kirilOleh: Kirill Kovalenko*

Presiden Rusia Vladimir Putin, secara eksplisit telah menguraikan pandangan deterministik terhadap negaranya, seperti yang dicatat oleh Ingmar Oldberg di Russia’s Great Power Ambitions and Policy under Putin, “Rusia adalah suatu kekuatan besar, dan akan tetap menjadi kekuatan besar, yang terbentuk dan tidak dilepaskan dari  karakter geopolitik, keberadaan ekonomi dan budaya.”

Memang, bahkan seorang pemikir seperti Robert Kagan telah menyatakan bahwa status kontemporer Rusia adalah salah satu tempat kembalinya sejarah yang paling dramatis, jika mengacu pada kerusakan tatanan dunia yang disponsori oleh demokrasi-liberal ala Amerika Serikat.

Menariknya, Kagan juga membuat pengamatan atas kekalahan Rusia dalam Perang Dingin, yang memiliki kemiripan dengan sentimen pasca Versailles Jerman. Analogi ini mungkin harus dipertanyakan, tapi masalah Revanchisme* merupakan salah suatu hal yang sangat penting. Namun, kita juga harus mempertimbangkan sisi budaya dan kesadaran publik yang sering diabaikan dalam perumusan kebijakan dan persepsi nasional —  tetapi menjadi faktor yang signifikan dalam mendukung kebijakan luar negeri Rusia. Bahkan jika Rusia menganggap dirinya sebagai kekuatan besar sebelum akhir Perang Dingin, pemikiran realis akan mendikte bahwa hal ini tidak sepenuhnya benar, atau bahkan tidak ada relevansinya pada masalah yang dihadapinya dalam dunia kontemporer.

Meskipun demikian, untuk menganalisis Rusia diperlukan fokus secara khusus pada kesadaran sejarah, yang terlihat jelas dalam imperatif politik luar negerinya. Inilah sebuah keadaan, dimana historisitas unjuk gigi di berbagai negara, seperti yang diungkapkan Henrik Larsen,”Saat dihadapkan dengan ketidakpastian atau kurangnya informasi, atau ketika kepemimpinan tidak memiliki preferensi yang jelas dalam mengatasi krisis, faktor sejarah kemungkinan akan memainkan peran besar dalam perumusan kebijakan luar negeri.”

Hal ini muncul dari konstruktivis pemahaman nasionalisme, bahwa nasionalisme itu bukanlah sebuah ‘bawaan’ dalam suatu bangsa, melainkan interaksi dari tanda-tanda dan simbol budaya, yang beroperasi dalam wacana nasional, dan tunduk pada redefinisi politik yang terjadi secara terus menerus.

Dalam  jurnal “Russia as a Great Power”, dinyatakan bahwa dalam Perang Dingin, Rusia merupakan kekuatan adidaya – dan bahkan dalam sepanjang sejarah Tsar-nya, terlihat adanya sebuah perbedaan pandangan terhadap definisi ‘power’ antara Rusia dengan Barat. Hal ini tidak berarti bahwa kekuatan militer Rusia lebih rendah, karena pada titik tertentu, Rusia dan Barat memiliki pemahaman yang sama dalam memahami sebuah ‘power’, yang ditandai dengan perang Rusia-Georgia pada tahun 2008.

Pandangan yang lebih luas bisa dilihat dalam gagasan ‘messianisme nasional**’ atau ‘Roma Ketiga’, yaitu sebuah mentalitas yang mendefinisikan pemikiran Rusia.  Hal ini didefinisikan dengan fokus pada fakta bahwa Rusia memiliki sejarah unik. Rusia tidak bisa disebut sebagai Eropa ataupun Asia sepenuhnya. Selain itu, Rusia juga memiliki perkembangan sejarah yang cukup unik, sebagaimana yang diungkapkan oleh Janko Lavrin dalam “Populists and Slavophiles.”

Nampaknya, ada sebuah korelasi antara komunitas para petani yang dihormati oleh penulis pada abad ke-19 dan sosialisme pasca 1918 dengan karakter bangsa Rusia, seperti yang disebutkan oleh Vatro Murvar dalam “Messianism in Russia: religious and revolutionary.” Murvar mengutip Konstantin Leontiev, yang menorehkan visinya dalam sejarah Rusia, sebagai berikut, “Sebelumnya saya percaya, dan hingga kini masih percaya bahwa Rusia yang adalah pemimpin wilayah Timur yang baru, yang akan membentuk dunia dengan budaya baru, sehingga peradaban Slavia-Oriental dapat menggantikan peradaban Latin-Eropa.”

Pandangan ini bertolak belakang dengan merek eksepsionalisme sejarah yang berakar dalam Konstitusi AS atau Revolusi Perancis. Memang, jika dilihat dari pemahaman spiritual, nasib Rusia telah digambarkan oleh Guru Bangsa Rusia, Dostoyevsky, seperti dikutip Nancy Ries dalam Russian Talk:

“Tampaknya orang-orang (Rusia) telah terinfeksi rasa sakit dan haus sejak awal waktu, dan penderitaan ini menghiasi sejarah demi sejarah Rusia, bukan hanya karena kemiskinan dan faktor eksternal lainnya, tetapi juga berasal dari setiap jantung rakyatnya.”

Hal ini penting untuk diingat ketika mencoba untuk mengontekstualisasikan Rusia dalam norma-norma internasional kontemporer. Mungkin, hal ini tampak tidak relevan untuk menutupi sejarah intelektual eksepsionalisme Rusia, tetapi ini tidak bisa dipungkiri, semua ini merupakan aspek penting untuk memahami bagaimana bangsa menganggap dirinya sebagai penentu dalam takdir dunia, memiliki keistimewaan, dan hal-hal unik lainnya, tidak selalu berujung pada kemerdekaan dan kemakmuran, sebaliknya, mereka justru akan berorientasi pada penderitaan dan kekuasaan.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa perlawanan atas tekanan berbasis ekonomi yang dikenakan terhadap Rusia, sangat bertumpu pada kekuatan sejarah, dan faktor ini menjadi kekuatan terpenting bagi Rusia untuk terus memukul balik atas berbagai tekanan dari luar.

*Kirill Kovalenko adalah Master Hubungan Internasional lulusan dari University of Melbourne. Tulisan ini diterjemahkan dari thediplomat.com dengan judul Why No One Gets Russia.

 

*Revanchisme berasal dari bahasa Perancis (revanche) yang artinya balas dendam, mulai populer pada tahun 1870-an. Istilah ini mengacu pada kebijakan politik yang bertujuan untuk mendapatkan kembali sebuah wilayah yang hilang dalam sebuah peperangan.

** Messianisme adalah suatu gerakan sosial yang dikendalikan, dan sebagai suatu kepercayaan, dapat ditemukan dalam agama Zoroaster Persia, Yahudi, Kristen dan Islam; doktrin ini meyakini tentang kedatangan seorang penebus yang disambut sebagai pahlawan dan pembangun dengan karakter yang khas. Messianisme tidak hanya memengaruhi pemikiran agama di Barat tetapi juga memberikan inspirasi dalam gerakan sekular modern.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL