michel_chossudovskyOleh: Prof. Michel Chossudovsky *

Serangan teror yang terjadi di Brussels telah menewaskan 34 orang dan 180 orang mengalami luka-luka. Sebelum adanya penyelidikan dari kepolisian, beberapa jam setelah serangan, media-media Barat kompak memberitakan kendati tanpa bukti bahwa kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) yang bertanggung jawab atas serangan.

Misalnya, The Independent menulis, “Pendukung ISIS telah merayakan serangan Brussels yang melalui media sosial, dan ini merupakan indikasi bahwa ISIS yang berada di balik gelombang serangan yang mematikan di ibukota Belgia.”

Yang harus dicatat, The Independent merilis berita berdasarkan informasi dari media sosial, bukan berasal dari sumber terpercaya.

Amaq Agency, yang diduga merupakan perwakilan ISIS (namun selama ini tidak dikenal), memberikan laporan, yang kemudian dikutip oleh Reuters, “Air mata kebahagiaan pendukung ISIS tumpah ruah di Twitter melihat fakta bahwa teroris berhasil menyerang dan melumpuhkan aktivitas di bandara. Salah satu tujuan utama ISIS adalah menghancurkan perekonomian Barat dan menggantikan dolar dengan mata uang sendiri sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah di dalam transaksi internasional.”

Siapa yang mengontrol media sosial dan akun twitter ISIS?

Polisi dan intelejen tentunya bisa melacak identitas ISIS di media sosial melalui alamat IP dan lokasi geografis. Menurut London’s Mirror (16 Desember 2015): “Hacker mengklaim bahwa sejumlah akun media sosial pendukung ISIS dioperasikan dengan alamat internet yang terkait dengan pemerintah Inggris (Department of Work and Pensions). Grup yang digawangi oleh empat anak muda yang ahli di bidang komputer ini menemukan bukti setidaknya tiga akun pendukung ISIS yang terlacak, merupakan milik kantor DWP, di London. Setiap akun yang login baik dari komputer maupun smartphone, menggunakan alamat IP tersebut. Para hacker menunjukkan kepada Miror.uk alamat IP yang digunakan oleh trio hijadis itu untuk mengakses akun Twitter. Lantas, akun tersebut digunakan untuk melakukan propaganda dan perekrutan calon jihadis secara online.

Sekilas, alamat IPtersebut tampaknya berbasis di Arab Saudi. Namun setelah diselidiki lebih lanjut dengan menggunakan perangkat khusus, ternyata alamat IP tersebut milik kantor DWP.

“Tidakkah Anda berpikir bahwa hal ini terlihat aneh? Kami melacak alamat IP ini ternyata ada di London, yang merupakan “rumah” dari layanan intelejen Inggris,” ujar hacker, seperti dilansir Miror.uk, (15/12/2015).

Penemuan dari Vandasec ini memunculkan dugaan bahwa seseorang dari kantor DWP memang mengoperasikan akun pendukung jihadis. Ketika Miror.uk mencoba kembali melacak alamat IP yang diberikan oleh Vandasec, ditemukan serangkaian transaksi rahasia yang terjalin antara Inggris dan Arab Saudi.

Laporan Miror.uk ini menunjukkan beberapa hal penting, yaitu:

  1. Identitas ISIS yang berubah-ubah di media sosial telah diketahui oleh pihak kepolisian maupun intelejen.
  2. Pergerakan ISIS di media sosial disponsori oleh Arab Saudi, yang juga terlibat dalam perekrutan dan pelatihan teroris bersama-sama dengan AS dan NATO.

Perlu dicatat bahwa pemerintah Inggris telah mengakui, bahwa Kantor Kabinet menjual alamat IP ke Saudi Telecom dan Mobile Telecommunications Company yang berbasis di Saudi.

Negara Pendukung Terorisme

Peristiwa di Brussels menimbulkan pertanyaan yang lebih luas. Jika ISIS berada di balik serangan teror tersebut, lalu siapa yang berada di belakang ISIS?

Sumber-sumber intelijen Israel (DEBKA) dalam sebuah laporan 2011 menegaskan peran NATO yang beroperasi dari kantor pusat Brussels dan komando tinggi Turki yang berperan besar dalam pelatihan dan perekrutan teroris. Jadi, markas NATO di Brussels dan komando tinggi Turki menyusun rencana untuk menentukan langkah militer yang akan mereka tempuh di Suriah. Salah satunya adalah dengan mempersenjatai para pemberontak. Strategi NATO adalah berupaya untuk memberikan lebih banyak roket anti-tank dan anti-roket, dan mortir, untuk memukul mundur pasukan lapis baja pemerintah Suriah (DEBKAfile: NATO to give rebels anti-tank weapons,14 Agustus 2011).

Inisiatif ini, yang juga didukung oleh Arab Saudi dan Qatar, yang terlibat proses rekrutmen ribuan jihadis tentu akan mengingatkan kita pada pendaftaran mujahidin untuk berjihad bersama CIA di Afghanistan pada masa kejayaan Uni Sovyet. Di Brussels dan Ankara, laporan dari narasumber kami menyebutkan bahwa adanya pembicaraan untuk melakukan kampanye yang bisa menggaet relawan dari umat Muslim di Timur Tengah dan lainnya untuk bergabung dengan pemberotak Suriah. Militer Turk akan menjadi ‘tuan rumah’ bagi para relawan ini, yang melatih dan mengamankan perjalanan mereka di Suriah. Dengan penambahan penekanan, relawan ini akan diintegrasikan ke dalam organisasi teror yang disponsori oleh AS, baik Al Nusra maupun ISIS.

Lalu pada Agustus 2014, Obama meluncuran serangan anti-terorisme di Irak dan Suriah. Namun bukti-bukti menunjukkan, alih-alih menghancurkan ISIS,

menghancurkan ISIS, AS dan sekutunya termasuk Turki, Arab Saudi dan Israel nyatanya melindungi ISIS.
Menurut laporan Mirror.uk tahun 2015, serangan kontraterorisme yang dilakukan oleh AS dan sekutunya justru membuah wilayah yang dikuasai ISIS meluas, sampai akhirnya Rusia melancarkan intervensi pada akhir September 2015. Apakah ini adalah wujud dari kebodohan atau ketidak-mampuan Angkatan Udara AS? Atau, hal ini memang disengaja untuk melindungi para teroris?

Baru-baru ini terkuak dokumen dari email Hillary Clinton yang bocor yang mengkonfirmasi bahwa AS dan sekutunya-lah yang mendung ISIS. Dan ISIS yang mereka dukung itu, diduga sebagai dalang terorisme Brussels. (LiputanIslam.com)

Penulis adalah seorang analisis politik internasional. Artikel ini diterjemahkan dari Globalresearch.ca

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL