dina2Dina Y. Sulaeman*

Menyusul teror Paris, Pemerintah Perancis telah mengajukan draft resolusi kepada Dewan Keamanan (DK) PBB. Antara lain, menyerukan kepada semua anggota DK untuk mengambil semua langkah yang diperlukan (take all necessary measures) di wilayah yang dikuasai ISIS, untuk melawan ISIS.

Draft ini akan disidangkan oleh DK akhir pekan ini. Bila sebelumnya, berbagai draft resolusi serangan ke Suriah selalu diveto China dan Rusia, situasi saat ini berbeda. Pesawat Metrojet Rusia telah hancur berkeping-keping (31/10), dan ISIS mengaku telah menaruh bom di dalamnya. Warga negara China juga sudah menjadi korban pemenggalan ISIS (19/11) dan memunculkan kemarahan warga negeri Tirai Bambu itu. Situasi ini jelas membuat China dan Rusia sulit menolak resolusi itu.

Sebaliknya, resolusi disetujui, resikonya pun besar. Sejarah telah mencatat bahwa istilah take all necessary measures bisa digunakan seenaknya oleh NATO. Resolusi 2011 untuk Libya, yang konon untuk ‘intervensi kemanusiaan’ ternyata berujung pada penggulingan Qaddafi dengan cara terbrutal: bombardir istana presiden, gedung perkantoran, rumah sakit, rumah penduduk, dan berbagai infrastruktur lainnya, serta menggunakan bom fosfor putih. Qaddafi pun akhirnya tewas, kekuasaan diserahkan kepada pemerintah interim. Dan voila, kilang-kilang minyak dan berbagai proyek rekonstruksi pun diserahkan kepada perusahaan-perusahaan Barat.

Sejak Barat mensponsori upaya penggulingan Assad, yang dimulai tahun 2011, tujuan utama mereka adalah menggulingkan Assad. Dan ini adalah harga mati buat mereka. Resolusi take all necessary measures hampir bisa dipastikan akan dimanfaatkan untuk membombardir Suriah habis-habisan, sampai Assad tewas.

Di sini “ketulusan” Rusia akan teruji. Akankah Putin benar-benar akan membela Assad, atau lebih memilih bagi-bagi wilayah kekuasaan di Suriah? Waktu yang akan membuktikan.

Sementara ini, yang bisa dilacak adalah apa motif di balik sikap AS, Perancis, dkk yang sedemikian ngotot ingin “menyerang” ISIS setelah Rusia turun tangan? Perubahan sikap Barat bisa dipastikan terkait dengan kemajuan yang dicapai Rusia dan tentara Suriah di lapangan. Rusia telah membuktikan keseriusannya membombardir ISIS. Pepe Escobar menulis, pesawat temput Rusia melakukan serangan yang ‘mengesankan’ ke lebih dari 140 target yang diluncurkan melalui 34 rudal jelajah yang mutakhir, menggunakan pesawat pengebom supersonik sayap rendah Tu-160, Tu-22, dan Tu-95Mc, dan menempatkan 25 peledak strategis di Suriah, ditambah dengan 8 buah pesawat temput Su-34 ‘Fullback’, dan empat Su-27 ‘Flanker’.

Dalam pertemuan G20 di Turki (16/11), Putin blak-blakan menyebut bahwa penyuplai dana untuk ISIS berasal dari 40 negara, termasuk negara-negara G20. Segera setelah itu, Presiden Komisi Eropa mengajak Putin ‘baikan’ setelah selama ini Rusia dikucilkan akibat konflik Ukraina. Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker, menulis surat kepada Putin, mendorong agar kerjasama ekonomi Uni Eropa dan Eurasian Economic Union yang dipimpin Moskow semakin diperkuat. Juncker bahkan menyatakan penyesalannya, mengapa jalinan kerjasama ini tidak dimulai sejak tahun lalu.

Dalam KTT G20, Putin juga menyatakan memiliki data satelit jalur perdagangan minyak illegal, dari pangkalan ISIS ke negara asing, melewati Turki. Dengan segera, AS pun membombardir jalur perdagangan minyak tersebut. Pertanyaannya, pertama, mengapa AS menunggu Putin memberi laporan di G20? Kedua, mengapa yang dibombardir AS adalah infrastruktur minyaknya (ini adalah milik pemerintah Suriah, dibangun oleh pemerintah Suriah, dan kemudian dijarah oleh ISIS)? Mengapa tidak membombardir truk-truk minyak illegal, menangkapi anggota ISIS, dan membiarkan infrastruktur aman untuk kelak dikembalikan ke rakyat Suriah?

Tentu saja ini pertanyaan naif. Ini adalah pola lama, sudah terjadi di Irak dan Libya. “Hancurkan infrastruktur mereka, nanti kami yang membangun kembali,” kira-kira demikian gumam para pemilik perusahaan kontraktor Barat yang kini menguasai proyek-proyek rekonstruksi di Irak dan Libya.

Keberadaan wilayah kaya minyak yang dikuasai ISIS inilah kunci kekisruhan saat ini. Begini penjelasannya. Rusia telah menggempur para teroris (tidak hanya ISIS, tapi grup-grup “jihad” lainnya), sementara tentara Suriah dengan penuh heroisme mengambil alih desa dan kota dari pendudukan para jihadis. Sebagian di antara pengungsi pun kembali ke daerah asal mereka, sambil dengan gegap gempita menyatakan terima kasih kepada Rusia dan Assad.

Tentara Suriah juga telah mengambil alih wilayah selatan dan barat yang semula berada di tangan “mujahidin”. Di perbatasan Suriah-Lebanon, ISIS juga sudah dibabat oleh tentara Suriah dan Hizbullah. Saat ini target tentara Suriah adalah menguasai Aleppo kawasan utara Suriah lainnya yang masih dikuasai ISIS.

Wilayah yang menjadi urat nadi ISIS adalah perbatasan Turki-Suriah, yang merupakan jalur suplai logistik (dan pasukan) ISIS yang masuk dari Turki. Padahal, pasukan Kurdi telah berhasil mengontrol daerah yang berada di perbatasan Turki-Suriah dari ujung barat hingga ke timur, kecuali hanya sebagian kecil (Jarablus di bagian timur, dan Dabiq di bagian barat). Wilayah inilah yang disebut sebagai ‘Zona Aman’ oleh NATO. Selama ini, dalam operasi militer bersama AS dan Turki, wilayah ini justru benar-benar aman. Yang dibombardir AS dan Turki justru pasukan Kurdi dan rakyat sipil, bukan ISIS. Jika tentara Suriah atau pasukan Kurdi mampu mengambil alih wilayah ini, maka jalur supplai untuk ISIS akan terpotong.

Dan dalam posisi seperti, tiba-tiba teror Paris terjadi. Berdasarkan berbagai polling, publik di Eropa dan AS sudah semakin menyetujui dilakukannya serangan besar ke Suriah. Bila opini publik ini akhirnya membuat DK PBB merestui serangan NATO ke Suriah, maka sesungguhnya yang pertama akan dilakukan NATO adalah menjaga “Zona Aman ISIS” tetap aman. Dan yang lebih penting lagi, agar suplai minyak yang menghasilkan uang 1,53 juta Dollar AS per hari untuk ISIS (dan entah berapa untuk para trader) tetap aman. Perlu dicatat pula bahwa salah satu pemain utama dalam jual beli minyak illegal ini adalah Bilal Erdogan, putra Presiden Turki.

Jadi, seperti saya pertanyakan di awal tulisan: seberapa jauh ketulusan Rusia akan terlihat dari keberanian Sang Beruang Merah untuk merebut kembali wilayah tersebut dan mengembalikannya kepada rakyat Suriah. (liputanislam.com)

*peneliti ICMES, mahasiswa S3 HI Unpad

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL