abdel abri atwan2Oleh: Abdel Bari Atwan*

LiputanIslam.com – Kita takjub karena tiba-tiba terjadi kehebohan lantaran Moskow mengerahkan jet tempurnya untuk memerangi pasukan IS/ISIS di Suriah, sebab seolah hanya jet tempur Rusia saja yang melesat di angkasa Suriah, juga sebab Suriah seakan “halal” bagi jet tempur Amerika Serikat (AS), Perancis, Inggris, Saudi, dan Uni Emirat Arab, tapi “haram” bagi Rusia.

Siapa yang menuntukan halal dan haram ini? Apakah AS, PBB, pemerintah Suriah atau Liga Arab?

Koalisi pimpinan AS ketika mengerahkan jet tempurnya untuk membom “jihadis” ISIS dan tempat-tempat konsentrasi mereka di Suriah dan Irak, hal itu dilakukan bukan berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB, juga bukan dalam rangka memenuhi permintaan pemerintah Suriah, atau bahkan juga bukan melalui koordinasi dengan pemerintah Suriah.

Sudah satu tahun penuh jet tempur AS dengan segala jenisnya menebar bom pada posisi-posisi dan tempat-tempat konsentrasi itu, tapi gagal total merealisasikan tujuan-tujuannya walaupun lebih dari 6000 penerbangan telah menjatuhkan ribuan ton bom dan rudal yang jauh lebih mematikan daripada “bom barel”. Meski demikian, jet tempur AS masih malang melintang pada posisinya.

Sudah lima tahun wilayah Suriah menjadi pentas terbuka bagi AS serta para sekutu Eropa, Arab dan para petempur mereka untuk menyukseskan misi penggulingan pemerintah Suriah,  namun mereka gagal secara memalukan.

Mereka sudah mengerahkan segalanya, termasuk “oposisi moderat” dengan semua pasukannya, oposisi ekstrimis Islamis dengan semua jihadisnya. Di Turki, Yordania, Qatar, dan Arab Saudi mereka mendirikan barak-barak pelatihan yang ditangani oleh tenaga-tenaga ahli dari dinas rahasia AS, tapi mereka lantas terkejut karena mereka mencetak para petempur yang ternyata ada yang kabur pada letusan peluru pertama, ada yang baru di babak pertama pertempuran sudah menyerah, dan ada pula yang bahkan dengan segala peralatan ringan dan beratnya memilih bergabung dengan pihak lain yang seharusnya mereka perangi dan binasakan.

Rusia sejak awal sudah eksis di Suriah dalam kerangka perjanjian pertahanan bersama. Di siang bolong mereka mendirikan pangkalan militer di Tartus sejak puluhan tahun silam, sama persis dengan pangkalan-pangkalan AS di Qatar, Saudi, Irak, dan Bahran. Lantas di mana letak keganjilannya? Apakah pangkalan AS sah sedangkan pangkalan Rusia tidak sah?

Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius semula menyebut Rusia banyak bicara tapi tak berbuat apa-apa untuk memerangi jihadis IS/ISIS. Dia juga menyeru Moskow supaya membarengi kata-katanya itu dengan tindakan. Nah, sekarang Rusia sudah merespon seruan itu dengan mengirim empat jet tempur canggih Sukhoi-34 dan telah melancarkan tiga kali serangan terhadap posisi-posisi IS/ISIS dekat kota Homs, dan pejabat militer AS pun juga telah mengonfirmasikan adanya serangan demikian.

Perkembangan baru yang terjadi sekarang ialah bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin menghendaki penguatan eksistensi militer dan politik negaranya di Timur Tengah, dan tidak ingin membiarkan kawasan ini menjadi “tanah terlantar” bagi AS dan para sekutunya lalu menjadi tempat mereka menebar ulah serta merombak pemerintahan demi pemerintahan sesuka hati mereka. Secara tak langsung Putin menegaskan, “Sesuai kepentingan kami dan kawan-kawan, jangan harap kami membiarkan kalian mengulangi campurtangan militer kalian di Irak dan Libya. Zaman sudah berubah, dan lihatlah eksistensi kami di sini.”

Campurtangan Rusia dalam bentuknya yang canggih sekarang ini terjadi setelah Dewan Federasi Rusia memberikan mandat kepada Presiden Putin untuk menggunakan kekuatan militer di luar negeri, dan setelah dewan ini mengeluarkan resolusi yang disahkan secara bulat, menyusul pengajuan permintaan secara terbuka Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam masalah ini.

Bisa jadi Rusia akan lebih beruntung daripada saingannya, AS, ketika Rusia terjun ke pentas adu pengaruh di Suriah dan kawasan Timteng secara umum. Rusia memulai serangan ketika ia memiliki kekuatan mitra berupa pasukan Suriah, pasukan (penasehat militer) Iran, dan pasukan Hizbullah, sementara pasukan dan poros AS tidak memiliki hal serupa, karena Turki dan kerajaan Arab Saudi, Yordania, dan Qatar menolak mengirim pasukan darat untuk membantu “Pasukan Kebebasan Suriah” (FSA),  juga karena agenda pelatihan “kebangkitan Suriah” seperti yang pernah dilakukan pada orang-orang Irak pada tahun 2007 juga telah menjadi “dagelan” dan bahan ejekan bahkan bagi AS sendiri sebelum musuh-musuhnya.

Isu kedaulatan Suriah tak dapat diangkat selagi jet-jet tempur Barat dan Timur itu masih eksis dan bergentayangan di angkasa Suriah siang malam. Orang yang tak sependapat dengan ini jelas mengelabui diri sendiri sebelum menipu orang lain. Bahkan tidaklah berlebihan apabila kita mengatakan bahwa mayoritas mutlak rezim-rezim Arab tidak memiliki kedaulatan atas negeri masing-masing. Orang yang mengklaim memilikinya tidaklah butuh waktu lama untuk menyadari ketiadaan kedaulatan itu.

Sikap AS terhadap aksi sapu bersih yang dilancarkan oleh boldoser Rusia ini masih ambigu dan penuh kebingungan, dan ini berdampak pada tindakan dan sikap para sekutunya sehingga Perancis melalui retorika Fabius terkadang mengaku mendukung bertahannya al-Assad, tapi tiba-tiba juga menuntut al-Assad mundur dengan anggapan bahwa dia adalah bagian dari problema.  Presiden AS Barack Obama sendiri dalam dua hari terakhir ini bahkan juga terlihat lebih gamang dalam bersikap. Kami menantang analis dan pengamat untuk memberikan kesimpulan atau membuat gambaran yang jelas mengenai apa sebenarnya yang dikehendaki Obama dalam pidatonya belum lama ini di PBB, terutama mengenai sikapnya terhadap Suriah atau presidennya, al-Assad.

Kegamangan ini bisa jadi tergambar secara lebih jelas lagi dalam statemen Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir di sela-sela pertemuan Majelis Umum PBB, yaitu saat dia mengulangi pernyataan-pernyataan klisenya bahwa di depan al-Assad hanya ada dua opsil; mundur melalui upaya politik, atau berhadapan dengan tindakan militer yang memaksanya untuk meletakkan jabatan.

Sebelum Rusia melancarkan intervensi dengan begitu sengit di Suriah, bisa jadi pernyataan al-Jubeir itu menemukan beberapa bentuk kongkretnya di lapangan.Tapi begitu campurtangan itu terjadi serta disetujui AS dan terkoordinasi dengannya, apalagi temanya adalah mempertahankan Presiden al-Assad di pucuk pemerintahnnya, maka statemen al-Jubeir itu dapat diasumsikan tak lepas dari dua kemungkinan, yaitu; statemen tidak didukung dengan bacaan yang cermat terhadap dinamika politik yang terjadi di kawasan – kami memang tidak ingin menggunakan kalimat lain- atau statemen itu terdorong oleh perasaan sok jago dan hebat. Kami lebih menilai kemungkinan kedualah yang lebih besar.

*Abdel Bari Atwan, Pemimpin Redaksi Media Online Rai al-Youm, London.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL