FelicityOleh: Felicity Arbuthnot*

Mungkin, alasan Perdana Menteri Inggris David Cameron menentang dimasukkannya UU Hak Asasi Manusia ke dalam Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia adalah karena ia sendiri tidak meyakini ada hak asasi manusia. Faktanya, Saudi telah mengeksekusi 47 orang dengan memenggal kepalanya, juga menyerang rakyat Yaman, sementara Cameron memiliki ahli strategi militer Inggris yang sebenarnya bisa bernegosiasi dengan Saudi untuk menghalangi hal itu. Parlemen bahkan belum bermusyawarah, dan tidak ada kesempatan untuk memperdebatkan hal ini ataupun melakukan voting, bukti demokrasi telah dipinggirkan.

Fakta lainnya, Saudi telah memancung lima warga Yaman pada tahun 2013, dan menggunakan crane untuk menunjukkan tubuh tanpa kepala itu menghadap ke langit. Cameron tidak terganggu melihat kebrutalan itu. Begitu juga ketika 10 November 2015 Saudi dilaporkan telah mengeksekusi 151 orang, jumlah tertinggi selama 20 tahun terakhir, Cameron juga bungkam.

Peduli setan dengan hak asasi manusia selama ada senjata yang bisa dijual. Mungkin itu yang ada di benak Cameron. Dalam satu periode perang Yaman, penjualan senjata ke Arab melonjak 11.000%. Dalam periode 3 bulan terakhir penjualan senjata ke Saudi hanya mencapai 9 juta pound. Namun pada Juli-September 2015 nilai penjualan senjata mencapai £ 1.066.216.510 (1 £ = 1,3 pound Inggris).

Cameron telah melakukan barbarisme yang mencengangkan. Sama mencengangkannya jika dibandingkan dengan daftar prioritas yang disusun untuk diplomat Inggris pada tahun 2011. Kala itu, para diplomat diminta aktif untuk mengupayakan hak asasi manusia dan penghapusan hukuman mati di 30 negara-negara tempat mereka bertugas. Misalnya Yordania, Pakistan, Singapura, Malaysia, Tiongkok, Taiwan, Jepang, Suriname dan Vietnam. Anehnya, Saudi tidak dimasukkan ke dalam daftar tersebut.

Pemerintah Inggris juga memiliki daftar negara-negara yang harus menjadi concern terkait kebijakan hak asasi manusia. Namun ironisnya, Campaign Against the Arms Trade (CAAT) mencatat, Inggris justru menjual senjata kepada 24 dari 27 negara yang ada di daftar tersebut, termasuk Saudi. Dilaporkan, Saudi dan Inggris telah melakukan kesepakatan membeli 22 pesawat Eurofighter Typhoon (jet tempur topan) senilai 4,5 Miliar.

“Selain pembelian jet tempur Topan, Inggris juga menawarkan jet tempur Hawk, senapan mesin, bom, dan gas air mata. Bom yang dimiliki oleh Angkatan Bersenjata Inggris telah dikirim ke Saudi untuk menghancurkan Yaman.”

Pesan-pesan hak asasi manusia berada di tempat kedua dibandingkan dengan keuntungan yang didapat oleh perusahaan senjata Inggris. Pemerintah dan otoritas lokal dari atasan hingga bawahan mendapatkan keuntungan langsung dengan melakukan pengeboman terhadap Yaman.

Dalam laporan PBB terhadap Yaman, Pemimpin Buruh Jeremy Corbyn menyerukan agar penjualan senjata ke Saudi dihentikan, sambil menunggu hasil penyelidikan independen. David Cameron mengelak dengan berkata, “Inggris memiliki aturan yang ketat tentang enjualan senjata ke negara manapun, tanpa kecuali.”

Namun laporan dari PBB menyebutkan:

“Panel ahli PBB mendokumentasikan bahwa Koalisi Arab yang menyerang Yaman telah melakukan serangan udara dengan menargetkan warga dan objek sipil, melanggar hukum kemanusiaan internasional. Mereka juga menyerang kamp pengungsi, kendaraan milik warga sipil, bus, pemukiman penduduk, fasilitas medis, sekolah, masjid, pasar, pelabuhan, bahkan pesta pernikahan. Ada 119 sorti dari Koalisi Arab yang terbukti telah melanggar hukum kemanusiaan internasional. Bahkan ada warga sipil yang melarikan diri dan dikejar-kejar, ditembak dari helikopter. Tak cukup sampai disitu, Saudi juga memblokade Yaman, tidak mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Yaman, dengan kata lain, Saudi menggunakan ‘kelaparan penduduk’ untuk sebagai strategi perang.”

David Mepham, Direktur Human Rights Watch berkomentar, “Selama hampir setahun, Menteri Luar Negeri Philip Hammond telah membuat klaim palsu dn menyesatkan bahwa tidak ada bukti pelanggaran perang yang dilakukan oleh Koalisi Arab.”

Kementrian Pertahanan Inggris juga menolak menjawab ketika ditanya berapa banyak penasehat militer Inggris yang berada di Pusat Komando dan Kendali Saudi, dan menekankan bahwa Inggris memberikan bantuan pelatihan teknik terbaik untuk memastikan bahwa mereka patuh terhadap Hukum Humaniter Internasional.

Mungkin Anda akan bertanya-tanya, apakah yang dimaksud Kementrian dengan pelatihan teknik terbaik? Apakah seratus serangan terhadap fasilitas medis sepanjang Maret hingga Oktober 2015 bisa disebut praktek terbaik yang sesuai hukum kemanusiaan? Palang Merah Internasional sendiri mengaku sangat kaget melihat bagaimana brutalnya pasukan Koalisi Arab yang menyerang fasilitas layanan kesehatan di Yaman.

“Rumah sakit Al-Thawra, salah satu fasilitas pelayanan kesehatan di Taiz yang mengobati sekitar 50 penderita luka setiap harinya, dilaporkan telah diserang sekian kali. Serangan seperti ini bukan kali pertama. Ada seratus inseden serupa yang dilaporkan sejak Maret 2015. Serangan yang disengaja menargetkan fasilitas kesehatan merupakan pelanggaran berat terhadap Hukum Humaniter Internasional.”

Upaya Dewan HAM PBB untuk mengirimkan Penyelidik Independen gagal karena Saudi keberatan. Dengan bantuan dari Inggris, sandiwara pun berlangsung mulus karena mereka mendekati salah satu pimpinan Dewan HAM PBB yang berpengaruh.

Serangan yang berulang pada fasilitas medis ataupun objek yang dilindungi oleh Hukum Humaniter Internsional adalah bukti nyata bahwa Inggris, Amerika Serikat dan sekutunya adalah penjahat perang, yang mengabaikan hak asasi manusia, mulai dari Balkan, Afghanistan, Irak, Suriah, Libya, dan Yaman. Lalu Inggris menyarankan agar intelejen AS dan Saudi membentuk tim ahli independen untuk menguji serangan yang mereka lakukan, apakah bisa disimpulkan sebagai kebiadaban atau kejahatan perang. Kondisi ini tak ada bedanya dengan menginstrusikan kepada seseorang yang membakar rumah untuk menyelidiki penyebab terjadinya kebakaran.

Amnesti, Human Rights Watch, Médecins Sans Frontières (yang tiga fasilitas medisnya dibom) telah berulangkali menyerukan agar dikirim tim independen untuk menyelidiki agresi terhadap Yaman, dan agar penjahat perang bertanggung jawab atas bencana tersebut. Namun apapun upaya itu, yang jelas kebiadaban agresi militer Saudi dan sekutunya tidak akan bisa mengembalikan rakyat Yaman yang telah mati ataupun yang kehilangan kaki. Tidak juga bisa mengembalikan Yaman kuno, surga sejarah yang indah seperti sediakala. (ba)

*Penulis adalah jurnalis independen asal Inggris, pernah meliput Irak selama Perang Teluk 1991. Artikel ini diterjemahkan dari Globalresearch.ca

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL