Joshua Virasami

Joshua Virasami

Oleh: Joshua Virasami*

Mari kita perjelas. Amerika Serikat telah ikut campur dalam politik Suriah jauh sebelum rezim Assad berhasil mengakhiri siklus kudeta Political Action Teams[1]. Ingatkah Anda, saat Macmillian and Eisenhower membuat agenda jahat untuk menggulingkan pemimpin Suriah dengan mempersenjatai kelompok Islamist pada tahun 1957? Setelahnya, George Bush hanya sekedar mengintensifkan kembali kebijakan luar negerinya, dan salah satu rencana yang mulai terlihat dalam kepemimpinannya adalah mendestabilisasi Suriah, agar Iran melemah. Tentu saja, ini semua tentang pipa minyak.

London dan Washington tampaknya belum terlalu inovatif dalam menyusun strategi untuk mengganti rezim di Suriah. Sebanyak 70 pesawat yang bermuatan senjata sejak Maret 2012 hingga April 2013 telah disalurkan. Ditambah dengan suntikan dana dari Teluk untuk kelompok yang mereka sebut ‘oposisi’. Kemudian, gabungan pasukan Inggris dan AS datang untuk melatih, mempersenjatai, dan memberikan taktik bagi ‘pemberontak moderat’. Turki, Yordania dan Arab Saudi juga turut serta.

Pada tahun 2008, Suriah mengumumkan terjadinya kekeringan parah yang terjadi pertama kalinya sejak 115 tahun terakhir, yang berpotensi menyebabkan kerusakan sosial yang berujung pada ketidakstabilan politik. AS pun segera memanfaatkan peluang ini, seperti ditulis dalam laporan militer AS. Saat pemberontakan meletus pada tahun 2011, Assad ibarat sedang bertaruh, dan pihak oposisi berada di posisi yang menguntungkan.

Qatar yang memiliki ladang gas di Teluk Persia bagian utara (North Pars), berminat menjadi pemain gas di pasar Eropa. Lantas, Qatar mendekati Suriah untuk membangun saluran pipa, tapi sayangnya Assad menolak. Namun di saat yang sama, Assad menandatangani nota kesepahaman dengan Iran, yang memiliki ladang gas di Teluk Persia bagian selatan (South Pars). Mereka sepakat untuk mulai membangun pipa Iran-Irak-Suriah, yang disebut sebagai Pipa Islam. Inilah kemungkinan yang menjadi penyebab Qatar mengeluarkan dana dan senjata senilai miliaran dollar, untuk mendukung pemberontakan.

CGG, sayap NATO di Teluk, tak lama setelah menghancurkan barisan rakyat dalam revolusi Bahrain, lalu mengatur strategi untuk menggulingkan Assad. Tempat pelatihan militan didirikan sepanjang perbatasan Suriah dengan Turki, dan Monarki Petro-dollar memastikan aliran uang dan senjata yang berkelanjutan dari arah Yordania dan Lebanon.

Iran akan kehilangan tangan kirinya. Selain itu, banyak pihak yang khawatir akan meledaknya fenomena Shia Crescent[2].  Namun yang terjadi kemudian sungguh mengejutkan, pemberontak yang disebut moderat, ternyata tidak benar-benar moderat, kendati AS telah banyak terlibat.

Arab Saudi menugaskan Pangeran Bandar untuk bekerja. Bandar adalah pemodal Osama bin Laden dan merupakan teman dekat Dubya Bush. Ia mengerahkan seluruh upayanya untuk melakukan perubahan rezim secepat-cepatnya di Suriah. Ia mulai melobi Rusia, namun gagal. Lalu, ia pun memfasilitasi militan radikal dengan maksimal. Jabhat al-Nusra, kelompok teroris di Suriah yang berafiliasi dengan Al-Qaeda muncul sebagai kelompok utama yang mendapatkan fasilitas senjata tersebut.

Sedangkan Al-Qaeda Irak, mulai berambisi untuk mengembangkan sayapnya ke Suriah. Taktik kotor yang digunakan oleh AS dan NATO di Libya, kembali diulangi di Suriah. Al-Qaeda Irak pun menjelma menjadi Islamic State of Iraq and Syria, dan terakhir, mereka memprokamirkan Islamic State (IS).

Analis Timur Tengah terkemuka Seymour Hersh menulis tahun lalu saat terjadi serangan senjata kimia. Ia menyebut hal itu sebagai serangan rekayasa yang direncanakan oleh AS, yang bertujuan untuk menggoncang Suriah. Menurut Hersh, AS memahami betul bahwa negara-negara pendukung pemberontak ingin segera melakukan intervensi langsung di Suriah. Karena itulah, AS mendalangi serangan senjata kimia. Memang, alat peledak 502 telah dicabut, artileri seberat 2000 pounds dan rudal tomahawk telah disimpan, tetapi AS tidak pernah berhenti melakukan intervensi.

Dewasa ini, sekedar serangan cyber pun bisa dianggap sebagai deklarasi perang. Sedangkan AS, Inggris, Perancis, dan lainnya, bahkan telah berulang kali melanggar kedaulatan Suriah untuk melemahkan pemerintahan Assad. Mereka telah melakukan intervensi sebagaimana yang pernah mereka lakukan di Libya dan Bahrain.

Minyak dan gas telah membutakan akal mereka. Satu juta penduduk Irak tewas akibat invansi militer AS, sedangkan krisis Suriah telah menelan sekitar 200.000 korban jiwa. Seperti yang diungkapkan Cheney, banyak harta karun di Timur Tengah. Siapa yang memiliki kontrol politik atas gas yang mengalir, maka akan terus menguasai kartu hegemoni. Iran sendiri, menduduki hamparan emas biru [3], yang tentunya telah diincar oleh AS dan sekutunya. Maka, sebuah ‘industri’ dalam industri militer adalah satu-satunya opsi untuk menang. Misalnya, perusahan minyak membuat kontrak senjata dengan PSE, sebuah perusahaan senjata yang menawarkan kematian.

Sama halnya seperti kolonial Perancis, AS juga memuluskan agendanya, dengan bermain pada isu perselisihan etnis, konflik Sunni-Syiah, yang sejak dulu telah sangat efektif untuk menumpahkan darah. Jarang sekali ada perang yang terjadi karena faktor-faktor yang murni independen. Biasanya, ada berbagai faktor yang saling terkait, sebagaimana yang terjadi pada AS dan sekutunya, yang berusaha untuk melemahkan Suriah.

Apa yang harus kita lakukan?

Sekedar mengangkat bahu saja tidaklah cukup. Dengan lisan saja juga tidak cukup. Kita harus turun dan bertahan di jalan-jalan, dan harus diikuti oleh jutaan orang, sebagaimana yang dilakukan oleh Ploughshares and Catholic Workers Resisters, hingga akhirnya para penguasa bertekuk lutut. (LiputanIslam.com)

*Penulis adalah seorang musisi, photographer, dan jurnalis asal Inggris yang bertugas di perbatasan Suriah. Artikel ini diterjemahkan dari Counterpounch.

Shia cresnt

Shia crescent

[1] Political Action Teams adalah sebuah badan yang bernaung di bawah sekretariat/ direktorat Pengawasan Senjata dan Keamanan Internasional Amerika Serikat. Badan ini memiliki berbagai tugas, termasuk melakukan operasi militer.

[2] Shia Crescent atau Bulan Sabit Syiah adalah sebuah julukan yang lazim digunakan untuk menyebut penyebaran mazhab Syiah yang meliputi daerah-daerah di Timur Tengah. Daerah ini membentang dari Iran hingga Lebanon membentuk bulan sabit, dan pihak Arab Saudi yang berpaham Salafi-Wahabi, khawatir jika wilayah bulan sabit ini lambat laun akan menjadi ‘bulan penuh’ akibat semakin kuatnya pengaruh Iran di kawasan regional.

[3] Emas biru adalah istilah yang merujuk pada air. Air merupakan salah satu unsur penting dalam menjaga keberlangsungan hidup. Sedangkan dalam konteks politik, Iran memiliki daerah perairan yang sangat vital. Selain memiliki Teluk Persia yang merupakan sumber gas alam terbesar di dunia, Iran juga memiliki Selat Hormuz yang sangat strategis karena setiap harinya, dilalui oleh kapal-kapal tanker yang memenuhi sepertiga kebutuhan minyak di dunia. Karena menguasai Selat Hormuz, berkali-kali Iran berhasil menekan Amerika dan sekutunya.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL