khoiron mustafitOleh: Khoiron Mustafit*

Seringkali muncul anggapan bahwa orang yang mampu menyaring informasi hanyalah orang yang berpendidikan. Sebaliknya, orang yang tidak berpendidikan cukup, sering dipandang mudah ditipu atau dibodoh-bodohi. Namun, faktanya, di era kebebasan informasi ini banyak kita temukan orang-orang berpendidikan yang justru menjadi penyebar berita bohong.

Orang yang berpendidikan seharusnya melakukan tiga tahap berpikir, ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi, yaitu menanyakan dengan pertanyaan apa. Setelah kita melalui ontologi, kita berlanjut ke epistemologi. Epistemologi berusaha mendalami pengetahuan pertanyaan ontologi kita dengan pertanyaan pertanyaan mengapa. Ini agak berat, karena sudah pasti memerlukan minimal referensi yang cukup. Sedangkan aksiologi merupakan kelanjutan dari epistemologi dengan menggunakan pertanyaan bagaimana. Maksudnya, bagaimana sikap kita selanjutnya menindaklanjuti pengetahuan kita sebagai hasil dari pertanyaan mengapa tadi.

Jika seseorang yang berpendidikan tidak mampu melakukan ketiga tahapan itu, dan menelan bulat-bulat informasi yang didapatkannya, levelnya masih setara dengan anak kecil.  Ingatkah kita jika anak kita bertanya tentang kematian, lalu kita menjawab, semua orang akan mati. Berhentikah anak kita sampai di situ sambil manggut-manggut? Tidak kan? Dia pasti akan bertanya, kok bisa mati? Kenapa mati? Orang mati itu lalu akan ke mana? Bisa hidup lagi nggak? Kenapa nggak bisa hidup lagi? Kok itu Uje yang sudah mati hidup lagi di TV? Kalau begitu nanti papa kalau mati bisa muncul terus dong di TV kayak Uje? Dan seterusnya dan seterusnya. Pertanyaan itu akan berhenti jika dia telah puas merasa pertanyaannya terjawab. Nah, serangkaian pertanyaan anak kecil tadi itu disebut sebagai ontologi. Jadi, setelah kita bertanya apa, siapa, kapan, di mana, itu kita baru menelusuri tahap ontologi.

Setelah kita mengerti betul tentang informasi tersebut, maka kita berlanjut ke tahap epistemologi dengan bertanya mengapa. Misalnya, ada informasi bahwa PKI akan dihidupkan oleh Jokowi. Sampeyan mesti mencari tahu, mengapa isu ini bisa muncul. Apakah masuk akal PKI itu dihidupkan kembali setelah terjadi tragedi berdarah antara PKI dan ummat Islam seluruh Indonesia? Mungkinkah ummat Islam bodoh semua sehingga membiarkan ini terjadi? Mungkinkah Jokowi yang bodoh mengambil risiko begitu besar dengan menghidupkan kembali PKI di Indonesia? Apa untungnya bagi Jokowi menghidupkan PKI kembali? Dan seterusnya dan seterusnya. Cara bertanyanya harus fair dan jawabannya juga harus obyektif. Jika itu sampeyan semua lakukan, maka sampeyan sudah berada pada posisi orang yang berilmu, dan layak dikatakan sebagai orang berpendidikan.

Minat Baca Amburadul

Sayangnya, kita harus mengakui bahwa baik ontologi, epistemologi, apalagi aksiologi, itu berbanding lurus dengan minat baca. Orang dapat bertanya apa itu karena mereka mengetahui apa yang harus ditanya dan itu bisa didapat dari membaca. Berdasarkan survey UNESCO, rata-rata orang Indonesia minat bacanya rendah. Bayangkan, orang Indonesia per tahunnya hanya membaca tak sampai satu judul buku. Bandingkan dengan orang Malaysia yang menghabiskan tiga judul buku bacaaan per tahunnya. Atau orang Jepang menghabiskan sampai 10 buku per tahun per orangnya. Sementara di tingkat remaja, skor rata-rata kemampuan membaca remaja Indonesia menempati rangking 57 atau lebih rendah dari Montenegro, Yordania, dan Tunisia.

Jadi, selama ini saya salah mengira bahwa orang-orang yang gampang mengkafirkan dan menyesatkan orang itu adalah orang-orang yang tak berpendidikan. Saya kaget bukan kepalang ternyata mereka, baik di media sosial maupun kehidupan sehari-hari itu, adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi. Kenapa mereka bisa terjerumus dalam jurang takfirisme seperti itu? Jawabannya adalah karena tak pernah membaca. Kalaupun ia membaca, ia menelan bulat-bulat informasi yang dibacanya, tanpa melakukan tahapan berpikir ontologis dan epistemologis.

Yang mereka lakukan sejatinya hanya bergosip, bukan membaca. Bergosip adalah bertukar informasi yang tak jelas, dari sumber yang tak jelas, tanpa tujuan dan alur pemikiran yang jelas. Contoh bergosip adalah membicarakan tentang hukum Maulid Nabi. Yang berbicara tentang hukum maulid Nabi ini tak jelas: tak jelas pendidikannya, tak jelas referensinya, tak jelas alur logikanya, bahkan tak jelas orangnya. Ini bisa terjadi di mana saja, terutama di forum-forum facebook. Tradisi copy-paste dilakukan dalam perdebatan mengenai hukum Maulid Nabi ini, dengan ‘berguru’ pada Mbah Google.

Muslim yang rajin pembaca akhirnya melakukan prinsip orang-orang berpendidikan yang terakhir, yaitu aksiologi, mencari solusi permasalahan dengan benar. Permasalahan yang ada di masyarakat diselesaikannya dengan melakukan tindakan jihad yang benar. Dia mengerti betul bahwa jihad untuk melawan kemiskinan adalah pemberdayaan ekonomi dan literasi. Sedangkan muslim penggosip, mereka tak melakukan proses ontologi dan epistemologi, tetapi meloncat ke aksiologi. Mereka mengambil kesimpulan bahwa jihad adalah berperang mengangkat senjata, tak ada pilihan lain. Maka bergabunglah para muslim penggosip ini dengan organisasi-organisasi garis keras untuk menyalurkan nafsu kekerasan dan sadisme mereka. Indonesia yang damai ini bagi mereka bukan tempat yang baik untuk mencari pahala jihad. Satu-satunya jalan agar mereka mendapatkan kesempatan berjihad adalah membuat negara ini menjadi tidak aman.

Karena itu, tak ada jalan lain, untuk menegakkan kejayaan Islam dan merealisasikan Islam yang rahmatan lil alamin, tradisi membaca harus kembali dibangun. Mulai dari diri sendiri dan keluarga. (LiputanIslam.com)

*penulis dan spiritual trainer

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL