mengekspor “teroris Wahabi” ke seluruh dunia ialah bahwa seandainya Saudi memang memerangi dan menumpas ISIS maka ini adalah demi menghapus bahaya yang mengancam Saudi sekaligus Israel.

Hari-hari mendatang kita sangat sulit dan berbau anyir darah. Peperangan adalah sesuatu yang terbuka di depan segala kemungkinan. Bangsa-bangsa kita, termasuk bangsa Saudi, akan membayarnya mahal dengan darah, jiwa, harta benda, dan kesatuan tanah airnya. Pahit menyesak di tenggorokan. (mm)

*Artikel ini diterjemahkan dari editorial Rai al-Youm, 7 Februari 2016. 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL