Oleh: Husein Muhammad Alkaf*

LiputanIslam.com —Ada pepatah Arab yang menyebutkan bahwa dunia ini penuh dengan peristiwa dan tindakan manusia yang membuat kita menangis sekaligus tertawa (al-mubkiyat wa al-mudhhikat). Sikap Arab Saudi terhadap kelompok ISIS adalah salah satu ironisme itu. Arab Saudi (dan Amerika) akhir-akhir ini menunjukkan diri sebagai pihak terdepan dalam memerangi ISIS dan saudara-saudaranya: Front Nushrah, Al-Qaidah, Anshar Al-Tawhid, Anshar Al-Sunnah, dan lainnya.

Arab Saudi menyatakan bahwa kelakuan ISIS telah mencoreng ajaran Wahhabi. Padahal, Dunia sudah memahami dengan baik bahwa paham keislaman yang dianut oleh Arab Saudi dan ISIS beserta saudara-saudaranya itu adalah paham Wahhabi, sebuah paham yang intoleran dan anti pluralitas mazhab dan agama.

Karena merasa tercoreng dengan tingkah kelompok-kelompok teroris , Arab Saudi berusaha untuk membersihkan dirinya dari mereka. Karena itu, Arab Saudi bergabung dengan Amerika dalam memerangi ISIS di Irak dan Suriah. Boleh jadi, salah satu tujuan dari kunjungan Raja Salman ke Indonesia adalah menghilangkan kesan yang kuat di tengah masyarakat Indonesia bahwa Wahhabi adalah paham agama yang puritan, kaku, intoleran dan anti pluralitas. Demi tujuan itu, Raja Salman memilih berlibur di Bali, bersalaman dengan wanita non-muhrim, memakai jubah hingga melebihi mata kaki (tidak cingkrang) dan tidak membiarkan janggutnya panjang. Semua yang dia lakukan itu bertentangan dengan syariat Islam ala Wahhabi ( atau barangkali di Arab Saudi, syariat Islam tidak berlaku bagi Raja dan para amirnya).

Para petinggi dan ulama Arab Saudi mungkin lupa atau pura-pura lupa bahwa kelompok-kelompok teroris yang mengancam kemanusiaan dan peradaban itu adalah hasil karya pendiri kerajaan Arab Saudi. Mereka lahir dari rahim paham agama resmi kerajaan Arab Saudi. Sulit untuk dibedakan, apakah Arab Saudi yang mengingkari anak kandungnya sendiri karena malu dengan perselingkuhannya dengan Zionis yang melahirkan kelompok-kelompok teroris, atau kelompok teroris itulah yang durhaka terhadap ibu kandung yang telah melahirkan mereka, karena tidak mendapatkan jatah kekuasaan.

Para petinggi dan ulama Arab Saudi lupa atau pura-pura lupa bahwa yang dilakukan oleh kelompok-kelompok teroris di Irak dan Suriah sama dengan yang pernah dilakukan oleh leluhur mereka dari keluarga Saud dan Muhammad bin Abdul Wahhab pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas (baca: http://ikmalonline.com/wahhabi-sebuah-metamorfosis-gagal-dari-ahlu-hadis-bag-3terakhir).

Terdapat dua hal yang menunjukan kesamaan antara kerajaan Arab Saudi dan kelompok-kelompok teroris.

Paham Keagamaan yang Ekstrim

Kesamaan pertama Saudi dan ISIS ada pada paham keagamaan mereka. ISIS dan saudara-saudaranya adalah kelompok penganut paham penafian (ilgha’) terhadap paham yang lain, atau yang biasa disebut dengan takfiri, sebuah paham yang menyatakan bahwa paham lain yang tidak sama dengannya dianggap sesat, kafir, dan murtad. Praktek-praktek keagamaan yang menurut mereka menyimpang dianggap sebagai perbuatan musyrik, seperti ziarah kubur, membaca zikir, solawat berjamaah, dan lainnya. Lebih dari itu, mereka mengganggap orang-orang dan kelompok Islam yang tidak sejalan dengan pemahaman mereka sebagai kafir dan musyrik. Kita semua tahu bahwa paham keagamaan resmi Arab Saudi adalah Wahhabi yang bercirikan seperti paham mereka tadi (baca: http://ikmalonline.com/wahhabi-sebuah-metamorfosis-gagal-dari-ahlu-hadis).

Perhatikanlah, bagaimana para jamaah Haji dan Umrah ketika berziarah ke kuburan Nabi SAW  dan menyentuh kerangka besi makam beliau akan segera dihardik dan dibentak dengan kata-kata musyrik, haram dan bid’ah oleh para muthawwi’ dengan cara yang kasar.

Gerakan Dakwah Radikal

ISIS berdiri dan berkembang di atas teritorial yang dikuasai oleh mereka dengan cara perampasan. Wilayah Aleppo di Suria dan Mousul di Irak  yang secara de facto dan de jure berada dalam kekuasaan dua negara tersebut diakui oleh ISIS secara semena-mena sebagai  wilayah kekuasaannya.

Di wilayah tersebut, sebagaimana yang diketahui secara luas, mereka memaksa penduduk dua wilayah itu untuk mengikuti paham keagamaan mereka. Mereka tidak segan-segan membunuh dan membantai orang-orang yang tidak menerima paham mereka, seperti kelompok Muslim Sunni, Muslim Syiah dan Umat Kristiani.

Dengan mengatasnamakan pemurnian agama Islam, mereka menghancurkan kuburan orang yang disucikan oleh penduduk setempat (kuburan Nabi Yunus di Mousul, kuburan sahabat Ammar bin Yasir di Damaskus dan lainnya). Gereja kaum Kristiani pun tidak luput dari penghancuran.

Sama dengan ISIS, Dinasti Arab Saudi juga didirikan di jazirah Arab dengan perang dan perampasan. Saudi juga tercatat dalam sejarah melakukan pembantaian terhadap penganut paham lain dan penghancuran situs-situs sejarah yang dimuliakan oleh kaum Muslimin. Sejarah mencatat, bagaimana ketika mereka masuk ke Mekkah pada 1806 dengan memerangi penduduknya dan  menghancurkan puluhan kubah di Ma’la, antara lain kubah tempat kelahiran Nabi SAW, kubah Siti Khadijah, dan masjid Abdullah bin Abbas. Mereka juga melakukan hal sama terhadap situs-situs sejarah yang ada di Madinah seperti  kubah-kubah yang berada di pemakaman Baqi’ dan Uhud. Semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit. Kalaulah tidak karena protes dari umat Islam dunia, maka makam Nabi pun akan dihancurkan.

Kalau Saja Dulu Ada Medsos

Sejarah terulang kembali. Sang anak kandung mengulangi atau menyempurnakan apa yang telah dilakukan oleh ibu kandungnya. Namun yang membedakan keduanya adalah bahwa Kerajaan Arab Saudi berdiri saat media informasi belum secanggih dan seluas saat ini sehingga hanya sedikit dari kaum Muslimin yang mengetahui sejarah mereka. Akibatnya, kaum Muslimin pada umumnya menganggap bahwa Arab Saudi adalah lanjutan dari kekuasaan Islam jaman dahulu sehingga mereka menganggap bahwa paham Islam di sana adalah representasi dari Islam yang asli.

Sementara ISIS dan saudara-saudaranya muncul saat media massa sudah maju dan berkembang pesat, sehingga keburukan mereka mudah dilihat oleh dunia. Faktor keberuntungan saja yang berpihak ke Arab Saudi sehingga kekejaman dan keburukan luput dari dari pantauan umum. Padahal keduanya sama.

Kalau saja dulu, saat Arab Saudi muncul, sudah ada medsos, bisa dipastikan bahwa warga dunia akan memandang dinasti ini dengan cara berbeda. Dan mungkin dunia Islam tidak akan seperti sekarang ini.

*Penulis adalah anggota Ikatan Alumni Jamiah Al-Mustafa (IKMAL)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL