ToniOleh: Tony Cartalucci*

Sebagaimana yang telah diprediksi dalam laporan sebelumnya, teroris yang terlibat dalam serangan di Paris — yang menewaskan lebih dari 100 orang, dan ratusan lainnya menderita luka-luka, ternyata telah diketahui keberadaannya oleh otoritas keamanan Perancis sebelum terjadinya serangan.

Daily Mail melaporkan, “Hunt for the Isis killers, seorang teroris diidentifikasi sebagai pemuda Perancis yang dikenal pihak berwajib — dan 2 orang pelaku serangan ditemukan dengan paspor Mesir dan Suriah.”

Salah satu teroris yang terlibat dalam serangan adalah seorang warga Paris, sebagaimana dilaporkan media setempat. Pria tersebut, yang tewas di Bataclan, diidentifikasi dengan menggunakan sidik jari dan berasal dari Paris kawasan selatan, berusia sekitar 30 tahun, dan otoritas anti-teroris Perancis sesungguhnya telah mengetahui si pelaku.

Peristiwa ini memiliki kemiripan dengan kasus Charlie Hebdo, yang telah menewaskan 12 orang dan terungkap bahwa otoritas keamanan Paris telah mengetahui si peaku satu dekade sebelumnya. Si pelaku pernah ditangkap dua kali, kemudian dipenjara sekali. Diketahui pula, dua diantaranya pernah dilatih di luar negeri — kemungkinan besar di Suriah, sebelum akhirnya mereka kembali ke Perancis. Yang mencengangkan, pihak keamanan Perancis tidak pernah melakukan tindakan terhadap teroris, sebaliknya, setelah satu dekade melakukan pelacakan, mereka akhirnya menutup kasus, dan membiarkan teroris menyusun rencana penyerangan.

Begitulah, sebagaimana Charlie Hebdo, otoritas keamanan Perancis telah mengetahui keberadaan ekstremis tetapi gagal menghentikan mereka melakukan serangan mematikan. Bahkan dengan ditingkatkannya pengawasan keamanan sebagaimana yang diinstruksikan undang-undang, ternyata tidak berpengaruh apapun bagi teroris tersebut. Sepertinya, pemerintah Perancis tidak benar-benar berusaha untuk menghentikan teroris.

Masalah ini bukanlah semata-mata masalah hukum imigrasi. Ada orang yang berbahaya di Perancis, mereka sudah dilacak oleh pihak keamanan. Masalahnya juga bukanlah Suriah. Teroris yang bertempur di Suriah, memiliki skill dan affiliasi yang mematikan sebelum mereka kembali ke Perancis – dan sekali lagi harap dicatat — keberadaan mereka diketahui oleh otoritas keamanan Perancis. Yang menjadi masalah adalah otoritas keamanan Perancis tidak melakukan apapun. Bagaimana teroris tersebut hidup, bekerja, atau bagaimana mereka menciptakan agenda di masyarakat Perancis.

Dalam beberapa jam mendatang, pemerintah Perancis dan sekutunya dalam proxy war memerangi Suriah akan merancang rencana, mereka akan beraksi dan mengklaim aksi tersebut bertujuan untuk membendung ancaman teroris di Perancis dan Eropa. Tetapi faktanya, masalah teroris ini bukanlah masalah yang bisa diselesaikan oleh pemerintah Perancis, karena yang bermasalah sebenarnya adalah pemerintah Perancis itu sendiri.

ISIS di Balik Terorisme Perancis, Lalu, Siapa di Balik ISIS?

Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), mengakui sebagai pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya serangan tersebut. Pertanyaannya sekarang adalah, siapa dibalik ISIS? Sementara Barat berusaha ‘mempertahankan’ image teroris ISIS sebagai organisasi yang memiliki kekuatan mitologis (yang seakan-akan begitu hebatnya) — yang bisa melakukan terorisme — memerangi Suriah, Irak, Hizbullah yang didukung oleh Iran dan Rusia. Teroris ini melakukan serangan dalam skala besar, maka, jelas sudah bahwa ISIS menerima dukungan multinasional.

Kemunculan ISIS terungkap di awal 2007 dalam wawancara yang dilakukan oleh Pulitzer Prize, dalam laporan ‘The Redirection”. Wawancara ini mengungkapkan rencana untuk mendestabilisasi pemerintah di Suriah dengan menggunakan ekstremis sekterian, atau yang lebih spesifik lagi, dengan senjata dan dana yang berasal dari Arab Saudi.

Departement of Intelligence Agency (DIA) melaporkan pada tahun 2012,

“Bila situasi diuraikan, maka ada kemungkinan untuk mencanangkan atau mendeklarasikan prinsip-prinsip Salafi di kawasan timur Suriah (Hasaka dan Der Zor) dan hal ini akan mendukung kekuatan pihak oposisi, dalam upaya untuk mengisolasi rezim Suriah, yang telah mempertimbangkan strategi ekspansi Syiah (Irak dan Iran).”

Laporan DIA menyatakan bahwa ‘kekuatan pendukung’ yang akan terjun mendestabilisasi Suriah adalah: Barat, negara-negara Teluk, dan Turki (yang mendukung pihak oposisi), sementara Rusia, China dan Iran mendukung rezim Suriah.

Dan hari ini, dengan memperhatikan peta teritorial yang dikuasai oleh berbagai faksi dalam konflik Suriah, jelas bahwa ISIS bukanlah ‘negara’, melainkan bentuk dari invansi berkelanjutan yang berasal dari Turki (negara anggota NATO), yang berbatasan dengan kota Suriah Ad-Dana dan berada di tepi barat Sungai Eufrat.

Faktanya, Barat dan sekutunya menunjukkan keputusasaan untuk menumbangkan pemerintah Suriah, apalagi, setelah Rusia juga hadir memberikan dukungan militer untuk Suriah. Dan kondisi ini berbanding lurus dengan wilayah kontrol ISIS yang kian menyusut.

Minggu lalu, pasukan Suriah berhasil merebut pangkalan Kwaires yang telah dikuasai ISIS selama dua tahun. Pangkalan ini hanya berjarak 20 mil dari Sungai Eufrat, dan pasukan Suriah yang didukung Rusia sedang menuju perbatasan antara Suriah dan Turki, dan operasi militer ini diprediksi akan semakin mengurangi wilayah kontrol ISIS.

Jika garis suplai untuk ISIS (logistik, senjata, pengobatan –red) di potong di utara, maka pertempuran akan terhenti (dengan kekalahan ISIS). Maka, pintu masuk bagi Barat untuk melakukan ‘pergantian rezim’ di Suriah akan tertutup. Dan mungkin, itulah penyebabnya Perancis akhirnya bersedia menumpahkan darah rakyatnya sendiri, untuk mencegah terjadinya perdamaian di Suriah.

Faktanya, Perancis mengetahui pelaku penyerangan Charlie Hebdo, dan mereka juga mengetahui pelaku penyerangan di Paris sebelum terjadinya serangan. Dan mereka mengetahui bahwa teroris tengah menunggu waktu untuk menyerang. Dengan semua pengetahuan ini, mereka tidak bergerak melakukan pencegahan. Lebih-lebih, dibandingkan menjaga agar Perancis tetap aman, pemerintah Perancis menggunakan informasi ini sebagai senjata untuk mereka sendiri, untuk melawan persepsi masyarakat dengan tujuan memuluskan agenda geopolitik Perancis di luar negeri.

Jika rakyat Perancis ingin membalas pihak yang bertanggung jawab dalam serangan ini dengan memerangi teroris yang menyerang perbatasan negara mereka, maka begini caranya: rakyat Perancis bisa memulai dengan mengetahui siapa yang telah mengetahui akan ada serangan tapi tidak melakukan apapun untuk menghentikannya — dan kebetulannya lagi, mereka-lah yang membantu perkembangan ISIS sampai hari ini.

—–

*Tony Cartalucci adalah analis politik yang selama ini aktif mengungkap berbagai skenario AS dan Zionis di Timteng dan dunia. Tulisan ini diterjemahkan dari http://www.globalresearch.ca/confirmed-french-government-knew-extremists-before-paris-terrorist-attack/5489043

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL