firdaus_02Firdaus Cahyadi *

Selama ini kata kampung berkonotasi negatif, yaitu lebih sering digunakan untuk menggambarkan sikap norak. Namun nilai-nilai positif dari kampung tidak pernah dipublikasikan. Salah satu nilai-nilai positif dari orang kampung adalah kearifannya dalam mengelola lingkungan hidup.

Setidaknya hal itu pernah dilakukan oleh para santri di Pondok Pesantren (Ponpes) SPMAA/Sumber Pendidikan Mental Agama Allah. Para santri di Ponpes tersebut pernah berhasil melakukan uji coba pemanfaatan energi terbarukan yang murah, mudah diaplikasikan dan ramah lingkungan.

Nama proyek itu adalah Biogas Santri yang dihasilkan dengan menampung (maaf) kotoran para santri dalam dua buah tabung digester. Dengan pengelolaan sederhana, kotoran tadi dikonversi menjadi gas seperti elpiji yang kemudian disalurkan melalui pipa menuju kompor/tungku. Selanjutnya gas tersebut langsung bisa digunakan untuk memasak. Sedangkan limbah padatnya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk kompos penyubur tanaman.

Proyek “Biogas Santri” ini memiliki empat manfaat sekaligus. Pertama, sebagai solusi alternatif pengelolaan dan pemanfaatan limbah keluarga atau limbah peternakan. Dengan proyek biogas ini maka problem lingkungan akibat limbah keluarga selain dapat teratasi juga dapat dimanfaatkan secara lebih produktif.

Kedua, sebagai jawaban kongkrit dari terjadinya krisis energi fosil di tingkat komunitas. Bila proyek “Biogas Santri” ini digalakan pemanfatanya di berbagai daerah di Indonesia khususnya daerah yang tidak memiliki sumberdaya energi fosil maka akan sangat membantu sekali dalam mengurangi pengeluran warga terhadap kebutuhan minyak tanah atau gas elpiji yang harganya semakin membumbung tinggi.

Ketiga, sebagai laboratorium praktik keterampilan (life skill) dan pengetahuan para santri. Proyek “Biogas Santri” ini dengan sendirinya merupakan sebuah ajang peningkatan kapasitas bagi para santri di bidang IPTEK. Ketrampilan dan pengetahuan yang diperoleh dari proyek ini pun nantinya dapat dijadikan bekal bagi hidup mereka di luar Ponpes.

Keempat, program “Biogas Santri” ini bisa dimanfaatkan sebagai kampanye edukasi berupa aksi nyata kaum santri dalam menyikapi isu pemanasan global akibat naiknya Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfir. Setidaknya, proyek ini dapat menjadi jawaban dari komunitas lokal terhadap berbagai tawaran untuk menggurangi GRK dari negara-negara maju dan lembaga keuangan internasional yang seringkali tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik dan ekonomi mereka sendiri.

Tidak hanya di Pulau Jawa, aktivitas ‘orang kampung’ yang bersahabat dengan lingkungan hidup juga ada di Bali tepatnya di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di desa itu telah contoh keberhasilan masyarakat nelayan dalam melakukan penangkapan ikan hias tanpa menggunakan metode penangkapan yang merusak.

Reformasi perikanan ikan hias di desa yang memiliki luas sekitar 800 Ha ini tidak hanya dilakukan melalui penghentian pemakaian cyanida untuk menangkap ikan hias, tapi melalui sebuah paket perubahan yang menyeluruh dalam rangkaian proses produksinya, yaitu dari penangkapan ikan, penanganan paska-penangkapan, pengemasan, sampai ke kegiatan ekspornya.

Perkenalan masyarakat nelayan Desa Les dengan inisiatif reformasi perikanan ikan hias terjadi pada pertengahan tahun 2001 melalui kegiatan Monitoring Kegiatan Perikanan yang Merusak (Destructive Fishing) yang dilakukan oleh Yayasan Bahtera Nusantara.  Monitoring Kegiatan Perikanan yang Merusak tersebut dilakukan dalam serangkaian kegiatan investigatif di seluruh desa-desa pesisir di Pulau Bali, dilanjutkan dengan pemetaan dan survey kondisi ekosistem terumbu karang di kawasan-kawasan dimana terjadi penangkapan ikan karang

Sepanjang tahun 2001 dan 2002 masyarakat nelayan ikan hias Desa Les bekerja keras untuk mempelajari pemakaian jaring ikan hias, sebagai ganti sianida.  Menangkap ikan dengan jaring sebetulnya bukan hal yang sama sekali baru bagi nelayan ikan hias Desa Les, sebagaimana juga di sebagian besar nelayan penyelam karang di Indonesia. Pengenalan racun sianida untuk mempermudah dan mempercepat penangkapan ikan hias dengan cepat menggantikan penangkapan dengan jaring.  Bahkan kemudian berkembang gagasan di kalangan nelayan bahwa pemakaian jaring adalah kuno dan tradisional, sedangkan memakai sianida adalah modern.

Di Desa Les keterlibatan Yayasan Bahtera Nusantara dan Perkumpulan Telapak memudahkan pembalikan kepercayaan umum itu.  Barangkali salah satu faktor yang mendukung peralihan kembali cara tangkap dari sianida ke jaring adalah karena cara tangkap dengan jaring ini diperkenalkan (ulang) oleh pihak luar (dalam hal ini organisasi lingkungan dari Denpasar dan Bogor).

Di akhir tahun 2002, hampir seluruh nelayan ikan hias Desa Les telah berhenti menggunakan sianida dan menggunakan jaring.  Dengan bangga bahkan nelayan-nelayan Les akan menunjukkan bahwa mereka mampu menangkap spesies ikan hias yang terkenal paling sulit pun, seperti ikan-ikan jenis angel (angel fish).  Selain kemampuan untuk menangkap semua jenis ikan hias, pemakaian jaring ternyata juga tidak menurunkan jumlah total ikan hias yang bisa mereka dapatkan dalam satu kali operasi.

Nah, ternyata banyak juga pengetahuan lokal yang harus kita pelajari dari orang kampung. Pengetahuan mereka dalam mempertahankan keberlanjutan kehidupan sangat mengharagai harmonisasi hubungan dengan alam. Berbeda dengan kebanyakan orang kota yang kehidupannya digerakan oleh kerakusan dalam mengkonsumsi sumberdaya alam yang berujung pada pencemaran lingkungan dan krisis sumberdaya alam.

*)Penulis adalah Knowledge Manager  for Sustainable Development, OneWorld-Indonesia

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL