okewMike Whitney*

Upaya Arab Saudi untuk ‘meracik’ oposisi “moderat” Suriah menjadi satu kesatuan front politik gagal pada Kamis kemarin, karena salah satu milisi yang cukup kuat menolak berpartisipasi dalam pertemuan tersebut setelah tuntutan mereka tidak dipenuhi. Ahrar al-Sham, salah satu faksi jihadis yang berhaluan Wahabi ekstremis dan fanatik, menarik diri dari perundingan tersebut.  Seperti yang diberitakan oleh Washington Post (WP),  beberapa “pendapat dan rekomendasi mereka telah diabaikan”.

Tidaklah mengagetkan jika WP tidak mampu menjelaskan dengan tepat poin-poin apakah yang dimaksud dalam “pendapat dan rekomendasi” tersebut. Hal ini bisa dipahami dengan mudah. Media itu tidak ingin rakyat Amerika Serikat (AS) mengetahui kelompok manakah yang disebut “moderat”, yang didukung dan didanai oleh pemerintah mereka. Padahal kita tahu, bahwa rezim AS berusaha untuk mengganti pemerintahan di Suriah yang sekuler dengan para maniak Khalifah Islam. Tuntutan berikut inilah yang tidak disampaikan oleh media-media Barat:

  1. Anggota militer Rusia dan Iran harus angkat kaki dari Suriah.
  2. Tentara Arab Suriah (SAA) harus dibubarkan, begitu juga dengan tentara paramiliter.
  3. Suriah harus menjadi negara Islam.
  4. Tidak ada negosiasi lagi dengan pemerintah Suriah.
  5. Memerangi ISIS harus dinomor-duakan karena pemberontak “moderat” telah banyak kehilangan anggota keluarganya karena perang melawan SAA.
  6. Grup sekuler di Suriah harus memberikan wewenang kepada ISIS.

Begitulah. Ahrar al-Sham tetap saja disebut sebagai ‘moderat’. Padahal menurut Telegraph, “Kelompok ini berlandaskan ideologi Islamis dan telah diketahui secara luas bahwa mereka memiliki keterkaitan dengan Al-Qaeda.”

Kelompok ini mendapatkan dukungan finansial dari Arab Saudi, negara monarki yang menentang sebuah pemerintahan demokrasi, yang tercatat memiliki jejak panjang mendukung organisasi teroris, yang rakyatnya bisa dipenggal dengan tuduhan melakukan sihir. Tentu saja, melakukan sebuah ‘negosiasi’ abal-abal di ibukota teroris seplanet ini adalah hal yang menggelikan.

Menurut New York Times (NYT): “Semua kelompok menandatangani keputusan final yang menyerukan persatuan di Suriah, membangun masyarakat, lalu pemerintah representatif yang akan mengambil alih pada masa transisi, dan semua ini harus dimulai dengan mundurnya Presiden Bashar al-Assad dari jabatannya.”

Kedengarannya mengesankan. Tetapi NYT juga tidak menyebutkan kondisi keseluruhan poin-poin yang dimasukkan dalam kesepakatan sebelumnya yang digelar di Jenewa. Proses demokrasi bisa dilaksanakan di Suriah, tak lain dan tak bukan karena upaya Rusia dan Iran.

NYT juga melaporkan: “Dalam perundingan dua hari yang digelar oleh pemerintahan Arab Saudi, sekitar 100 pemimpin opoisisi menciptakan komisi baru untuk melakukan negosiasi dengan pemerintah. Komisi ini beranggotakan 33 orang, yang terdiri 1 hingga 3 orang perwakilan dari faksi-faksi bersenjata. Dari komisi ini akan dipilih sebanyak 15 orang untuk berhadapan dengan pemerintahan Assad dalam perundingan yang akan dimulai pada bulan Januari.

Mohammed Baerakdar, perwakilan dari Tentara Islam, menyatakan bahwa dukungan militer dari negara asing tidak cukup untuk memenangkan pertempuran, sehingga mereka memilih untuk menekankan solusi politik. “Kami tidak mengangkat senjata untuk menumpahkan darah. Kami mengangkat senjata untuk mencegah pertumpahan darah.”

Komisi ini tidak akan memiliki dampak apapun dalam perundingan di waktu mendatang karena para pemimpin kelompok ini tidaklah mewakili kelompok yang powerful di medan tempur. Saat ini, yang memiliki kekuatan besar di lapangan adalah SAA, Jabhat al Nusra (dan faksi lainnya yang beaffiliasi dengan Al-Qaeda), ISIS, dan Pasukan Kurdi (YPG). Tidak ada satupun dari kekuatan-kekuatan yang ini berpartisipasi dalam perundingan di Arab Saudi.

Selain itu, pernyataan Baerakdar di atas adalah palsu. Faktanya, para jihadis yang aktif di Suriah saat ini dibiayai, dipersenjatai dan dilatih oleh Arab Saudi, Turki dan AS. Pekerjaan yang ditugaskan kepada mereka adalah menumbangkan Assad lalu menggantinya, dan memecah belah negara demi kepentingan asing.

Sentimen berita yang disampaikan oleh media Barat seperti NYT dan WP di atas terkait perundingan di Arab Saudi bertujuan untuk menjungkir-balikkan logika. Apakah Anda ingat bahwa 15 dari 19 pembajak pada peristiwa 9/11 berasal dari Arab Saudi? Dan bukankah keluarga kerajaan Arab Saudi yang telah mempersenjatai dan mendanai organisasi teroris selama 30 tahun, dan bukankah Arab Saudi juga yang berada di balik militan-militan Islam radikal yang menjadi ujung tombak proxy war di Suriah?

Arab Saudi, wajah mereka identik dengan teror, sebagaimana Brazil begitu terkemuka dengan sepakbolanya, atau AS dengan bisbolnya. Itulah yang menjadi masalah. Saat ini taktik-taktik teror yang mereka biasa gunakan tidak berakhir dengan baik. Misalnya, jihadis-jihadis ini ternyata dibungkam oleh koalisi Rusia, dan itulah penyebab mereka harus menggeser ke rencana B, yaitu menggunakan strategi politik. Mereka berusaha mempersatukan kelompok-kelompok “oposisi moderat” untuk memberikan peluang yang lebih besar dalam perundingan putaran mendatang di Wina.

Dan, apakah barometer yang dipakai Arab Saudi untuk mengukur keberhasilan mereka?

“Berbicara dalam konferensi pers pada Kamis ini, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir menyatakan bahwa Assad memiliki dua pilihan. Pertama, ia bisa mundur baik-baik dari jabatannya dalam perundingan ini, atau yang kedua, Assad akan dipaksa turun dari kekuasaannya dengan senjata.” (WP)

Dengan demikian, tidak ada yang berubah, kan? Pembicaraan antara pemimpin oposisi hanyalah kamuflase untuk menutupi kehendak mereka yang sebenarnya, yaitu pergantian pemerintah Suriah.

Lalu apakah Rusia dan Iran akan tertipu oleh sandiwara ‘perundingan pihak oposisi’ ini?

Tentu tidak. Mereka tidak akan membiarkan orang-orang sinting dari Chechnya, Libya, ataupun Arab Saudi ini memporak-porandakan masa depan Suriah. Masa depan Suriah ada di tangan rakyat Suriah sendiri, dan inilah yang disebutkan dalam Komunike Jenewa, yaitu rakyat Suriah bebas menentukan nasib sendiri, berdaulat dan melakukan pemilihan umum. Itulah kekuatan dasar yang dibutuhkan untuk membangun kembali negara Suriah, namun hal ini akan sulit dilakukan sampai para pamain asing ini berhenti membuat makar, dan menggelar dialog yang jujur antara berbagai pemangku kepentingan demi masa depan Suriah. (LiputanIslam.com)

___
*Penulis adalah kontributor  Hopeless: Barack Obama and the Politics of Illusion (AK Press), menetap di AS. Tulisan ini diterjemahkan dari counterpunch.org

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL