Fahmi Salsabila, M.Si*

fahmi-Dewasa ini tak ada yang menyangkal bahwa Amerika adalah kekuatan utama politik Internasional.  Setiap isu internasional muncul, maka terlihat dengan gamblang ada tangan tangan Amerika yang ikut terlibat di dalamnya. Tak hanya di negara-negara berkembang, di negara-negara maju pun Amerika memainkan peran pentingnya; sebab naluri orang kuat adalah mendominasi orang lemah. Sebagaimana diteorikan K.J Holsti dalam Politik Internasional-nya, ada tiga faktor yang memunculkan dominasi politik internasional sebuah negara, yaitu, kekuatan, kemampuan, dan pengaruh.

Tiga faktor ini sungguh nyata terlihat. Amerika memiliki kekuatan ekonomi, militer, dan juga kekuatan budaya sehingga American style menjadi senjata juga. Yang berbau Amerika dianggap bagus, dianggap memiliki kualifikasi, dan seterusnya. Kekuatan militer AS pun digunakan dengan sangat agresif.  Irak diserangnya, Afghanistan ditaklukkan, dan Kongo diambil alih dengan dalih negara gagal yang harus diselamatkan. Amerika juga memiliki pengaruh yang sangat kuat. Lihatlah perusahaan-perusahaan minyak Internasional, semua didominasi Amerika. Di Saudi ada Aramco, di Indonesia ada Freeport dan Chevron dan seterusnya yang sangat banyak, sebagai bukti betapa Amerika sangat menghegemoni dunia internasional saat ini.

Negara-negara dunia memiliki sikap masing-masing menghadapi hegemoni Amerika ini. Ada yang tertunduk lesu mengikuti semua keinginan Amerika, namun ada juga yang mengecam keras kebijakan internasional tersebut. Ada juga yang mengecam di satu sisi, namun tetap mengikuti kebijakan dominasi Amerika. Intinya, semua sepakat atas kuatnya dominasi politik internasional Amerika; namun belum ada yang mampu menandinginya.

Pertanyaannya, mungkinkah dominasi Amerika dilawan? Adakah yang memulai? Dan bagaimana strategi melawan dominasi kuat Amerika ini?

Ibnu Khaldun dalam mukaddimahnya menyebut bahwa tak ada peradaban yang tak memiiki umur. Semua peradaban ada umurnya layaknya manusia. Manusia ada saatnya ia kecil, kemudian besar, lalu tumbuh dewasa menjadi kuat dan akhirnya nanti akan menua lalu pikun dan akhirnya pasti akan mati. Jika rata rata usia manusia ada yang 60 hingga 80 tahun, maka Ibnu Khaldun menyebut bahwa usia sebuah peradaban biasanya tak akan bertahan lebih dari tiga kali umur manusia. Itu artinya bahwa sebuah peradaban hanya memiliki usia sekitar 300 tahunan. Pendapat Ibnu Khaldun ada benarnya, sebab dalam sejarah dunia internasional pernah dikenal banyak peradaban namun kemudian mereka kini tinggal dalam kenangan. Ada peradaban Romawi, Persia, dan juga peradaban Bizantium yang disaat jayanya mereka begitu kuat, kokoh dan seolah tak tertandingi. Namun kemana mereka kini? Hanya ada dalam buku-buku sejarah yang terkadang pembacanya menggeleng-gelengkan kepala karena keunikan peradaban mereka. Amerika saat ini kuat dan besar namun bukan berarti ia akan kekal dan kuat selamanya. Suatu ketika nanti, ia pasti akan mengalami usia tua, sebab begitulah sejarah mengajarkan manusia tak ada yang abadi di dunia ini semua ada umur dan usianya, sekuat apapun manusia mempertahankannya pasti akan mengalami akhir.

Dalam politik internasional banyak negara yang berusaha melawan politik dominasi Amerika ini namun beberapa perlawanan tersebut ada yang berakhir tragis karena tak memiliki tiga faktor dominasi seperti yang ditulis Holsti. Mesir ketika dipimpin Mursi begitu kuat ingin memunculkan poros baru yaitu poros Timur Tengah baru antara Mesir, Turki dan Iran. Kini pemerintahan Mursi harus berakhir tragis akibat kudeta militer. Organisasi yang menaungi Mursi, Ikhwanul Muslimin, dibredel, dijadikan organisasi teroris dan semua assetnya dibekukan. Venezuela atau Kuba, hanya bisa berteriak anti-Amerika namun tak mampu lebih dari kecaman, karena dominasi ekonomi Amerika tak jua terbendung.  Di Saudi Arabia dan beberapa negara Teluk, masyarakat sipilnya memang begitu kuat menolak dominasi Amerika. Namun sayang, pemerintahan mereka tak berkutik untuk membendung dominasi Amerika. Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Kuwait adalah contoh negara-negara yang pemerintahannya tak kuat menolak dominasi Amerika walau masyarakat sipilnya tak sepakat dengan pemerintahnya.

Apa yang dilakukan Iran mungkin bisa menjadi strategi alternatif untuk melawan dominasi Amerika, yaitu dengan membuat ancaman lalu menggandeng poros anti-dominasi Amerika, selanjutnya melakukan bergaining dengan kekuatan, kemampuan, serta pengaruh yang ada. Iran memang tidak sekuat Uni Eropa, namun strategi melawan dominasi Amerika patut diacungi jempol. Perundingan Jenewa 2013 merupakan kemenangan politik luar negeri Iran terhadap dominasi Amerika. Iran sadar dengan keterbatasan kemampuan dan senjata, namun tak ingin menjadi boneka Amerika; maka Iran menggunakan nuklir sebagai senjata ancaman pertama.

Awalnya banyak pihak meragukan alasan Iran yang menyebut bahwa teknologi nuklir yang dibangunnya adalah untuk menghemat penggunaan minyak yang sudah menipis. Karena,  di negara itu minyak sangat melimpah. Banyak menduga bahwa ada alasan politik yang disimpan Iran sebagai langkah awal melawan dominasi Amerika. Iran pun terus berusaha menjelaskan bahwa proyek nuklirnya adalah demi pembangkit listrik dan menunjukkan itikad baik bekerja sama dengan IAEA. Langkah cerdas ini ternyata berhasil. Dunia internasional simpati terhadap Iran.

Langkah selanjutnya adalah menggandeng kekuatan dunia lain selain Amerika, agar Amerika semakin terkucil. Iran pun menggandeng Rusia, Perancis, dan China sebagai kekuatan pesaing Amerika di dunia internasional. Jika Amerika menyerang Iran, minimal tiga kekuatan ini akan mendukungnya. Belum lagi dunia internasional yang akan menyalahkan Amerika karena serangan terhadap Iran sangat mungkin memicu Perang Dunia Ketiga. Jika itu terjadi, Amerika-lah yang akan dipersalahkan dunia internasional. Langkah ini juga terbukti berhasil. Bila biasanya dalam dunia diplomasi internasional Amerika selalu menang, kini Iran mampu membuatnya takluk dan mau berunding secara damai yang diprakarsai oleh Oman. Perundingan damai negara-negara besar 5+1 ini dengan Iran ini berlangsung di Jenewa.

Perundingan Jenewa adalah kemenangan politik internasional Iran yang membuat kocar-kacir barisan negara-negara Teluk, sehingga Saudi memprotes tindakan Amerika yang sangat lunak terhadap Iran. Akibatnya, hubungan baik Amerika dan Saudi sedikit bermasalah.

Iran telah melakukan sebuah perlawanan politik luar negeri yang terencana. Ahmadinejad memulai dua periode, dengan cara frontal dan karenanya terkadang dianggap antagonis. Kini, Hasan Rouhani memulai babak baru perlawanan Iran terhadap Amerika dengan halus, yang berbeda dengan cara-cara antagonis yang terkadang tak banyak membuahkan hasil.

*Fahmi Salsabila adalah pengamat Politik Internasional, Sekjen ISMES (Indonesian Society for Middle East Studies)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL