ust husein-2Oleh: Husein Muhammad Alkaf, M.Ag.*

Jauh sebelum munculnya hiruk pikuk pemberitaan tentang ISIS ( dalam media Arab disebut dengan “ Dâ’ish “), sering kali saya dan mungkin juga sebagian pembaca melihat tulisan di belakang jaket para aktifis mahasiswa Islam sebuah tulisan berbahasa Arab yang berbunyi “ Tsumma takûnu al khilâfah ‘alâ Minhâj al Nubuwwah “. Selain propaganda (dakwah), tulisan itu ingin menyampaikan sebuah pesan tentang sistem kekuasaan yang Islami. Ungkapan itu merujuk pada sebuah hadis Nabi SAW. yang berisikan sebuah nubuwwat tentang sistem kekuasaan yang akan muncul setelah Beliau wafat. Inti dari hadis itu adalah bahwa pada akhir zaman nanti kekuasaan yang akan muncul adalah sistem khilafah yang sesuai dengan ajaran beliau.

Tulisan itu mengusik saya untuk membaca sejarah Islam yang berkaitan dengan kekuasaan dan pemerintahan. Saya yakin agama Islam yang sempurna ini diturunkan oleh Allah SWT. melalui Nabi Muhammad SAW. dengan tujuan untuk mengatur kehidupan manusia, individual maupun sosial, dengan kebenaran dan keadilan. Kekuasaan atau pemerintahan hanya sebuah perangkat untuk mewujudkan tujuan suci itu. Kemudian apa bentuk atau model kekuasaan dan pemerintahan yang ditawarkan oleh Islam? Kerajaan (monarki) atau presidensial atau parlementer atau lainnya?Masalah ini telah diperdebatkan beberapa dekade yang lalu. Tulisan ini tidak akan membahas masalah itu.

Sudah maklum bagi seluruh kaum Muslimin bahwa pada usia empat puluh tahun Muhammad bin Abdullah diangkat oleh Allah SWT sebagai utusanNya. Lalu beliau diperintahkan untuk berdakwah kepada kerabat terdekatnya (QS. 26 : 214) selama tiga tahun, dan selanjutnya beliau mendeklarasikannya dirinya sebagai utusan Allah SWT secara terbuka (QS. 15 :94). Semenjak jadi utusan Allah, Beliau menetap dan berdakwah di kota Mekkah selama tiga belas tahun. Setelah itu beliau berhijarh ke kota Yatsrib (baca, Madinah) hingga wafat. Ketika di Madinah beliau membangun sebuah masyarakat seutuhnya. Sebagai seorang Nabi, maka beliau mengajar, mengatur umat, memutuskan berbagai perkara di tengah kaum Muslimin, memimpin, mengutus beberapa sahabatnya untuk menyebarkan Islam ke berbagai pelosok, dan mengirim surat ke raja-raja dan ketua-ketua kabilah dan lain sebagainya. Semua itu selain sebagai fakta sejarah, juga sebuah ajaran yang harus diyakini oleh setiap Muslim bahwa seperti itu lah Nabi Muhammad SAW. menjalankan tugas kenabian. Beliau telah menjalankannya dengan baik dan sempurna. Semua tindakan beliau itu merupakan jalan atau minhâj kenabian yang patut diteladani oleh umat Islam.

Yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa Nabi Muhammad SAW. melakukan semua itu; sejak mengaku dan mendeklarasikan dirinya sebagai Nabi hingga memegang otoritas untuk memimpin dan mengatur umat, tanpa bermusyawarah dengan siapapun, tanpa adanya pelimpahan dari orang lain, tanpa kesepakatan (ijma’) di antara umat Islam dan tanpa sebuah pemilihan umum. Setelah beliau wafat, para pemegang otoritas atau pemimpin umat Islam menjadi pemimpin dengan cara yang berbeda-beda. Abu Bakar Shiddiq terpilih menjadi khalifah melalui musyawarah di antara sebagian kaum Anshar dan beberapa sahabat dari kaum Muhajirin, yang sebelumnya terjadi kegaduhan antara mereka. Umar bin al Khaththab menjadi khalifah karena diangkat oleh Abu Bakar atau karena pelimpahan kekuasaan darinya. Utsman bin ‘Affan dipilih oleh tim formatur yang dibentuk oleh Umar bin al Khaththab. Ali bin Abu Thalib diangkat sebagai khalifah karena kesepakatan umat Islam waktu itu. Al Hasan bin Ali menjadi khalifah karena melanjutkan ayahnya yang terbunuh. Muawiyah menjadi pemimpin setelah merebutnya dari al Hasan, lalu Yazid melanjutkannya. Kemudian Marwan bin al Hakam menjadi penguasa setelah mengkudeta Muawiyah bin Yazid dan diteruskan oleh Abdul Malik bin Marwan hingga keturunannya dari Bani Umayyah. Pada tahun 750, Abu Abbas al Saffâh meruntuhkan khilafah Bani Umayyah dan membantai kaum Umawiyyin dengan sadis, lalu dia menjadi khalifah pertama dari khilafah Abbasiyah. Kemudian dilanjutkan oleh keturunannya dalam kurun waktu yang sangat panjang.

Cara yang mereka tempuh untuk menjadi penguasa tidak sama dengan pengangkatan Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT., yang tanpa melalui proses musyawarah, kesepakatan, pelimpahan dan kudeta. Beliau dengan sendirinya mengaku dan mendeklarasikan dirinya sebagai nabi dan otomatis beliau pemegang otoritas dan pemimpin umat. Dewasa ini, mungkin karena semangat hadis “ Tsumma takûnu al khilâfah ‘alâ Minhâj al Nubuwwah “, Abu Bakar al Baghdadi mendeklarasikan diri sebagai khalifah kaum Muslimin atas sebagian wilayah Irak dan Suria (ISIS). Saya tidak tahu apakah deklarasinya itu sebagai bentuk terjemahan dari Hadis Nabi itu ? Apakah deklarasinya itu tanpa musyawarah, kesepakatan, pelimpahan dan pemilihan umat sebagai bentuk pengamalan dari minhâj nubuwwah ? Yang pasti, khilafah Abu Bakar al Baghdadi itu ditentang keras oleh kebanyakan para ulama di dunia, yang mungkin mereka lebih pakar dalam bidang agama darinya. Boleh jadi, para aktivis yang memakai jaket yang bertuliskan hadis itu sejalan dengan ISIS yang mengusung khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Sementara itu, sepanjang sejarah Islam tidak satu pun dari pemerintahan Islam pasca Nabi SAW. yang mengikuti minhâj Nubuwwah. Karena itu, perlu dikaji ulang apakah hadis itu shahih atau tidak. Jika shahih, maka semua pemerintah Islam tidak mengikuti minhâj Nubuwwah. Jika tidak shahih, maka apa perlunya melakukan propaganda khilafah? Dilematis!

*Pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra (STFI Sadra) Jakarta

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL