Riyadh,LiputanIslam.com-Ketika Muhammad bin Salman dinobatkan sebagai putra mahkota Saudi dan memulai ‘reformasi’ sistem negaranya, banyak analis berpendapat, ketergesaan MbS bukan hanya tidak mendatangkan hasil untuk klan Saud, tapi justru mempercepat proses keruntuhan dinasti ini.

Saat baru diangkat sebagai putra mahkota, MbS bicara soal ‘reformasi’ di Saudi, yaitu dengan memberikan kebebasan-kebebasan lahiriah dan sejumlah hak yang lazim diberlakukan di dunia (tapi diberangus di Saudi). Contohnya adalah hak wanita Saudi untuk mengemudikan kendaraan. Setelah itu, ia menggaungkan slogan perang melawan korupsi, dengan cara memenjarakan sejumlah pangeran. Belakangan, ia kembali membebaskan mereka usai menerima sejumlah besar uang. Dengan ini, dia justru menegaskan bahwa korupsi sistematis di Saudi bisa dibiarkan bebas dengan imbalan sejumlah uang.

Kepercayaan dan penyambutan terhadap ‘reformasi’ MbS segera memudar. Sebab, apa yang diklaimnya sebagai reformasi, justru merupakan pengekangan kebebasan legal, penangkapan, dan pembunuhan para penentang.

Banyak pakar berpendapat, langkah MbS untuk menarik simpati kawula muda dan mensekularisasi masyarakat Saudi dihadapkan pada dua problem utama.

Pertama, dengan mengurung, menyiksa, dan membunuh orang-orang konservatif agamis, yaitu para mufti dan ulama Saudi, secara tidak sadar MbS telah menghancurkan ideologi rezim Saudi. Dengan tindakannya ini, dia mendorong dinasti Saud ke arah jurang kebinasaan.

Kedua, dengan mendiktekan reformasi versi dirinya, MbS malah kian menjauhkan para pemikir (para akademisi dan cendekiawan) reformis dari sekitar dirinya. Semua ini semakin mempercepat proses keruntuhan dinasti Saudi.

Lantaran MbS hanya memiliki gambaran mentah reformasi dalam benaknya, maka demi menyempurnakan idenya, dia justru berpaling ke luar (Saudi), alih-alih berpaling ke dalam. Sebab itu, di awal masa penobatannya, dia melakukan kunjungan tiga pekan ke Eropa dan AS. Dengan membelanjakan milyaran dolar untuk membeli senjata dan perangkat militer, setidaknya ia meyakinkan dirinya bahwa dirinya bisa bertahan, begitu pula dengan gagasan reformasinya.

Pasca lawatan berbiaya besar itu, MbS berusaha mewujudkan tujuannya di tingkat internasional, yaitu mencitrakan dirinya sebagai “pemimpin Dunia Islam.” Dia menjalankan dua kebijakan sekaligus, yaitu “bungkam” dan “serang.” Dia bungkam terkait isu-isu yang AS meminta untuk diam, seperti bungkam dalam masalah Palestina (yang paling menonjol adalah pemindahan kedubes AS ke Quds). Dia juga menyerang hal-hal yang menjadi target serangan AS. Ancaman terhadap Iran dan sesumbar untuk membawa perang ke perbatasan Iran adalah salah satu dari contohnya.

Semua ini terjadi di saat ada sejumlah masalah pelik yang mengancam impian-impian MbS. Yang pertama adalah masalah Yaman dan kegagalan MbS untuk menuntaskannya. Dahulu dia sesumbar bisa menundukkan Yaman dalam tempo tiga pekan. Namun kini perang Yaman sudah memasuki tahun keempat. Berdasarkan sebuah estimasi, perang Yaman membuat Saudi dibebani biaya senilai 200 juta dolar per hari.

Yang kedua adalah tuntutan tanpa henti AS dari rezim Saudi. Tiap kali Washington merasa Riyadh tidak becus memenuhi tuntutannya, ancaman-ancaman AS membuat MbS tak bisa tenang memikirkan pemerintahannya. Penghinaan Trump kepada Raja Salman dan statemennya bahwa Saudi tak bisa bertahan lebih dari dua pekan tanpa AS, adalah bukti akan hal ini.

Yang ketiga adalah meningkatnya penentangan internal terhadap MbS, manajemen, dan ide reformasinya. Penentangan ini terus terjadi di berbagai penjuru Saudi, termasuk di kawasan al-Sharqiyah. Penentangan juga terjadi di kalangan cendekiawan dan kaum terpelajar, termasuk dari kelompok agamis konservatif.

Hari-hari ini, MbS menjual sekira 12 juta barel minyak dan menimbun 450 milyar dolar di brankasnya, meski dia juga berhutang sebanyak 80 milyar dolar. Namun saat ini juga, dia mencemaskan masa depannya. Sebab itu, bukan hanya hari ini, bahkan setiap hari dia terus menciptakan krisis-krisis baru untuk menunda kejatuhannya. Insiden hilangnya Jamal Khashoggi di konsulat Saudi adalah contoh teraktual dari masalah ini. (af/alalam)

Abu Reza Saleh

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*