Washington,LiputanIslam.com-Dalam analisis tentang perkembangan terbaru di Asia Barat (Timteng), Foreign Policy menyebut Iran sebagai pemenang dalam kontes penentuan masa depan kawasan tersebut.

Menurut media AS ini, rudal-rudal cruise dan nirawak yang menyasar jantung industri minyak Saudi pada 14 September lalu adalah “tanda dari serangan akurat terhadap paradigma yang berkuasa di dunia saat ini.”

Foreign Policy menganggap serangan ini sebagai refleksi dari “dunia yang tengah mengalami perubahan fundamental;” yang di dalamnya Rusia, Tiongkok, dan kekuatan-kekuatan regional, seperti Iran, berupaya untuk meruntuhkan hegemoni AS.

Urgensi historis dari perkembangan Timteng, tulis Foreign Policy, tersirat dalam wawancara Qassem Soleimani beberapa waktu lalu.

Komandan pasukan Qods IRGC itu dalam wawancaranya memaparkan kondisi kawasan yang berujung pada perang Hizbullah-Israel di tahun 2006. Soleimani menyinggung ucapan Condoleezza Rice (mantan menlu AS) yang menyebut Perang 33 Hari sebagai “tanda-tanda kelahiran Timur Tengah Baru.”

Baca: Senator AS: Kita Biayai Proyek Militer AS dengan Minyak Suriah

“Sama seperti tahun 2006, dunia saat ini kembali menyaksikan tanda-tanda kelahiran Timur Tengah Baru. Namun tentu sangat berbeda dengan apa yang dibayangkan Rice,”tulis Foreign Policy.

“Dalam satu setengah dekade lalu, semua perang yang dilancarkan Washington dan sekutunya terhadap front pimpinan Iran selalu gagal. Hizbullah pada tahun 2006  memaksa Israel bertekuk lutut. Pengaruh Iran di Irak kian mengakar. Iran dan sekutunya juga menang dalam perang Suriah. Selain itu, kampanye tekanan maksimum Trump gagal menundukkan Iran.”

“Dari hari ke hari, semakin jelas bahwa seiring keputusan Trump untuk menambah pasukan AS di Teluk Persia, kebijakan-kebijakan impulsifnya kian menguatkan pendapat bahwa AS adalah sekutu yang tak bisa diandalkan. Hal ini juga mempercepat kemunculan perimbangan-perimbangan baru dunia, yang jauh dari inisiatif ekonomi dan keamanan yang digagas AS.”

Foreign Policy berpendapat, AS beserta sekutu Eropa dan regionalnya di Timteng tak lagi memiliki pandangan yang seragam. Hal ini bisa dilihat dari keputusan Trump untuk menarik pasukan AS dari Suriah, juga tindakannya yang mengeluarkan AS dari JCPOA.

“Saat ini, terdapat sinyal-sinyal kuat bahwa koalisi negara-negara Arab dan Israel, yang dimobilisasi Trump untuk melawan Iran, berada di ambang keruntuhan. Di saat Benyamin Netanyahu sedang berkutat untuk menyelamatkan karir politiknya, para sekutu Trump di Saudi dan UEA sepakat dengan masyarakat internasional, bahwa interaksi dengan Iran sangat vital demi mengurangi gesekan regional dan menemukan solusi untuk krisis Timteng,”pungkas Foreign Policy. (af/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*