husein alkafOleh: Husein Muhammad Alkaf*

Akhirnya perundingan terkait program nuklir sipil Iran yang berlangsung sekitar satu dekade mencapai kata sepakat. Republik Islam dan Kelompok 5+1 pada Selasa (14/7) menandatangani kesepakatan itu di Palais Coburg, Wina, Austria. Di hotel mewah itu, juru runding dari Iran dan enam negara menghabiskan lebih dari dua minggu untuk menyelesaikan masalah teknis dan politik.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, kekuatan 5+1 mengakui program nuklir sipil Iran, termasuk hak negara untuk memanfaatkan siklus nuklir. Kemudian, sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Republik Islam, termasuk semua larangan ekonomi dan keuangan, akan dicabut sekaligus di bawah kerangka yang disepakati bersama dan melalui resolusi PBB yang baru.

Seperti dirilis kantor berita IRIB, dalam perjanjian itu tak satu pun dari fasilitas nuklir Iran yang akan dirusak atau dihentikan aktivitasnya. Selain itu, kegiatan penelitian dan pengembangan nuklir pada semua jenis sentrifugal, termasuk mesin sentrifugal canggih IR-6 dan IR-8, akan terus berlanjut. Bahkan, berbagai pembatasan ekonomi dan keuangan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa (UE) serta embargo senjata akan segera dicabut segera.
Sebagian kalangan mungkin bertanya-tanya apa rahasia di belakang ketabahan dan kelihaian Iran dalam melakukan perundingan nuklir dengan enam negara besar (5+1) yang meliputi Amerika, Rusia, China, Inggris, Perancis dan Jerman? Bagaimana Iran menghadapi mereka semua negara itu, yang masing-masing mempunyai kepentingan sendiri?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu dijelaskan beberapa masalah penting berikut ini:
1. Perundingan nuklir nuklir ini merupakan perundingan yang sangat pelik dan sensitif bagi Iran sejak tahun 1979. Sejak Revolusi Islam, Iran belum pernah berunding sepelik dan sesensitif perundingan ini. Iran pernah berunding dengan Irak di bawah pengawasan PBB setelah perang selama delapan tahun. Namun perundingan itu tidak melibatkan negara-negara besar dan tidak memakan waktu yang panjang.
2. Dalam perundingan nuklir ini, Amerika sebagai musuh utama Iran ikut terlibat dan duduk dalam satu meja dengan Iran. Hubungan dua negara ini telah putus sejak kemenangan Revolusi Islam Iran, dan Amerika telah melakukan berbagai embargo terhadap Iran secara sepihak.
3. Perundingan ini telah melewati beberapa periode kekuasaan yang silih berganti, baik pemerintahan Iran maupun pemerintahan enam negara tersebut. Ini merupakan perundingan yang langka dalam sejarah dunia.

Ada tiga tim Iran yang terlibat dalam menangani perundingan nuklir ini, yaitu sebagai berikut.
Pertama, tim diplomasi yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Iran, Muhammad Jawad Zharif yang dibantu oleh beberapa staf kementerian Luar Negeri, seperti Abbas Iraqzi dan Hamid Baidi Najad ( ketua para ahli perundingan).

Kedua, tim teknis yang diketuai oleh direktur umum Badan Energi Nuklir Iran dan mantan menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Shalehi yang berperan besar dalam perundingan dengan Badan Tenaga Nuklir Internasional dan menteri Energi Amerika, Arnest Munich. Tim ini berperan dalam menyelesaikan masalah-masalah teknis dalam program nuklir Iran, seperti reaktor nuklir di Arak

Ketiga, tim keamanan nasional Iran yang dipimpin oleh ketua Majlis Teringgi Kemanan Nasional Iran dan mantan Menteri Pertahana Iran, Ali Syamkhani. Dia sangat berperan dalam perundingan tentang efek-efek militer yang mungkin terjadi jika terjadi embargo militer baru atas Iran.

Ketiga tim runding Iran ini harus tunduk pada arahan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Imam Ali Khamenei, dalam setiap tahapan perundingan. Karena dia adalah pimpinan tertinggi dalam struktur kekuasaan di Iran. Dialah yang menentukan garis-garis merah yang harus diperhatikan oleh ketiga tim tersebut; garis-garis yang merepresentasikan kepentingan-kepentingan bangsa Iran.

Selain itu, berkat sosialisasi di media massa, opini publik bersikap sangat positif. Rakyat Iran dengan sikap nasionalismenya yang tinggi mendukung penuh keputusan para pemimpin mereka untuk memperjuangkan hak pemanfaatan nuklir damai. Mereka bersabar menghadapi embargo panjang yang dipaksakan oleh Barat.

Adanya satu komando tunggal, serta dukungan penuh rakyat Iran, membuat tim runding Iran sangat percaya diri. Bahkan seperti diberitakan media massa, Menlu Iran Javad Zarif sempat berkata-kata keras, “Jangan pernah mengancam Iran!”

Ketegasan, kepercayaan diri, dan kesolidan tim runding, membuat Iran berhasil melawan tekanan negara 5+1 dengan cara elegan. Iran sama sekali tidak tunduk pada hegemoni negara-negera Barat. Hasilnya, posisi Iran di mata dunia internasional kini sejajar dengan negara-negara besar dan mampu melindungi kepentingan nasionalnya. (LiputanIslam.com)

*penulis adalah alumnus Hauzah Ilmiyah Qom dan magister UIN Sunan Gunung Jati Bandung

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL