Dr. Ismail Salami*

salamiMutilasi terjadi di sebuah desa terpencil, Du Chee Yar Tan, di Myanmar, baru-baru ini (Januari 2014). Massa ummat Budha menyembelih lebih dari selusin wanita dan anak-anak Muslim. Sebuah kejahatan mengerikan yang berusaha ditutup-tutupi oleh para aktivis negeri itu.

Pembunuhan besar-besaran atas Muslimin yang sebenarnya telah terjadi selama bertahun-tahun itu, kini mulai membangunkan masyarakat dunia atas adanya tragedi horor kemanusiaan di Myanmar.

Reporter khusus PBB untuk HAM di Myanmar, Thomas Ojea Quintana, pada 17 Januari 2014 menyeru otoritas negara itu untuk menginvestigasi dan mengklarifikasi bentrokan berdarah antara pihak keamanan dan penduduk Muslim Rohingya di desa Du Chee Yar Tan, Maungdaw, daerah Rakhine.

“Saya mendesak pemerintah untuk menjelaskan apa yang telah terjadi. Tindakan yang cepat dan transparan akan membantu mencegah kejahatan yang bisa saja menyusul,” ungkap Mr. Ojea Quintana. “Jika benar telah jatuh korban jiwa dan luka-luka, maka pemerintah Myanmar di bawah Hukum Internasional, harus segera melakukan investigasi yang cepat dan efektif serta tidak memihak. Lalu kemudian menangkap setiap pelanggar hak asasi manusia agar mempertanggung-jawabkan perbuatannya.”

Chris Lewa dari Proyek Arakan, yang telah lebih dari satu dekade mendokumentasikan kekejaman atas minoritas Muslim Rohingya, mengatakan, bahwa kejahatan itu terjadi pada hari Selasa di Du Char Yar Tan, sebuah desa di barat Rakhine.

Apa yang terjadi pada Muslim Rohingya di Myanmar tidak lain adalah genosida. Dan untuk menyebutnya dengan nama lain, adalah seperti menutupi sebuah kejahatan dengan segala niat dan tujuannya.

Menurut definisinya, genosida adalah ‘usaha sebuah kelompok dominan untuk menghabisi secara paksa, dengan cara kekerasan yang mematikan terhadap kelompok minoritas yang keberadaanya ingin dimusnahkan.” (Professor Vahakn Dadrian)

Menurut laporan PBB, ada delapan tahap utuk setiap genosida:
1)Klasifikasi: masyarakat terklasifikasi menjadi “kami” dan “selain kami”, inilah sumber pertama kejahatan sosial dan kolonialisasi. Di Myanmar, Muslimin dianggap sebagai yang “selain kami” sementara mereka adalah pihak yang lemah.

2) Simbolisasi: sebuah masyarakat diberi nama atau simbol-simbol agar bisa dibedakan. Tahap ini sebenarnya tidak begitu berbahaya selama tidak berubah ke arah dehumanisasi.

3)Dehumanisasi: di tahap ini, sebuah kelompok menolak mengakui kemanusiaan kelompok lain. Dengan kata lain, kelompok tersebut merendahkan kelompok lain dan menganggapnya hanyalah setengah manusia. Dan inilah yang sesungguhnya terjadi pada Muslim Rohingya di Myanmar.

4)Organisasi: genosida biasanya di dukung oleh pemerintah atau badan-badan yang terkait dengan pemerintahan. Sebuah aksi genosida biasanya dilakukan oleh perantara seperti kelompok teroris atau preman agar pemerintah bisa melepaskan diri dari bermacam tudingan. Dalam kasus Myanmar, pemerintah terus mengulang-ulang bahwa penyembelihan itu murni gerakan massa.

5)Polarisasi: Kelompok-kelompok kebencian melarang hak-hak paling mendasar kelompok lain yang terintimidasi. Contohnya, pasangan di Rohingya harus mendapatkan izin resmi untuk menikah. Jika sampai mereka menikah di bawah tangan, mereka bisa ditangkap kemudian dipenjarakan. Laki-laki muslim harus mencukur bersih jenggot mereka bila ingin mendapat izin menikah. Mereka tak diperbolehkan membangun masjid ataupun pesantren baru dan tak pula diizinkan untuk merenovasi masjid-masjid lama.

6)Persiapan: pada tahap ini, kelompok korban di identifikasi dengan tanda tertentu untuk membedakan mereka dari yang lain. Selanjutnya, mereka dibunuh atau diincar untuk dibunuh. Seleksinya bisa jadi acak ataupun sistematis. Contohnya, pada Maret 2013, lebih dari 40 rumah dan sebuah masjid dibakar, serta tak kurang 32 orang dibunuh di Myanmar.

7) Pemusnahan: pada tahap ini, pemusnahan kelompok tertindas dimulai di tangan kelompok pembenci. Ini berarti bahwa kelompok pembenci yang berfungsi sebagai mesin pembunuh menolak untuk percaya, bahwa orang-orang yang mereka bunuh adalah manusia, dengan hati manusia dan layak hidup di dunia ini.

8)Penyangkalan: inilah tahap akhir yang selalu terjadi di setiap genosida. Pada serangan dan mutilasi perempuan dan anak-anak yang baru-baru ini terjadi, pemerintah menyangkal bahwa massa ummat Budha mengamuk melalui kota dan memutilasi wanita dan anak-anak, padahal saksi mata dan kelompok HAM mengatakan bahwa puluhan orang telah dibunuh dan ratusan lainnya melarikan diri dari rumah.
“Kami tak mendapat informasi mengenai pembunuhan-pembunuhan itu,” ungkap Deputi Menteri Informasi Ye Htut kepada wartawan di sela-sela pertemuan Menlu ASEAN di kota tua Myanmar, Bagan.

Dengan fakta nyata genosida di Myanmar yang telah terjadi selama bertahun-tahun, sangat disayangkan Komunitas Internasional belum juga melakukan langkah nyata untuk mengakhiri bencana yang menyayat hati ini.

Menurut Islam, nyawa manusia adalah suci. Al-Qur’an menyatakan bahwa pembunuhan seorang manusia berarti sama saja dengan pembunuhan seluruh masyarakat dan menyelamatkan seorang manusia berarti sama dengan menyelamatkan seluruh masyarakat.
“…barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (Al-Qur’an 5:32)

Muslim Rohingya hidup dalam kondisi teror. Jika langkah cepat dan nyata tak juga segera diambil oleh ummat Islam dan para pemimpinnya, akibat seriusnya adalah, mereka semua akan dimusnahkan atau diusir dari tanah air mereka selamanya. Ya, mereka memutilasi wanita dan anak-anak di Myanmar. Dan sebelum semua terlambat, ummat Islam harus bergandengan tangan guna memotong tangan-tangan tirani.(LB/LiputanIslam.com)

*Dr. Ismail Salami adalah seorang jurnalis dan analis politik. Ia telah menulis ratusan buku dan artikel yang dimuat di berbagai jurnal internasional dan banyak diantaranya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Salami meraih PhD dalam studi tentang Shakespeare dan menulis buku “Human Rights in Islam and Iran, Cradle of Civilation.” Artikel ini diterjemahkan dari artikel berbahasa Inggris di The Global Research

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL