miko peledOleh: Miko Peled*

Nama Benjamin Netanyahu kembali menghiasi headline media-media massa internasional, kali ini terkait dengan berita kesepakatan nuklir Iran. Dia menolak kesepakatan antara Iran dan negara-negara 5+1 itu. Netanyahu menyebutnya ‘bencana sejarah’ dan dia melewatkan kesempatan untuk mengulangi jargon-jargonnya, seperti ‘Israel akan mempertahankan diri’, dan lain-lain. Dua pertanyaan yang muncul dari kemarahan Netanyahu ini: pertama, mengapa dia marah? Kedua, mengapa orang-orang peduli pada kemarahan Netanyahu?

Netanyahu menentang kesepakatan nuklir Iran karena Iran mendukung dua musuh utama Israel, Hamas and Hizbullah. Kedua organisasi ini dibentuk untuk melawan agresi dan pendudukan Israel di Palestina dan di Lebanon selatan. Berkat perlawanan Hizbullah pendudukan Israel di Lebanon selatan yang telah berlangsung 20 tahun, dapat dihentikan, dan orang-orang Lebanon yang terusir dapat kembali ke rumah-rumah mereka di kawasan selatan negeri itu. Sementara itu, Hamas dipilih secara demokratis untuk menjalankan pemerintahan di Jalur Gaza. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Hamas dibantu dana oleh Iran karena Israel memblokade Jalur Gaza, memenjarakan 1,7 juta penduduknya dalam ‘penjara terbuka’. Hamas juga melakukan perlawanan terhadap aksi-aksi brutal Israel, terutama di Gaza. Selama serangan 51 hari yang dilakukan Israel terhadap wilayah Gaza pada musim panas 2014, Israel dengan berdarah dingin membunuh lebih dari 2000 warga Palestina dan dengan demikian, kenyataannya, Israel-lah yang menjadi sumber masalah, bukan Iran, Hamas atau Hizbulllah. Iran, Hamas atau Hizbulllahbukanlah ancaman bagi “Israel” [sebagai manusia/bangsa—pent]; tapi mereka adalah ancaman bagi pendudukan dan penindasan Israel di Palestina.

Opini yang disebarkan Netanyahu bahwa ‘Iran adalah ancaman’ sejalan dengan opini ‘Palestina dan Muslim adalah ancaman di AS’. Penutupan, penangkapan, pengadilan, dan vonis terhadap Yayasan Tanah Suci (Holy Land Foundation)dan lima pendiri yayasan itu adalah salah satu contoh jelas adanya ketidakadilan di AS. Sebagaimana Iran tidak pernah menjadi ancaman kaum Yahudi atau warga Israel, The Holy Land Foundation, sebagaimana terjelaskan dalam proses pengadilan, tidak mendanai atau mendukung terorisme. Namun mereka adalah ancaman terhadap narasi Israel yang menjustifikasi penindasan terhadap warga Palestina.

Hampir semua berita di media terkait nuklir Iran menyebutkan kalimat “Sekutu AS di kawasan mengkhawatirkan kesepakatan ini”. Salah satu sekutu yang dimaksud adalah Saudi Arabia, pemerintahan kejam dan diktator, korup, didominasi oleh dinasti yang disebut “raja” dan “pangeran” seolah-olah kita sedang berada di abad kegelapan. Sekutu yang lain adalah dictator Mesir, Abdel Fatah Sissi, yang meraih kekuasaan melalui kudeta, menggulingkan pemerintahan yang terpilih demokratis untuk pertama kalinya di negeri itu. Sekutu ketiga, adalah Israel, yang mempertahankan rezim yang kejam dan rasis di Palestina. Dengan sekutu seperti ini, siapa yang butuh musuh?

Sekarang, mengapa ada pihak yang peduli pada kemarahan Netanyahu? Jawabannya sedikit sekali berhubungan dengan isu strategi atau penyebaran [senjata] nuklir. Penyebabnya adalah karena faktanya para politisi AS takut pada lobby Israeli. Para politisi tak bernyali yang berdiri dan bertepuk tangan saat Netanyahu memasuki gedung Capitol Hill dengan tangan berlumuran darah warga Palestina, adalah mereka yang takut akan hukuman dari AIPAC.

AIPAC adalah organisasi lobby Israel yang sangat berkuasa di AS. AIPAC dan jaringan pro-Israel-nya selalu melakukan berbagai upaya untuk melindungi kepentingan Israel. Mereka menjual cerita bahwa Israel adalah simbol demokrasi, kebebasan, dan toleransi. Sebaliknya, mereka sebarkan opini bahwa Palestina adalah simbol kebencian, fanatisme agama, dan teror. Politisi AS yang berani mempertanyakan narasi ini akan segera kehilangan pekerjaan.

President Obama telah melakukan langkah yang benar dengan tidak tunduk pada tekanan Israel dalam perundingan nuklir Iran. Sekarang, akankah dia mengambil langkah selanjutnya? Akankah dia meminta Israel menghentikan blokade Gaza tanpa syarat atau membebaskan tahanan politik Palestina?
*Miko Peled adalah warga Israel yang tinggal di AS. Dia aktif menulis dan menyuarakan kritik terhadap Israel dan pembelaan terhadap Palestina. Dia menulis buku “The General’s Son, Journey of an Israeli in Palestine. Tulisan ini diterjemahkan dari www.mikopeled.com

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL