Prof. James Petras*

petras(Klik untuk membaca bagian pertama tulisan ini)

Berkenaan dengan dukungan Hizbullah untuk Assad, Bandar tak segan mengelontorkan uang dan persenjataan kepada Brigadir Abdullah Azzam di Lebanon untuk membombardir Beirut Selatan, kedutaan Iran dan Tripoli. Bandar mengirimkan 3 milyar dollar kepada militer Lebanon dengan gagasan mengobarkan perang saudara antara mereka dan Hizbullah. Melalui kerjasamanya bersama Perancis dan AS, namun dengan dana yang jauh lebih besar dan ruang gerak yang jauh lebih luas dalam merekrut teroris-teroris Islam, Bandar berambisi menjadi pemeran utama dan ketua pengarah serangan diplomatis  tiga front militer melawan Suriah, Hizbullah dan Iran. Bagi Bandar, pengambilalihan Suriah bertujuan untuk mendukung Al-Qaeda di Lebanon demi mengalahkan Hizbullah,   dengan harapan dapat memojokkan Iran. Setelah itu, barulah Teheran akan menjadi target dari serangan Saudi-Israel-AS. Sayang, strategi Bandar ini lebih terlihat seperti khayalan dibanding kenyataan.

Penyimpangan Bandar dari Washington: Serangan ke Irak dan Iran.

Saudi Arabia benar-benar bisa menjadi rekan yang sangat berguna namun terkadang lepas dari kontrol Washington. Hal ini terjadi terutama setelah Bandar mengambil alih pimpinan Badan Intelijen. Sebagai asset lama CIA, ia bebas untuk mengambil “hadiah” atas jasa-jasanya, terutama, saat “hadiah-hadiah” tersebut mampu menaikkan kedudukannya di dalam struktur kekuasaan Saudi. Contohnya, kemampuannya untuk membeli AWACs ((Airborne Warning and Control System), padahal ditentang oleh lembaga lobby Zionis, AIPAC, membuatnya mendapatkan beberapa penghargaan. Begitu pula kemampuan Bandar untuk memulangkan beberapa ratus keluarga ‘kerajaan’ Saudi kaitannya dengan 9/11, padahal  saat itu tengah diberlakukan pengetatan keamanan nasional AS menyusul peristiwa pemboman.

Bandar terus melangkah ke arah yang lebih serius dalam melawan kebijakan-kebijakan politik AS. Ia membangun jaringan terornya sendiri yang diarahkan untuk memaksimalkan hegemoni Saudi, meskipun bertentangan dengan sekutu, partner, maupun operasi rahasia AS.

Saat Amerika mendukung pemerintahan sayap kiri Maliki di Iraq, Bandar menyediakan dukungan politik, militer, dan keuangan kepada kelompok teroris Irak  ISIS (Islamic State of Iraq and Syria/Negara Islam Irak dan Suriah). Saat Amerika bernegoisasi melalui “perjanjian  interim ” dengan Iran, Bandar menyuarakan penentangannya dan membeli dukungan. Saudi menandatangani persetujuan pembelian senjata senilai milyaran dolar sewaktu  kunjungan Presiden Perancis Hollande, dengan imbalan sangsi yang lebih besar untuk Iran. Bandar juga mengekspresikan dukungannya bagi Israel yang menggunakan kekuatan lobby Zionisnya untuk mempengaruhi Kongres, guna menyabotase negosiasi AS dan Iran.

Bandar telah melangkah keluar dari pengabdian awalnya terhadap para pemegang intelijen Amerika. Kedekatannya dengan presiden-presiden Amerika dan Eropa serta tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam politik di masa lalu maupun sekarang telah mendorongnya untuk melakukan “petualangan Kekuasaan Besar.” Ia menemui Presiden Rusia Putin untuk meyakinkan Putin agar menghentikan dukungan padanya atas Suriah. Ia menawarkan  “sebuah wortel atau tongkat” (ganjaran atau hukuman): penjualan multi milyar senjata bila patuh, atau  ancaman untuk melepas teroris-teroris Chechnya guna menggagalkan Olimpiade Sochi bila tidak.

Ia telah merubah Erdogan dari sekutu NATO pendukung pasukan bersenjata moderat melawan Bashar Assad, menjadi backing Saudi dalam mendirikan “Negara Islam Irak dan Suriah”, sebuah afiliasi teroris Al-Qaeda. Bandar mengabaikan perilaku bermuka dua Erdogan, yang menanda tangani transaksi minyak dengan Iran dan Irak, melanjutkan kesepakatan militer dengan NATO, dan mendukung  pemerintahan  Mursi di Mesir, agar Erdogan mau membuka wilayahnya untuk dijadikan transit  para teroris yang dilatih Saudi, sebelum masuk  ke Suriah dan Lebanon.

Bandar juga menguatkan ikatan dengan kelompok bersenjata Taliban di Afghanistan dan Pakistan, mempersenjatai dan mendanai perlawanan bersenjata mereka terhadap Amerika, dan di saat yang sama menawari Amerika sebuah tempat bagi negosiasi dengan Taliban.

Bandar kemungkinan juga mempersenjatai teroris muslim Uighur ,Cina Barat, serta teroris Islam Chechens dan Caucasian di Rusia, walaupun disaat yang sama, Saudi tengah mengembangkan perjanjian minyak dengan Cina dan bekerjasama dengan Gazprom Rusia.

Satu-satunya wilayah dimana Saudi melakukan intervensi militernya secara langsung adalah di Bahrain. Tentara Saudi menyerang rakyat Bahrain yang berdemonstrasi damai menentang pemerintah zalim mereka.

Aksi Bandar Melemahkan Kerajaan Saudi

Bandar telah memulai sebuah transformasi luar biasa atas kebijakan luar negeri Saudi dan meningkatkan pengaruhnya ke seluruh dunia. Semua menjadi makin buruk. Perilaku Saudi seperti Israel: jika ada pemimpin yang memiliki kekuasaan untuk menjungkir-balikkan tatanan demokrasi, mereka akan datang dengan berkantong-kantong Dollar untuk memperkuat rezimnya. Jika ada jaringan teror yang berkeinginan untuk menumbangkan pemerintahan Nasionalis, Sekular, atau Syiah, mereka bisa mengandalkan bantuan dana dan persenjataan dari Saudi.

Sebagian penulis Barat mendeskripsikan upaya Barat membantu Saudi sebagai “upaya untuk meliberalisasi dan memodernisasi rezim Saudi yang terbelakang”. Namun sesungguhnya yang dilakukan hanyalah meng-upgrade militer Saudi sehingga mampu melakukan aktivitas terorisme lintas batas. Bandar menggunakan teknik-teknik modern dalam teror untuk memaksakan model pemerintahan ala Saudi kepada negara-negara tetangganya, maupun negara-negara lain yang berpenduduk Muslim.

Masalahnya adalah, petualangan besar lintas batas yang dilakukan Bandar memunculkan ketidaksukaan kalangan kerajaan. Mereka sebenarnya ingin dibiarkan saja untuk terus menambah pundi-pundi ratusan milyar harta hasil minyak, untuk menanam modal dalam properti kelas atas di seluruh dunia, dan untuk diam-diam menyatroni gadis-gadis panggilan kelas atas di Washington, London, dan Beirut, sambil berpura-pura menjadi penjaga saleh kota Makkah dan Madinah serta tempat-tempat suci lainnya.

Sejauh ini, Bandar masih belum ditentang terang-terangan oleh keluarga kerajaan. Hal ini karena sikapnya yang hati-hati, menunjukkan penghormatan pada penguasa kerajaan dan lingkaran di dalamnya. Ia telah membeli dan membawa para perdana menteri, presiden, dan orang-orang terhormat ke Riyadh untuk menandatangani berbagai perjanjian dan mempersembahkan pujian-pujian demi menyenangkan penguasa.

Namun bagaimanapun, perilaku membabi buta Bandar untuk meluaskan operasi Al-Qaeda, dorongannya pada ekstrimis-ekstrimis Saudi untuk keluar dan terlibat dalam perang-perang teroris, meresahkan lingkaran kerajaan. Mereka khawatir jikalau teroris-teroris  berpengatahuan, terlatih, dan bersenjata Saudi yang dijuluki “pejuang-pejuang suci” itu nantinya kembali dari Suriah, Rusia, Irak dan kemudian mengebom istana Raja. Kerajaan juga mengkhawatirkan aksi balas dendam pemerintahan-pemerintahan luar negeri yang jadi target jaringan teror Bandar, seperti Rusia, Iran, Suriah, Mesir, Pakistan, atau Irak.

Selain dari ratusan milyar yang dihabiskan untuk pembelian senjata, rezim Saudi juga sangat rentan di segala level. Terlepas dari legiun-legiun kesukuan, para milyuner elit hanya memiliki sedikit legitimasi serta dukungan. Mereka bergantung pada buruh migran, konsultan asing dan angkatan bersenjata Amerika. Para elit Saudi ini juga dibenci oleh ulama Wahabi paling relijius karena mengizinkan “orang-orang kafir” memasuki daerah suci. Saat Bandar meluaskan kekuasaan Saudi ke luar negeri, pondasi pemerintahan di dalam negeri justru menyempit. Ia menentang pembuat kebijakan Amerika di Suriah, Iran, dan Afghanistan, ketika kerajaan Saudi masih bergantung pada Angkatan Udara AS dan Seventh Fleet untuk melindungi mereka dari musuh.

Bandar dengan egonya seolah merasa bahwa ia adalah Salahudin yang tengah membangun sebuah dinasti Islam yang baru. Padahal pada kenyataannya, dengan mengibaskan satu jari, kerajaan bisa langsung memecatnya. Pengeboman-pengeboman yang dilakukan oleh teroris-teroris penerima bantuan Bandar dapat mengarah pada krisis internasional yang akan menjadikan Saudi sebagai target ejekan dunia.

Pada kenyataannya, Bandar bin Sultan adalah anak didik dan penerus dari Bin Laden; ia telah mendalami dan mensistematisasi terorisme global. Jaringan teror Bandar telah membunuh lebih banyak korban tak bersalah daripada Bin Laden. Ini tentu saja tidak mengherankan, karena dia memiliki dana milyaran dolar dari harta karun Saudi, mendapatkan pelatihan dari CIA, dan jabat tangan dari Netanyahu! (lb/LiputanIslam.com)

 

*James Petras adalah profesor (em) dari Binghamton University, AS. Salah satu bukunya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, “The Power of Israel in USA”. Artikel ‘Jaringan Teror Bandar bin Sultan’ diterjemahkan dari artikel asli di The Global Research.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL